Senin, 12 Februari 2024 16:02 WIB

Apa yang Disebut dengan Gangguan Musculoskeletal?

Responsive image
938
Promosi Kesehatan, Tim Kerja Hukum dan Humas RSST - RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

Gangguan musculoskeletal dapat disebabkan cedera (trauma mekanis), gangguan metabolik, penuaan (degeneratif), gangguan autoimun, infeksi maupun idiopatik (tidak diketahui penyebabnya). Gangguan akibat cedera dapat diakibatkan oleh benturan dari luar atau dapat pula disebabkan oleh pengunaan sendi yang berlebihan. Gangguan musculoskeletal diakibatkan oleh cedera yang dapat diklarifikasikan menjadi tiga tahap, yakni tahap akut, subakut, dan kronis. Tahap akut merupakan tahap dimana gangguan musculoskeletal mulai terjadi dan tanda-tanda radang sudah mulai menurun akan tetapi masih belum mencapai pemulihan yang optimal. Gangguan muskuloskeletal merupakan cedera atau gangguan pada otot, saraf, tendon, sendi, tulang, tulang rawan, dan struktur lainnya yang mendukung tungkai, leher, dan punggung yang disebabkan, atau diperburuk oleh pengerahan tenaga yang tiba-tiba atau paparan yang terlalu lama dengan berbagai faktor risiko fisik dalam pekerjaan. Definisi ini secara khusus mengecualikan kondisi seperti patah tulang, memar, lecet, dan luka akibat kontak fisik yang tiba-tiba dengan objek eksternal. Keluhan gangguan muskuloskeletal yang umumnya dirasakan adalah nyeri. Nyeri yang dirasakan dapat tumpul, tajam atau panas. Keluhan dapat disertai kekakuan sendi dan otot, kemerahan dan pembengkakan pada daerah yang terkena, kesemutan, mati rasa, perubahan warna kulit, dan penurunan keringat. Penderita juga dapat mengalami hilangnya fungsi otot, kelemahan, kehilangan koordinasi, jangkauan pergerakan sendi berkurang, serta ketidaknyamanan ketika melakukan gerakan tertentu. Gangguan muskuloskeletal bersifat episodik, rasa sakit sering reda atau menghilang, tapi kemudian muncul kembali.

Faktor Risiko

Faktor risiko meningkatkan potensi terjadinya gangguan musculoskeletal antara lain adalah sebagai berikut :

1.    Faktor Latihan atau Kerja (Ergonomis)

Hal ini disebabkan oleh penggunakan intensitas, frekuensi, durasi dan jenis latihan yang tidak sesuai dengan keadaan fisik seseorang maupun kaidah kesehatan. Posisi kerja yang kurang ergonomis saat melakukan aktifitas juga berkontribusi pada terjadinya gangguan musculoskeletal.

2.    Faktor Kelainan Struktural

Kelainan struktural dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan musculoskeletal kerena pada keadaan ini terjadi tekanan yang tidak semestinya pada bagian tubuh tertentu.

3.    Faktor Kelemahan Otot, Tulang, Tendon dan Ligamen

Jika mendapatkan tekanan yang lebih besar daripada kekuatan alaminya, maka otot, tendon dan ligament dapat mengalami robekan. Gangguan musculoskeletal akan lebih berisiko terjadi jika otot dan ligament yang menyongkongnya lemah.

4.    Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan meliputii kualitas manajemen risiko latihan, pertandingan, maupun, pengelolaan risiko kerja. Hal ini mempengaruhi risiko kecelakaan pada saat berlatih maupun saat bekerja sehingga merupakan salah satu faktor risiko gangguan musculoskeletal.

5.    Faktor Genetik, Imunitas, dan Metabolik

Proses autoimun atau metabolik yang terjadi pada orang-orang tertentu yang dapat mengakibatkan kerusakan progresif pada musculoskeletal.

Jenis Gangguan Musculoskeletal

Gangguan musculoskeletal dapat ditimbulkan sebagai akibat trauma, proses degeneratif maupun gangguan khusus yang diakibatkan oleh gagguan metabolik, kelainan pada fase pertumbuhan, infeksi, gangguan metabolik dan autoimun. Gangguan ini dapat terjadi pada tulang, sendi maupun otot. Berikut ini adalah beberapa gangguan musculoskeletal yang dapat terjadi seperti :

1.      Trauma

2.      Gangguan degeneratif sistem musculoskeletal

3.      Gangguan khusus pada tulang

4.      Gangguan khusus pada sendi

5.      Gangguan khusus pada otot

Pemulihan Gangguan Musculoskeletal

Setelah terjadi cedera atau gangguan musculoskeletal lain, akan terjadi proses penyembuhan melalui beberapa tahap fase. Waktu penyembuhan tergantung pada individu, tingkat cedera, usia, status kesehatan secara keseluruhan. Fisioterapi dalam hal ini membantu memfasilitasi penyembuhan yang lebih cepat serta menurunkan risiko cedera ulang, nyeri kronis, dan disfungsi.

Penyembuhan pada dasarnya merupakan penggantian jaringan yang rusak dengan jaringan hidup di dalam tubuh. Proses ini terdiri atas dua bagian,yakni regenerasi dan repair / perbaikan. Namun tidak ada batasan yang jelas antar tahap karena respons penyembuhan luka “bertransisi” ke tahap penyembuhan berikutnya. Selama fase regenerasi, jaringan khusus digantikan oleh proliferasi sel-sel khusus yang tidak rusak di sekitarnya. Pada fase repair jaringan yang hilang digantikan oleh jaringan granulasi yang matang menjadi jaringan parut.

Reaksi selular setelah cedera tergantung pada jenis jaringan serta luasnya luka. Pada cedera jaringan pada sistem saraf pusat yang merusak neuron dan sel glia pendukung, respons tubuh tidak dapat memulihkan secara sempurna, kerena regenerasi neuron yang hilang tidak mungkin dilakukan. Dinding astrosit yang diaktifkan dari lesi, akan mengakibatkan bekas luka glial. Sebaiknya, pada jaringan non-sistem saraf pusat, jaringan dapat memiliki beberapa responstergantung pada besarnya cedera serta jenis jaringan. Secara umum berikut ini adalah fase pemulihan gangguan musculoskeletal. Fase penyembuhan ini tidak selalu terjadi berurutan dan dapat berjalan tanpa menunggu satu fase selesai.

 

Referensi :

Arovah, N. I. 2021. Olahraga Terapi Rehabilitasi pada Gangguan Musculoskeletal. UNY Press.

Restuputri, D. P. 2018. Penilaian Risiko Gangguan Musculoskeletal Disorder Pekerja Batik dengan Menggunakan Metode Strain Index. Jurnal Teknik Industri.

Mayasari, D. 2016. Ergonomi sebagai Upaya Pencegahan Musculoskeletal Disorders pada Pekerja. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Universitas Lampung, 1(2), 369-379.

Patandung, L. N., & Widowati, E. 2022. Indeks Massa Tubuh, Kelelahan Kerja, Beban Kerja Fisik dengan Keluhan Gangguan Muskuloskeletal. HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development), 6(1).