Rabu, 03 Agustus 2022 12:45 WIB

Efek Jangka Panjang “Malas Gerak” Bagi Kesehatan

Responsive image
10362
Sri Mardilah Wuryani, S.Kep.,Ners - RSUP dr. Sardjito Yogyakarta

Apa itu gaya hidup ”MAGER”?

     Malas bergerak dalam dunia medis disebut Sedentary Lifestyle, sebuah kondisi dimana seseorang tidak aktif secara fisik, seperti sering rebahan dan jarang bergerak. Istilah ini lebih akrab dikenal dengan istilah “mager”. Seiring dengan canggihnya teknologi saat ini, membuat banyak hal terasa lebih praktis dan saat ini menjadi kebiasaan banyak orang. Apalagi ditambah dengan situasi pandemi Covid-19. Masyarakat hanya bermodal ponsel dan kuota yang cukup dapat melakukan berbagai hal dengan mudah tanpa repot harus keluar rumah. Kegiatan pendidikan, pekerjaan tertentu yang sebelumnya dilakukan secara offline/luring beralih menjadi daring. Tersedianya layanan pesan antar, mau antar barang bisa memanfaatkan jasa dari aplikasi, bahkan kita juga sudah bisa mengakses perbankan dan melakukan pembayaran secara daring menjadikan orang semakin jarang keluar rumah. Kondisi ini tentunya membuat masalah apabila terjadi secara berkepanjangan dan tidak diantisipasi dengan baik.

     Malas gerak adalah kebiasaan yang perlu diubah. Tetapi bagi beberapa orang sudah merasakan nyaman dan menjadi kebiasaan yang sulit diubah. Perlu kita ketahui bahwa akibat gaya hidup mager tidak dirasakan secara langsung tetapi baru akan mulai terasa bertahun-tahun setelah menjalani rutinitas ini. Menurut  WHO, gaya hidup sedentari adalah salah satu dari 10 penyebab kematian terbanyak di dunia. European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition (EPIC) pada tahun 2008 melaporkan bahwa kematian akibat kebiasaan malas gerak jumlahnya dua kali lebih banyak dibandingkan kematian karena obesitas. Risiko mengalami lebih banyak masalah kesehatan akan lebih meningkat apabila diikuti dengan pola makan yang tidak seimbang dan kebiasaan tidak sehat seperti merokok atau minum alkohol.

Berbagai bahaya kesehatan akibat malas gerak antara lain :

1.     Konsentrasi menurun

Pada saat bekerja sambil duduk lama membungkuk atau melengkung menjadikan tulang belakang jadi tegang. Paru tidak mendapat ruang cukup untuk mengembang optimal sehingga kadar oksigen yang bisa diedarkan ke seluruh tubuh lebih sedikit, sirkulasi juga akan terganggu jika kurang bergerak. Kurangnya oksigen yang diterima otak bisa menyebabkan turunnya konsentrasi.

2.    Meningkatkan risiko stroke dan serangan jantungSebuah studi di Amerika Serikat yang dilakukan oleh Aerobics Research Center menunjukkan bahwa aktivitas fisik mampu mengurangi risiko stroke pada pria hingga sebesar 60%. Studi lain yang diterbitkan dalam Nurses’ Health Study menyatakan bahwa wanita yang cukup beraktivitas fisik memiliki peluang terhindar dari stroke dan serangan jantung sebesar 50%. Ini menunjukkan bahwa pada individu yang

kurang aktifitas, terlalu sering duduk memiliki risiko cukup besar mengalami stroke.

3.     Gangguan fungsi kognitif

Aktivitas fisik mampu merangsang aliran darah kaya oksigen ke otak dan memperbaiki sel dan jaringan otak yang mulai mengalami degenerasi. Kurangnya aktivitas fisik menyebabkan fungsi otak menurun sehingga dalam jangka panjang dapat mengakibatkan gangguan fungsi kognitif.

4.     Resistensi insulin

Apabila kita menghabiskan kira-kira 70% dari waktu seharian dengan duduk dan tiduran, maka akan berisiko mengalami resistensi insulin. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya kadar gula dalam darah sehingga berpeluang terserang diabetes. Apalagi pada saat duduk atau tiduran, orang-orang cenderung mencari camilan yang kurang sehat. Camilan tersebut bisa jadi mengandung gula tinggi, sehingga menambah resiko terjadinya diabetes.

5.      Memicu osteoporosis

Kebiasaan malas gerak akan membuat tubuh kehilangan massa otot sehingga otot akan lemah. Selain itu tubuh juga akan mengambil kalsium tulang. Kepadatan tulang akan berkurang drastis. Jika dibiarkan, mengakibatkan tulang keropos atau yang biasa disebut dengan osteoporosis. Pergeseran penyakit osteoporosis pun tak hanya dialami oleh orang tua saja, namun kaum yang lebih muda pun bisa mudah terkena osteoporosis.

      Apakah anda merasakan keluhan-keluhan yang tersebut di atas? Apakah selama ini anda terbiasa malas gerak? Ingat efeknya. Mari kita lawan rasa malas, mulai bergerak, lakukan peregangan di sela pekerjaan kita, lakukan senam ringan sebisanya. Mari berusaha hidup lebih sehat. Tetap semangat, jadikan hidup kita tetap bermanfaat bagi orang lain. Salam sehat untuk semua.

Referensi :

Dian Afrilia, , Dampak Buruk Kebiasaan Rebahan dan Mager Bagi Kesehatan, publikasi tanggal 2 mei 2021 tersedia dalam :

 https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/05/02/dampak-buruk-kebiasaan-rebahan-dan-mager-bagi-kesehatan

 Arini Anindyaputri, Malas  Gerak, Salah Satu  Penyebab  Kematian Terbanyak di Dunia

Publikasi tanggal 4 Januari 2021 tersedia dalam https://hellosehat.com/sehat/informasi-kesehatan/bahaya-malas-gerak/

Kannia Nur Haida Komara Sering Mager di Usia Muda? Hati-hati Penyakit Fatal Membayangi!, publikasi tanggal 16 Oktober 2021, tersedia dalam:

https://www.pikiran-rakyat.com/g

aya-hidup/pr-012813764/sering-mager-di-usia-muda-hati-hati-penyakit-fatal-membayangi?