Kamis, 23 Juni 2022 16:12 WIB

Manajemen Pasien Post Instrumentasi Scoliosis di ICU

Responsive image
13 kali
Yunus, S.Kep.Ns.,MARS - RS Ortopedi Prof.Dr.R.Soeharso Surakarta

Ruang Intensive Care merupakan ruangan khusus yang disediakan rumah sakit untuk merawat pasien dengan kondisi yang membutuhkan pengawasan ketat yang  mengalami gangguan kesadaran, gangguan pernafasan, dan mengalami serangan penyakit akut. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1778/MENKES/SK/XII/2010 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Intesive  Care  Unit (ICU)  di  Rumah  Sakit  menyebutkan bahwa   ICU   adalah   suatu bagian   dari   rumah   sakit   yang   mandiri (instalasi   dibawah   direktur  pelayanan), dengan staf terlatih dan perlengkapan yang khusus ditujukan untuk observasi,   perawatan   dan   terapi pasien-pasien   yang   menderita   penyakit,   cedera atau   penyulit-penyulit   yang   mengancam nyawa  atau  potensial  mengancam  nyawa dengan prognosis dubia.

Ruang Intensive Care Rumah Sakit Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta saat ini menyediakan berbagai sarana dan prasarana serta peralatan khusus untuk mendukung fungsi-fungsi vital pasien, salah satunya adalah pasien post operasi instrumentasi scoliosis. Operasi instrumentasi scoliosis merupakan operasi mayor atau besar dengan nyeri kronis post operasi yang intens, juga khas dengan konsumsi opioid yang tinggi, resiko hilangnya banyak darah, dan periode operasi yang lama. Oleh karena itu, pasien tersebut membutuhkan monitoring ketat di ruang ICU sebagai upaya mengurangi morbiditas, mortalitas, dan mendukung pemulihan yang efisien.

 

Perawatan holistik pada pasien post operasi instrumentasi scoliosis di ICU

Perawatan pasien post operasi instrumentasi scoliosis di ICU RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta  dilakukan secara holistik untuk menunjang kesuksesan operasi dan pemulihan pasien sebelum dipindah ke bangsal :

1.      Pasien dilakukan monitoring hemodinamik ketat : B1 – B6 dan monitoring gejala komplikasi yang mungkin timbul setelah operasi. Identifikasi komplikasi seperti infeksi, incomplete fusion, hematoma, dan lainnya dapat dilakukan dengan melihat gejala klinis dan melakukan tindakan radiografi atau imaging.

2.      Pemeriksaan  Analisa Gas Darah jika diperlukan.

3.      Mengatasi shivering karena perdarahan , suhu kamar operasi yang lama, efek muscle relaxant dengan selimut hangat dan  blanket warmer.

4.      Monitoring adanya kecemasan dan depresi  berkolaborasi dengan Psikolog.

5.      Manajemen nyeri paska operasi yang dapat dilaksanakan dalam berbagai opsi tindakan, diantaranya:

a.       Penggunaan analgesik opioid atau non-opioid sesuai dengan kebutuhan pasien. Salah satu contohnya adalah fentanyl sesuai advis dokter anestesi, diberikan dengan menggunakan syringe pump.

b.      Penggunaan single atau double analgesik epidural.

6.      Pemantauan peristaltik usus yang berhubungan dengan pemenuhan gizi, cairan, dan elektrolit. Pemberian makanan dan minuman dimulai dari hari pertama dan pencegahan mual muntah, dan konstipasi.

7.      Pelepasan kateter urin dan drain operasi pada hari kedua.

8.      Pemberian terapi farmakologi secara oral dimulai dari hari pertama.

9.      Ambulasi dapat dilakukan sesegera mungkin. Walaupun demikian, kegiatan ini sering terhambat oleh nyeri. Fisioterapi akan mengedukasi dan mengajari pasien beserta keluarga mengenai beberapa hal, diantaranya seperti yang kita lakukan setiap hari di ICU RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta :

a.       Latihan pernafasan untuk membantu meningkatkan kapasitas paru-paru secara bertahap.

b.      Latihan fisik dari kaki sampai ujung jari kaki. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kelancaran aliran darah dan mencegah penggumpalan darah di tungkai.

c.       Cara melakukan log roll untuk mencegah tulang belakang terputar (twisting). Pasien dibantu oleh perawat untuk memenuhi kebutuhan Activity Day Living.

10.  Perawat atau tim ICU dapat melakukan pengkajian neurologis setiap dua jam pada malam pertama perawatan pasien  kemudian dilanjutkan dengan pengkajian neurologis setiap shift.

11.  Perawatan luka steril pada lokasi pembedahan jika terdapat rembesan.

12.  Menjaga kebersihan tempat tidur pasien total care  dan prosedur perawatan pasien untuk mencegah terjadinya infeksi.

13.  Monitoring penggunaan ventilasi mekanik dan pencegahan terjadinya ventilator-associated pneumonia (VAP). Pasien juga dilakukan penyapihan ventilator secara berkala.

14.  Monitoring resiko terjadinya luka tekan dan penggunaan kasur dekubitus.

15.  Pendokumentasian di lembar terintegrasi (IRIN)

Manajemen asuhan terintegrasi secara tepat pada pasien post instrumentasi scoliosis diharapkan dapat menurunkan lama rawat, biaya perawatan, dan meningkatkan proses kesembuhan pasien.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Akesen, S. (2021). Predictive factors for postoperative ?ntensive care unit admission in pediatric patients undergoing scoliosis correction surgery. American Journal of Translation Research, 5386–5394.

Jada, A., Mackel, C. E., Hwang, S. W., Samdani, A. F., Stephen, J. H., Bennett, J. T., & Baaj, A. A. (2017). Evaluation and management of adolescent idiopathic scoliosis: a review. Journal of Neurosurgery.

Julien-Marsollier, F., Michelet, D., Assaker, R., & Doval, A. (2019). ERAS for scoliosis in children. Paris: Department of Anaesthesia and Intensive Care Robert Debré Hospital.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1778/MENKES/SK/XII/2010

Malik, A. T., Yu, E., Kim, J., & Khan, S. N. (2020). Intensive Care Unit Admission Following Surgery for Pediatric Spinal Deformity: An Analysis of the ACS-NSQIP Pediatric Spinal Fusion Procedure Targeted Dataset. Global Spine Journal, 177 - 182.

Pelealu, J., Angliadi, L. S., & Angliadi, E. (2014). Rehabilitsi Medik pada Skoliosis. Jurnal Biomedik, 8 - 13.

PT CItra Medianusa Purnama. (2019, November 2). Penanganan Skoliosis harus Sejak Dini. Retrieved from Media Indonesia: https://mediaindonesia.com/humaniora/271124/penanganan-skoliosis-harus-sejak-dini

RSUD Sidoarjo. (2016, Desember 21). Skoliosis Bisa Disembuhkan?? Retrieved from RSUD Sidoarjo: https://rsd.sidoarjokab.go.id/pages/artikel/skoliosis-bisa-disembuhkan

Scoliosis Association UK. (2021, November 7). Advice for Before and After Surgery. Retrieved from Scoliosis Association UK: https://sauk.org.uk/scoliosis-treatment/advice-for-before-and-after-surgery/

Shan, L.-q., Skaggs, Lee, C., Kissinger, C., & Myung, K. S. (2013). Intensive Care Unit Versus Hospital Floor: A Comparative Study of Postoperative Management of Patients with Adolescent Idiopathic Scoliosis. The Journal of Bone and Joint Surgery, 1 - 5.

Sousa, L. A., Silvestre, C., Carvalho, A., & Oom, P. (2006). Postoperative management of scoliosis surgery: A paediatric intensive care experience. Nascer e Crescer, 8 - 12.

Spinal Surgery for Children with Neuromuscular Disorders: An Orthopedic Center Guidebook. (2011). Boston: Children's Hospital Boston.

Young, P. M., Berquist, T. H., Bancroft, L. W., & Peterson, J. J. (2007, Mei 7). Complications of Spinal Instrumentation. RadioGraphics, 1 - 10. Retrieved from https://pubs.rsna.org/doi/10.1148/rg.273065055