Senin, 07 Agustus 2023 09:56 WIB

Mengenal Penyakit Kusta

Responsive image
8826
Maulita Ferdiandana Yunar, AMK - RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

Penyakit Kusta / Lepra atau Morbus Hansen adalah penyakit infeksi bakteri kronis yang menyerang jaringan kulit, saraf tepi, dan saluran pernapasan. Penyakit Kusta merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh infeksi Mycobakterium leprae. Bakteri ini mengalami proses pembelahan cukup lama antara 2-3 minggu, daya tahan hidup kuman kusta mencapai 9 hari di luar tubuh manusia. Kuman kusta memiliki masa inkubasi 2-5 tahun bahkan lebih. Penatalaksanaan kasus kusta yang buruk dapat menyebabkan kasus kusta menjadi progresif, sehingga menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf anggota gerak dan mata. Kusta ditandai dengan lemah atau mati rasa di tungkai dan kaki, kemudian diikuti dengan timbulnya lesi di kulit. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri ini dapat menyebar melalui percikan ludah atau dahak yang keluar saat penderitanya batuk atau bersin. Kusta umumnya dapat ditangani dan jarang menyebabkan kematian, namun berisiko menyebabkan cacat. Akibatnya, pasien Kusta berisiko mengalami diskriminasi yang dapat berdampak pada kondisi psikologisnya.

Penyebab

Kusta disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini dapat menular dari satu orang ke orang lainnya melalui percikan cairan dari saluran pernapasan (droplet), yaitu ludah atau dahak, yang keluar saat batuk atau bersin.

Seseorang dapat tertular kusta jika terkena percikan droplet dari pasien Kusta secara terus-menerus dalam waktu yang lama. Dengan kata lain, bakteri penyebab Kusta tidak dapat menular kepada orang lain dengan mudah, selain itu bakteri Mycobacterium leprae membutuhkan waktu lama untuk berkembang biak di dalam tubuh penderita. Kusta dapat menular jika terjadi kontak dalam waktu yang lama. Kusta tidak menular karena bersalaman, duduk bersama, Kusta tidak menular dari ibu ke janinnya.

Selain penyebab di atas, ada beberapa faktor lain yang bisa meningkatkan risiko seseorang terkena Kusta, di antaranya :

1.      Bersentuhan dengan hewan penyebar bakteri Kusta, seperti Armadillo.

2.      Menetap atau berkunjung ke kawasan endemik Kusta.

3.      Memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh.

Faktor risiko

1.      Melakukan kontak dengan seseorang yang alami infeksi, seperti bersin atau batuk.

2.      Kontak dekat dan berulang dengan seseorang yang mengidap penyakit ini yang tidak diobati dalam waktu lama.

3.      Tinggal di area endemik Kusta.

Gejala

1.      Muncul bercak putih seperti panu, biasanya bagian tersebut mati rasa.

2.      Ada tonjolan di kulit, kulit menebal, kaku dan kering.

3.      Muncul bisul yang tidak sakit di telapak kaki.

4.      Ada benjolan atau pembengkakan yang tidak sakit di wajah atau daun telinga.

5.      Bulu mata dan alis rontok cukup banyak.

6.      Tangan dan kaki yang terdampak lemas atau mengalami kelumpuhan otot.

7.      Saraf di sekitar siku, lutut, samping leher, atau dada membengkak.

8.      Gangguan penglihatan jika penyakit menyerang saraf wajah.

9.      Hidung tersumbat

10.   Gampang mimisan

Pemeriksaan

Untuk memastikan gangguan pada kulit dan saraf disebabkan oleh Kusta atau tidak, dokter akan melakukan pemeriksaan berikut :

1.      Pemeriksaan bakterioskopik dibuat dari kerokan jaringan kulit di beberapa tempat, diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat adanya bakteri Lepra.

2.      Pemeriksaan Histopatologis bertujuan untuk melihat perubahan jaringan dikarenakan infeksi.

3.      Pemeriksaan serologis didasarkan atas terbentuknya antibodi pada tubuh seseorang akibat infeksi.

Penanganan

1.      Obat- obatan

Metode utama untuk mengobati Kusta adalah dengan obat antibiotik. Penderita kusta akan diberi kombinasi beberapa jenis antibiotik selama 1-2 tahun. Jenis, dosis dan durasi penggunaan antibiotik akan ditentukan berdasarkan jenis kusta yang diderita. Di Indonesia pengobatan Kusta umumnya dilakukan dengan metode MDT atau Multidrug Therapy yakni pengobatan yang mengombinasikan 2 (dua) antibiotik atau lebih.

2.      Operasi

Setelah pengobatan dengan antibiotik, operasi umumnya akan dilakukan sebagai penanganan lanjutan. Operasi bagi penderita Kusta bertujuan untuk :

a.      Menormalkan fungsi saraf yang rusak.

b.      Memperbaiki bentuk tubuh yang cacat.

c.      Mengembalikan fungsi anggota tubuh.

Komplikasi 

Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi jika Kusta terlambat diobati adalah :

1.      Mati rasa

2.      Glaukoma

3.      Kebutaan

4.      Gagal ginjal

5.      Kerusakan bentuk wajah.

6.      Kerusakan permanen pada bagian dalam hidung.

7.      Kemandulan pada pria.

8.      Lemah otot

9.      Kerusakan saraf permanen di luar otak dan saraf tulang belakang, termasuk pada lengan, tungkai kaki, dan telapak kaki.

10.   Cacat permanen, seperti alis hilang, cacat pada jari kaki, tangan, dan hidung.

11.   Selain itu diskriminasi yang dialami penderita dapat mengakibatkan tekanan psikologis atau bahkan depresi. Hal tersebut berisiko memunculkan keinginan penderitanya untuk melakukan percobaan bunuh diri.

Pencegahan

Sampai saat ini, belum ada vaksin untuk mencegah Kusta. Diagnosis dini dan pengobatan yang tepat merupakan upaya terbaik untuk mencegah komplikasi dan penularan kusta. Selain itu, menghindari kontak dengan hewan pembawa bakteri Kusta juga penting untuk mencegah Kusta.

Gerakan terpadu untuk memberikan informasi mengenai penyakit Kusta kepada masyarakat, terutama di daerah endemik, merupakan langkah penting agar para penderita mau memeriksakan diri dan mendapatkan pengobatan.

Pemberian informasi ini juga diharapkan dapat menghilangkan stigma negatif tentang Kusta dan diskriminasi terhadap penderita Kusta.

 

Referensi  :

Yuslianawati Novita Shielda. 2018. Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku terhadap Pencegahan Penularan Penyakit Kusta di Wilayah Kerja Puskesmas Balerejo. Skripsi Program Studi Keperawatan Stikes Bhakti Husada Mulia Madiun.

Dianita Rike. 2020. Analisis Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kejadian Kusta di Kabupaten Brebes. Skripsi Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang.