Rabu, 22 November 2023 08:17 WIB

Mengenal Kondisi Drop Foot dan Cara Menanganinya

Responsive image
1462
Fajar Tri Purnama, S,Kep.,Ns - RS Ortopedi Prof.Dr.R.Soeharso Surakarta

Drop foot adalah ketidakmampuan untuk mengangkat bagian depan kaki. Hal ini menyebabkan jari kaki menyeret di tanah saat berjalan. Untuk menghindari menyeret jari-jari kaki, orang dengan drop foot akan mengangkat lutut lebih tinggi, atau akan mengayunkan kaki mereka dengan lebih lebar. Hal ini dapat menyerang pada usia berapapun. Secara umum, drop foot berasal dari kelemahan atau kelumpuhan dari otot-otot untuk mengangkat kaki.

Drop foot biasanya terjadi sebagai akibat dari gangguan pada saraf peroneal atau saraf pengontrol otot-otot yang menggerakkan kaki, mengangkat kaki, dan menekuk kaki ke arah dorsal. Drop foot sendiri dapat dipengaruhi oleh beberapa kondisi medis. Kondisi medis ini bukanlah suatu penyakit, melainkan hanya tanda dari suatu penyakit saraf, masalah otot, atau gangguan pada anatomi tubuh yang mendasarinya. Kondisi ini bisa berlangsung sementara, namun juga berisiko menjadi kondisi permanen, tergantung pada penyebab yang mendasarinya.

Kondisi ini biasanya hanya memengaruhi satu kaki, tetapi pada kondisi tertentu dapat terjadi pada kedua kaki. Drop foot bisa bersifat sementara atau permanen tergantung dari penyebabnya. Penderita drop foot memerlukan brace atau penyangga untuk tumit dan kaki untuk menyangga kakinya agar tetap berada pada posisi normal dan tidak terkulai.

<!--[if gte vml 1]> <![endif]-->

Penyebab Drop Foot

Berbagai kondisi medis yang dapat mendasari terjadinya drop foot adalah sebagai berikut:

·         Cedera saraf

Penyebab utama kondisi ini adalah cedera atau kerusakan pada saraf. Cedera ini berupa kompresi pada nervus peroneus communis, yaitu saraf yang mengontrol otot untuk mengangkat kaki. Selain itu, kerusakan saraf yang terkait dengan diabetes (neuropati) juga bisa menjadi penyebab drop foot. Kemudian cedera akar saraf (pinched nerve ) pada tulang belakang juga dapat menyebabkan kondisi kaki ini. 

·         Gangguan otot atau saraf

Berbagai bentuk distrofi otot serta penyakit bawaan yang menyebabkan kelemahan otot progresif bisa menyebabkan kondisi ini. Selain itu, kondisi ini juga bisa terjadi akibat penyakit saraf motorik, terutama spinal muscular atrophy yang umum menyerang anak-anak. Kelainan lain seperti polio atau Charcot-Marie-Tooth disease juga bisa menyebabkan kondisi kaki ini pada seseorang.

·         Kelainan otak dan sumsum tulang belakang

Kelainan yang memengaruhi otak dan sumsum tulang belakang juga bisa menjadi penyebab kondisi drop foot seperti amyotrophic lateral sclerosis (ALS), multiple sclerosis, stroke, atau cerebral palsy. Selain itu, penyakit degeneratif yang memengaruhi otak juga dapat menjadi penyebab seperti penyakit Alzheimer dan penyakit Parkinson.

Gejala Drop Foot

Gejala drop foot bisa muncul pada satu atau kedua kaki. Beberapa keluhan yang terjadi akibat drop foot adalah sulit mengangkat kaki bagian depan, sehingga tampak seperti menyeret kaki saat berjalan. Kemudian adanya Steppage gait, yakni mengangkat kaki bagian depan lebih tinggi dengan tujuan membantu kaki depan terangkat, sehingga penderitanya tampak seperti sedang menaiki tangga. Selanjutnya adanya sensasi kebas dan mati rasa pada kulit di area kaki atau ibu jari kaki karena steppage gait berulang, sehingga menekan kulit pada area tersebut.

Diagnosis Drop Foot

Sebelum menegakkan diagnosis, terlebih dahulu dilakukan anamnesis atau wawancara medis dengan pasien untuk mengetahui gejala serta riwayat penyakit pasien dan pemeriksaan fisik untuk mengamati cara berjalan, tekanan darah, suhu tubuh, laju napas dan nadi, perubahan pada bentuk kaki, kemampuan gerak kaki, respon kaki terhadap rangsangan, serta memeriksa apakah terdapat luka, memar, atau pembengkakan pada kaki pasien. Hal ini bertujuan untuk mencari tahu otot kaki mana yang mengalami kelemahan. Selain itu, pada pemeriksaan fisik juga akan dilihat apakah ada perubahan sensasi pada kaki, misalnya apakah pasien merasakan sensasi kebas dan mati rasa pada tulang kering dan jari-jari kaki.

Setelah menjalani pemeriksaan fisik, biasanya dokter akan meminta pasien menjalani beberapa tes tambahan untuk mencari tahu penyebab dari gejala drop foot seperti Rontgen sinar-X, USG, Computerized tomography (CT scan), Magnetic resonance imaging (MRI), Electromyography (EMG) dan studi konduksi saraf.

Cara Menyembuhkan Drop Foot

Penatalaksanaan drop foot meliputi fisioterapi, terapi non farmakologis, alat orthotik, terapi medik dengan obat-obatan, stimulasi saraf tepi, dan pembedahan. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk memperbaiki mobilitas dan mencegah deformitas adalah:

·         Pemberian posisi yang benar untuk mencegah penekanan

·         Penggunaan papan kaki untuk mencegah drop foot

·         Melakukan Latihan rentang gerak pasif dan aktif

·         Pengubahan posisi tidur pasien setiap 2 jam

Pasien direkomendasikan untuk dilakukan intervensi dengan alat penahan tumit setelah minimal imobilitas selama 6 jam sampai 24 jam untuk mencegah kontraktur plantar-fleksi. Pencegahan secara keseluruhan mencakup intervensi berikut:

·         Latihan rentang gerak pergelangan kaki (ROM) sebaiknya dilakukan dua kali sehari.

·         Ambulasi dini dengan feet flat penting bagi semua pasien.

·         Angkle Foot Orthosis (AFO) tidak boleh digunakan di tempat tidur – hanya digunakan untuk berjalan, dan saat digunakan area tumit dan tendon harus diawasi secara ketat.

·         Terapi Fisik harus dengan peregangan, penguatan, pelatihan gaya berjalan dengan terapi manual, stimulasi listrik, sesuai kebutuhan.

·         Pengurangan area tekanan pada tumit

·         Untuk mencegah ulkus dekubitus pada tumit, gunakan bantal di bawah tungkai bawah selama < 6>

·         Pelindung yang terbuat dari busa telah terbukti mengurangi gesekan namun tidak mencegah tekanan

 

 

Referensi :

1. Jurnal yang berjudul “Case Series: Management of Foot Drop”

Disusun oleh                      : Isaac Olusayo Amole, Stephen Adesope Adesina, Adewumi Ojeniyi Durodola and Samuel Uwale Eyesan

Alamat web                        : https://www.researchgate.net/publication/338044002_Case_Series_Management_of_Foot_Drop

2. Jurnal yang berjudul “Concepts in Foot Drop Management- Review of the Current Literature”

Disusun oleh                      : Bassel El-Osta* and Rachel Wilson

Alamat web                        : https://www.researchgate.net/publication/336154132_Concepts_in_Foot_Drop_Management-_Review_of_the_Current_Literature

3. https://www.orchardhealthclinic.com/wp-content/uploads/2020/09/footdrop-e1464906348459-960x621-1.jpg.webp

4. https://kliniktulangbelakang.com/wp-content/uploads/2023/03/Screen-Shot-2023-03-25-at-15.03.03.png

5. https://kliniktulangbelakang.com/wp-content/uploads/2023/03/Ankle-Dor.jpg

6. https://www.husadautamahospital.com/images/artikel-199-03.jpg