Senin, 11 Juli 2022 14:16 WIB

Metode Pemberian Nutrisi Dalam Perawatan Bayi Prematur

Responsive image
5307
Nyimas Sri Wahyuni, S.Kep, Ners, M.Kep, Sp. Kep.A - RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang

Bayi prematur berisiko mengalami kesulitan makan, baik pemberian makan dan mempertahankan kemampuan makan yang kompeten dari waktu kewaktu. Pemberian makan oral bayi prematur dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk usia gestasi, keadaan bayi dan stabilitas fisiologis (Geddes et al., 2017).  Perawat harus mengetahui intervensi yang tepat dalam memenuhi kebutuhan nutrisi bayi secara adekuat (Geddes, 2018).

Manajemen pemberian nutrisi bayi prematur menjadi fokus utama dalam perawatan bayi untuk menghindari gagal tumbuh pada bayi prematur (Wandita, 2016). Nutrisi bayi prematur dapat dalam bentuk air susu ibu (ASI), donor ASI dan susu formula. Manfaat Air Susu Ibu (ASI) untuk bayi prematur adalah untuk meningkatkan imunitas bayi, merangsang peristaltik usus yang belum matang, dan berguna untuk pertumbuhan syaraf bayi (Wandita, 2016). ASI juga mempunyai efek perlindungan terhadap kejadian NEC (necrotizing enterocolitis) dan kemungkinan ROP (retinopathy of prematurity) berat (Miller et al., 2018).

Metode pemberian nutrisi dalam memenuhi kebutuhan bayi prematur, metodenya sebagai berikut : breast feeding, bottle feeding, Standart Slow Enteral Feeding (SEEF), tube feeding, novel teat, dan lactation aid.

1. Breast Feeding (menyusui)

Breast Feeding (menyusui) artinya memberikan makanan kepada bayi yang secara langsung dari payudara ibu sendiri. Menyusui tidak hanya memberikan ASI, tetapi proses penting pembentukan ikatan antara ibu dan bayi.  ASI merupakan makanan yang baik untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan bayi (Froh, Dahlmeier, & Spatz, 2017).

2. Bottle Feeding

Pemberian susu melalui botol banyak dipraktekkan untuk mempercepat pemenuhan asupan oral.  Perbedaan antara dot buatan dan puting atau aerola yaitu bentuk pangkal dan katup yang menghasilkan aliran susu  terus menerus  yang tidak membutuhkan penghisapan aktif. Hal ini dapat menyebabkan masalah pada bayi yaitu bingung puting ketika menghisap langsung dari ibu karena sudah terbiasa minum susu dari botol (Segami, Mizuno, Taki, & Itabashi, 2013; Simmer, et al, 2016)

3. Standart Slow Enteral Feeding (SSEF) atau Trophic Feeding

Bayi Prematur akan mengalami masalah dalam kemampuan menghisap dan menelan (Peng et al., 2018). Nutrisi trophic feeding diberikan dalam waktu 48 jam pertama, diusahakan ASI segar mulai  5–10 mL/kgBB/hari yang dinaikkan bertahap sampai volume 25 mL/kgBB/hari (Mosqueda, et all, 2008). Pemberian nutrisi enteral dini pada bayi prematur tidak berhubungan dengan meningkatnya risiko NEC. Pemberian nutrisi enteral harus hati-hati pada kondisi hipoksia atau penurunan aliran darah usus, seperti hipoksia-iskemik usus, hipoksemia persisten berat, hipotensi, penurunan aliran darah usus halus (Wandita, 2016). Penggunaan SSEF dapat menurunkan secara signifikan risiko kejadian NEC dan NEC berkaitan dengan kematian Neonatal (Viswanathan et al, 2017).

4.Tube Feeding atau Gavage Feeding

Sistem gastrointestinal bayi prematur belum cukup matang untuk mencerna makanan dengan sempurna sehingga bayi membutuhkan pemberian makanan melalui gavage feeding yang dapat membantu pemantuan residu (Potts & Mandleco, 2012). Perawat perlu menilai residu lambung pada bayi prematur sebagai indikator distensi abdomen dan tanda bayi mengalami kesulitan mentolerir pemberian makanan enteral (Yayan, Kucukoglu, Dag, & Karsavuran Boyraz, 2018).

Studi dari Yayan et al (2018) terhadap 40 bayi prematur dengan berat lahir kurang dari 2000 gram (bayi lahir pada usia kehamilan 28 – 35 minggu) menunjukkan hasil yang efektif dari gavage feeding disertai dengan penempatan posisi post feeding yang dapat mengurangi residu lambung. Bayi prematur memiliki kadar residu lambung yang lebih rendah pada posisi lateral dan tengkurap kanan dibandingkan pada posisi lateral kiri dan terlentang. Temuan ini menunjukkan bahwa posisi lateral dan tengkurap kanan dapat digunakan sebagai alternatif ketika memposisikan bayi setelah menyusui (Yayan et al., 2018).

5. Novel Teat (Botlle Nipples)

Novel Teat adalah sebuah dot yang dirancang untuk melepaskan susu ketika ada hisapan dengan mendorong gerakan lidah seperti menyusui pada umumnya. Novel teat merupakan sistem pemberian makanan yang dirancang untuk mensimulasikan mekanisme menghisap sebanding dengan menyusui pada ibu (Simmer et al., 2016). Novel Teat berpotensi untuk memberikan manfaat pada gerakan lidah saat menyusui jika ibu tidak dapat menyusui bayi secara langsung (Geddes et al., 2018). Novel Teat merupakan pilihan yang baik untuk strategi pemberian ASI pada bayi prematur karena Novel Teat mengeluarkan susu ketika ada hisapan dari bayi

2011-2024 Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia