Selasa, 04 Juli 2023 10:50 WIB

Keputihan Normal >< Keputihan Tidak Normal

Responsive image
8580
Tim Promkes RSST - RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

Keputihan atau vaginal discharge merupakan hal yang normal dialami oleh wanita, yaitu keluarnya cairan lendir bening kental yang merupakan cara tubuh untuk menjaga vagina tetap bersih dan lembab serta melindungi kita dari infeksi. Namun, ada kondisi tertentu yang membuat keputihan pada wanita jadi tidak normal. Ini biasanya menandakan suatu masalah pada organ reproduksi. Memperhatikan tekstur, bentuk, hingga aroma cairan yang keluar dari vagina merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan sistem reproduksi. Dengan begitu, kita bisa mencegah penyebaran penyakit jika itu merupakan kondisi yang tidak wajar. Ketika seorang wanita mengalami keputihan, cairan yang diproduksi kelenjar vagina dan leher rahim akan keluar membawa sel mati dan bakteri. Hal tersebut merupakan proses alami agar vagina tetap bersih sekaligus terlindung dari infeksi. Keputihan normal terjadi pada wanita yang masih mengalami menstruasi. Pada ibu hamil, keputihan mungkin akan lebih sering terjadi akibat perubahan hormon. Ketika wanita memasuki masa menopause, keputihan akan mulai berkurang.

Penyebab Keputihan

Keputihan terbagi menjadi 2 (dua), yakni keputihan normal dan keputihan tidak normal (abnormal). Berikut ini adalah penjelasan dari keduanya :

1.      Keputihan Normal

Keputihan adalah kondisi normal yang dialami oleh setiap wanita. Jumlah, warna, dan tekstur keputihan yang dialami setiap wanita dapat berbeda-beda, mulai dari keputihan yang kental dan lengket, hingga keputihan yang bening dan berair.

Keputihan normal terjadi setidaknya 6 (enam) bulan sebelum wanita mengalami menstruasi untuk pertama kalinya. Kondisi ini dipengaruhi oleh perubahan hormon di dalam tubuh. Keputihan juga normalnya keluar saat wanita menerima rangsangan seksual, sedang menyusui, atau mengalami stres.

Selain itu, keputihan juga bisa terjadi pada bayi baru lahir. Terkadang, keputihan pada bayi baru lahir juga disertai dengan sedikit darah. Hal ini terjadi ketika bayi terlalu banyak terpapar oleh hormon ibu saat masih di dalam kandungan. Namun, keputihan ini umumnya akan menghilang setelah bayi berusia 2 minggu.

2.      Keputihan Tidak Normal

Keputihan yang tidak normal dapat disebabkan oleh infeksi jamur, bakteri, atau parasit. Infeksi pada keputihan abnormal terbagi menjadi 2 (dua) jenis, yakni infeksi tidak menular dan infeksi menular.

Penyebab keputihan dari infeksi tidak menular misalnya akibat vaginosis bakterialis dan candidiasis. Sementara itu, keputihan dari infeksi menular umumnya disebabkan oleh Penyakit Menular Seksual (PMS), seperti chlamydia, trikomoniasis, dan gonore.

Selain infeksi, keputihan juga bisa menjadi tanda kanker pada rahim atau leher rahim (serviks).

Ada beberapa faktor yang dapat membuat seorang wanita rentan terserang infeksi vagina dan mengalami keputihan, antara lain :

1.      Mengonsumsi pil KB dan obat kortikosteroid.

2.      Menderita penyakit diabetes.

3.      Berhubungan seksual tanpa kondom dan sering berganti pasangan.

4.      Memiliki daya tahan tubuh lemah, misalnya akibat penyakit HIV & AIDS.

5.      Mengalami iritasi di dalam atau sekitar vagina.

6.      Menipisnya dinding vagina akibat menopause.

7.      Terlalu sering membersihkan area kewanitaan dengan sabun yang mengandung parfum dan sabun antiseptik.

Gejala Keputihan

Keputihan yang tergolong normal dapat terlihat dari ciri-ciri cairan yang keluar dari vagina, antara lain :

1.      Tidak berwarna atau berwarna putih.

2.      Tidak berbau atau tidak mengeluarkan bau menyengat.

3.      Meninggalkan bercak kekuningan di celana dalam.

4.      Memiliki tesktur cairan yang dapat berubah tergantung siklus menstruasi.

Sedangkan pada keputihan yang tidak normal, tanda dan gejalanya adalah sebagai berikut :

1.      Cairan keputihan berbeda warna, bau, atau tekstur dari biasanya.

2.      Cairan keputihan keluar lebih banyak dari biasanya.

3.      Keluar darah di luar jadwal haid.

Keputihan yang abnormal tersebut dapat disertai dengan keluhan :

1.      Gatal di area kewanitaan.

2.      Nyeri di panggul.

3.      Nyeri saat buang air kecil.

4.      Rasa terbakar di sekitar vagina.

Perubahan warna pada cairan keputihan dapat menjadi tanda dari kondisi tertentu, seperti dijelaskan di bawah ini :

1.      Keputihan berwarna coklat atau disertai bercak darah bisa disebabkan oleh siklus menstruasi yang tidak teratur, atau bisa juga merupakan tanda dari kanker pada rahim atau leher rahim.

2.      Keputihan berwarna hijau atau kekuningan dan berbuih dapat disebabkan oleh penyakit trikomoniasis.

3.      Keputihan berwarna kelabu atau kekuningan dapat disebabkan oleh gonore.

4.      Keputihan berwarna putih dan kental dapat disebabkan oleh infeksi jamur pada vagina.

5.      Keputihan berwarna putih, abu-abu, atau kuning, serta disertai dengan bau amis, dapat disebabkan oleh penyakit vaginosis bakterialis.

6.      Keputihan berwarna merah muda bisa disebabkan oleh peluruhan lapisan rahim yang terjadi setelah melahirkan.

Pemeriksaan Keputihan

Dokter akan melakukan pemeriksaan panggul untuk memeriksa kondisi organ reproduksi wanita, seperti vagina, serviks, dan rahim, kemudian dokter dapat menganjurkan pasien untuk menjalani pemeriksaan tambahan agar diagnosis lebih pasti, seperti :

1.      Tes pH, untuk memeriksa tingkat keasaman lendir vagina dan mendeteksi tanda infeksi pada vagina.

2.      Pemeriksaan sampel cairan vagina, untuk mendeteksi keberadaan jamur, bakteri, atau parasit yang menyebabkan keputihan.

3.      Tes infeksi menular seksual, untuk mendeteksi tanda atau gejala dari infeksi menular seksual, seperti gonore, chlamydia, dan trikomoniasis.

4.      Pap smear, untuk mendeteksi kelainan pada jaringan leher rahim (serviks).

Penanganan Keputihan

Keputihan yang normal tidak memerlukan penanganan medis secara khusus. Kondisi ini bisa diatasi dengan membersihkan area kewanitaan menggunakan air secara rutin, untuk menghilangkan lendir atau cairan.

Sedangkan cara mengatasi keputihan abnormal tergantung pada penyebabnya, misalnya dengan pemberian obat, seperti :

1.      Antibiotik, seperti clindamycin, untuk menghilangkan bakteri penyebab keputihan. Antibiotik tersedia dalam bentuk pil atau krim oles.

2.      Antijamur, seperti fluconazole, clotrimazole, dan miconazole, untuk mengatasi infeksi jamur yang menyebabkan keputihan. Obat ini tersedia dalam bentuk krim atau gel yang dioleskan di bagian dalam vagina.

3.      Metronidazole atau tinidazole, untuk mengatasi keputihan yang disebabkan oleh parasit penyebab penyakit trikomoniasis. Obat ini hanya bisa didapatkan dengan resep dokter.

 

Referensi :

Gusti Ayu Marhaeni. 2019. Keputihan pada Wanita. Jurnal Kebidanan Poltekes Kemenkes Denpasar.

Sachan, P., et al. 2018. A Study on Cervical Cancer Screening Using Pap Smear Test and Clinical Correlation. Asia-Pacific Journal of Oncology Nursing, 5(3), 337-41.

National Health Services UK. 2021. Health A to Z. Vaginal Discharge.

Cassata, C. Everyday Health. 2020. What is Vaginal Discharge? Symptoms, Causes, Diagnosis, and Treatment.

Cornforth, T. Verywell Health .2022. Difference Between Normal and Abnormal Vaginal Discharge.

Ellis, M. Healthline. 2019. Everything You Need to Know About Vaginal Discharge.

Silver, N. Healthline. 2018. Guide to Vaginal Discharge : What’s Normal and When Should You Call Your Doctor?