Rabu, 03 Agustus 2022 08:15 WIB

Glaukoma dan Kelainan Refraksi

Responsive image
4983
dr. Ni Made Ari Suryathi, M.Biomed, Sp.M(K) - RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah

Glaukoma adalah penyebab tertinggi kedua dari kebutaan yang dapat dicegah setelah katarak. Penyakit Glaukoma sering dikatakan sebagai pencuri penglihatan, karena penderita seringkali baru menyadari terkena Glaukoma saat kerusakan mata sudah terlanjur parah. Fakta menunjukkan 3,6 juta orang di dunia mengalami kebutaan akibat Glaukoma. World Health Organization (WHO) memprediksi jumlah penderita Glaukoma di dunia mencapai sekitar 60,7 juta orang di tahun 2010 dan akan menjadi 79,4 juta di tahun 2020.  Di Indonesia, sebesar 1,8 juta penduduk mengalami kebutaan akibat Glaukoma.

Jadi sebenarnya apa itu Glaukoma? Glaukoma adalah penyakit yang ditandai dengan kerusakan saraf mata yang berhubungan dengan hilangnya lapang pandang dimana peningkatan tekanan bola mata sebagai faktor resiko. Hal-hal yang dapat meningkatkan risiko terkena Glaukoma adalah usia diatas 60 tahun, riwayat Glaukoma pada keluarga, penyakit seperti diabetes, hipertensi, migrain, jantung, rabun dekat dan jauh dengan ukuran yang tinggi, riwayat trauma pada mata, dan riwayat penggunaan steroid dalam waktu lama, baik konsumsi maupun tetes mata. Gejala Glaukoma akut antara lain tekanan bola mata >40 mmHg, penglihatan kabur mendadak, mata merah, sakit kepala, nyeri pada mata, mual, muntah, dan melihat pelangi pada cahaya lampu. Glaukoma kronis dapat muncul tanpa gejala, timbul perlahan-lahan, penglihatan semakin menyempit seperti melihat dalam lorong, dan tekanan bola mata 20-30 mmHg.

Apa yang sebaiknya dilakukan untuk mencegah Glaukoma? Deteksi dini Glaukoma merupakan cara yang paling tepat. Apabila menyadari memiliki faktor risiko Glaukoma seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, dapat melakukan pemeriksaan mata rutin tiap 1 tahun. Skrining rutin Glaukoma yang dilakukan di pusat pelayanan mata adalah TOP, yaitu Tonometri (tekanan bola mata), Oftalmoskopi (saraf mata), dan Perimetri (lapang pandang). Tidak ada cara untuk menyembuhkan Glaukoma, namun kerusakannya dapat dikontrol dan dicegah.

Secara global, angka Kelainan Refraksi meraih posisi tertinggi sebagai penyebab gangguan penglihatan. Saat ini diperkirakan terdapat sekitar 153 juta orang dengan gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi yang tidak terkoreksi. Kelainan refraksi adalah suatu kondisi dimana cahaya yang masuk ke dalam mata tidak difokuskan dengan jelas. Hal ini membuat bayangan benda terlihat buram atau tidak tajam. Kelainan refraksi dapat berupa rabun jauh, rabun dekat, mata silinder, dan rabun dekat akibat usia lanjut. Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah tajam penglihatan, autoref, trial lensa, pemeriksaan baca dekat menggunakan jaeger, pemeriksaan slit lamp untuk mengetahui keadaan media refraksi, serta pemeriksaan saraf mata.

Penting bagi kita untuk menjaga kesehatan mata agar kelainan refraksi tidak menjadi semakin parah, antara lain dengan: tidak membaca di ruangan gelap atau minim cahaya, jarak membaca 30-40 cm, pertahankan jarak kedua mata sama dengan yang dibaca, menonton TV jarak 7 kali lebar TV atau 2,5 meter, membatasi waktu paparan sinar layar, menjaga kesehatan tubuh (kontrol berat badan, kadar gula dan tekanan darah), mengkonsumsi buah dan sayuran, tidak merokok, menghindari paparan debu, dan menggunakan pelindung mata saat berkendara dan bekerja di luar ruangan. Ingatlah aturan 20 20 20, yaitu setiap membaca 20 menit, istirahatkan mata selama 20 detik selama 20 kaki/ 6 meter. Kelainan refraksi dapat dikoreksi dengan kacamata ataupun lensa kontak. Tindakan operasi berupa penambahan lensa tanam buatan dan lasik juga dapat dilakukan.

 

 

 

Referensi:

American Academy of Ophthalmology Staf. 2020-2021. Section 10: Glaucoma. Basic and Clinical Science Course. San Francisco: AAO.

American Academy of Ophthalmology Staf. 2020-2021. Section 3: Clinical Optics. Basic and Clinical Science Course. San Francisco: AAO.