Selasa, 17 Mei 2022 14:34 WIB

Terapi ECP (External Counter Pulsation)

Responsive image
31 kali
Riza Ariyadhi, AMK, SKM - RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta

Penyakit jantung koroner merupakan penyakit pembunuh nomor satu di dunia. Faktor risiko terkena penyakit ini adalah orang yang kurang beraktivitas, obesitas, perokok, riwayat keluarga, penyakit diabetes sampai tingkat stress yang tinggi,.

Banyak pengobatan atau tindakan medis untuk mengatasi penyakit ini, mulai dari intervensi bedah seperti operasi CABG dan intervensi non bedah seperti pemasangan ring /PCI. Tidak semua pasien siap melakukan tindakan keduanya, pasien merasa belum siap secara mental, takut untuk dioperasi. Ada pula pasien yang sebenarnya ingin dioperasi tetapi tidak memungkinkan dilakukan karena kondisinya berisiko tinggi untuk operasi. Terapi ECP ( External Counter Pulsation ) merupakan pilihan alternatif terapi pada pasien dengan kondisi tersebut.

Terapi ECP adalah terapi non-invatif (tanpa luka) yang sangat baik dilakukan bagi pasien dengan penyakit jantung koroner dengan gejala nyeri dada (angina refrakter ) baik pada pasien yang sudah revaskularisasi atau belum. Terapi ini juga baik pada pasien yang kurang respon terhadap obat-obatan yang diminum, mengalami akitivitas yang terhambat karena nyeri dada.

Terapi ECP menggunakan 3 set manset (Pneumatic Cuffs) yang dipasang di kedua betis, kedua paha dan bokong atau pinggul. Pengisian dan pengosongan udara dalam manset diatur sesuai siklus jantung berdasarkan EKG yang dikendalikan oleh komputer. Pada saat onset diastol, tiga set manset mengembang diisi udara secara sikuensial, cepat dengan tekanan yang dapat diatur. Pengembangan manset berurutan mulai dari betis, kemudian paha dan terakhir di pinggul. Dengan demikian darah dari tungkai bawah diperas balik dan disalurkan ke pangkal aorta (counterpulsation). Tekanan diastolik yang meningkat tersebut meningkatkan tekanan perfusi arteri koroner, membuka pembuluh kolateral yang ada dan shear stress yang terjadi pada arteri koroner akan memperbaiki disfungsi endotel. Keadaan itu menyebabkan dilatasi koroner dan peningkatan produksi Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) yang penting untuk proses angiogenesis sehingga terbentuk kolateral baru untuk memasok darah ke otot jantung yang kekurangan darah karena penyempitan arteri koroner. Manfaat lain yakni meningkatkan fungsi ventrikel kiri serta menyebabkan efek fisiologi training effect seperti saat melakukan olahraga. Oleh karena itu terapi ECP disebut juga Passive Exercise

Mekanisme kerja terapi ECP serupa dengan mekanisme kerja IABP (Intra Aortic Baloon Pump) yakni memberikan efek meningkatkan perfusi koroner dan otot jantung dan mengurangi beban kerja jantung pada penderita jantung koroner. Dengan kata lain terapi ECP ini layaknya disebut dengan IABP Non Invasif.

Terapi ECP dilakukan setiap hari selama 35 kali pertemuan, setiap hari terapi dilakukan selama 1 jam. Setelah terapi selesai, pasien dianjurkan untuk tetap melakukan aktifitas fisik atau berolahraga, seperti jalan kaki 30 menit – 1jam, atau latihan dengan sepeda statis sehingga hasil yang akan didapatkan optimal.

Penanganan berlangsung tanpa rasa sakit. Pasien bahkan dapat terlelap saat menjalani terapi saat merasakan getaran-getaran lembut. Pelaksanaan treatment diawali dengan pasien berbaring di atas tempat tidur yang nyaman. Operator  memasang manset sesuai ukuran, selanjutnya proses penanganan berlangsung layaknya pasien tengah dimassage.

Adapun kontra indikasi pada terapi ECP ini antara lain:

1.    Pasien dengan aritmia (Atrial flutter, Atrial Fibrillation, Ventricular Tachycardia) karena aritmia akan mengganggu proses terapi.

2.    Pasien yang baru dua minggu pasca kateterisasi jantung atau tiga bulan pasca operasi CABG.

3.    Penderita Aneurysma Aorta, Diseksi Aorta, Aorta Regurgitasi.

4.    Wanita hamil

5.    Pasien dengan tekanan darah > 180/100 mmHg

6.    Pasien dengan DVT ( Deep Vein Thrombosis)

Terapi ECP ini diharapakan menjadi salah satu layanan unggulan, terapi dalam pengobatan pasien dengan penyakit jantung koroner, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Pasien mampu beraktifitas kembali dengan normal tanpa keluhan nyeri dada.