Senin, 23 Mei 2022 16:11 WIB

Kemandulan (Infertil): Stigma Negatif Pada Wanita Indonesia

Responsive image
9846
Safitriana, S.Kep., Ners - RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang

Setiap pasangan yang menikah pasti mengharapkan hadirnya seorang anak dalam kehidupan rumah tangga. Memiliki anak merupakan salah satu tujuan pernikahan yang dapat melengkapi kebahagiaan setiap pasangan yang telah menikah. Namun, tidak setiap pasangan yang sudah menikah dapat langsung dikaruniai seorang anak dalam rumah tangganya. Bahkan cukup banyak pasangan yang belum memiliki keturunan setelah beberapa tahun bahkan dalam hitungan decade pernikahan mereka. Kondisi ini sering disebut dengan infertilitas/kemandulan (kesulitan mendapatkan anak)

WHO (2021) menyebutkan infertilitas adalah penyakit sistem reproduksi yang ditandai dengan kegagalan pasangan untuk mencapai kehamilan setelah pasangan berhubungan seksual tanpa proteksi atau kontrasepsi selama 12 bulan. Infertilitas dibagi menjadi 2 yaitu infertilitas primer dan infertilitas sekunder. Infertilitas primer terjadi ketika pasangan tidak pernah sama memiliki anak atau tidak terjadi kehamilan sama sekali. Sementara infertilitas sekunder adalah ketika pasangan suami istri yang sudah memiliki anak namun kesulitan untuk bisa hamil kembali atau mendapatkan anak yang berikutnya.

Infertilitas terjadi karena adanya gangguan pada sistem reproduksi yang dapat dialami pria maupun wanita. Di Indonesia kejadian infertilitas yaitu sekitar 10-15% atau 4-6 juta pasangan dari 39,8 juta pasangan usia subur dan memerlukan pengobatan infertilitas untuk akhirnya bisa mendapatkan keturunan.

Penyebab infertilitas pada pria diakibatkan oleh gangguam kesuburan yang dapat dibagi menjadi 3 faktor yaitu (1) Faktor Pretestikular umumnya berkaitan dengan gangguan hormonal yang dapat mempengaruhi pembentukan sperma (2) Faktor testikular merupakan gangguan yang terjadi pada testis sehingga mengganggu pembentukan sperma, (3) Faktor Post testikular terjadi di luar testis setelah spermatozoa keluar dari tubukus seminiferus (Gaziansyah et., al 2019). Sedangkan, infertilitas pada wanita dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain (1) Gangguan Hormonal, (2) Endometriosis, (3) Polycystic Ovary Sindrom, (4) Penyumbatan atau kerusakan pada tuba Falopii (tuba non paten), (5) Alergi sperma/ASA tinggi (Nurjannah, 2019).

Perempuan memiliki peran sebesar 40-50% pada kasus infertilitas sedangkan laki-laki sebesar 30% dan penyebab lainnya sekitar 20-30% dari pasangan tersebut (Rae et., al 2015). Jadi persepsi yang menganggap bahwa infertilitas atau kemandulan hanya dialami oleh wanita saja itu merupakan kesalahan besar. Perempuan menjadi pihak yang banyak dirugikan dalam hal infertilitas, stigma masyarakat memandang jika pasangan belum memiliki keturunan maka perempuan lah yang akan dianggap bersalah (Hasanpoor-Azghady, 2019).

Budaya patriarki yang sangat kental dan mengakar pada beberapa budaya masyarakat di Indonesia masih menganggap tabu masalah infertilitas, dimana bias gender menjadi salah satu faktor yang menghambat pasangan mendapatkan layanan kesehatan infertilitas secara maksimal. Hal ini juga berperan dalam pengambilan keputusan untuk mendapatkan layanan infertilitas, dimana setiap keputusan biasanya bergantung kepada suami (Dermatoto, 2010).

Infertilitas memiliki dampak terhadap psikologis, terutama bagi wanita. Sumber tekanan sosiopsikologis pada wanita sangat terkait erat dengan kemungkinan mereka untuk hamil dan melahirkan. Dengan demikian, sudah saatnya infertilitas tidak hanya dianggap sebagai masalah medis atau psikologis, tetapi juga masalah sosial. Selain itu, perawatan infertilitas memberikan tekanan pada rasa sakit fisik, mental, dan emosional. Pasangan infertil berjuang dengan stres dan stigma dari masyarakat, terutama bagi perempuan.

Dukungan perlu diberikan kepada perempuan yang memiliki masalah infertilitas agar tetap dapat diberdayakan. Infertilitas bukanlah akhir dari kehidupan seorang wanita. Infertilitas dapat diobati, mulai dari metode sederhana seperti modifikasi gaya hidup hingga metode yang lebih canggih dengan teknologi reproduksi berbantuan seperti inseminasi dan fertilisasi in vitro (IVF).

 

Daftar Pustaka

     Dermatoto, A. (2010). konsep maskulinitas dari jaman ke jaman dan citranya dalam media, diakses tanggal 2/11/2021

      Gaziansyah, M. P., Anggraeni, J. W., Anisa, N. D. (2019). Efek Rujak Polo (Tribulus terrestris) dan Ginseng India (Withania somnifer) Sebagai Terapi Mutakhir Terhadap Infertilitas. Fakultas kedokteran Universitas Lampung

       Hasanpoor-Azghady SB, Simbar M, Vedadhir AA, Azin SA, Amiri-Farahani L. (2019). The Social Construction of Infertility Among Iranian Infertile Women: A Qualitative Study. J Reprod Infertil. 20(3):178-190.

        Nurjannah. (2019). 30 hari Bimbingan Positif Hamil. Elif medika.

       Rae, L., Wiweko, B., Bell, L., Shafira, N., Pangestu, M., Adayana, I. B. P., Amstrong, G. (2015). Patient Education needs among Indonesian women infertility patient attending three fertility clinics. Patient Education and Counseling, 98(3), 364-369.

     World Health Organization (2021). Infertility. Available at https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/infertility, diakses tanggal 2 November 2021.