Jumat, 05 Juli 2024 13:57 WIB

Faktor Risiko Glaukoma

Responsive image
493
dr. Ardiella Yunard, Sp.M(K) - RSUP dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta

Glaukoma merupakan penyebab utama kebutaan permanen di dunia dan berhubungan dengan berkurangnya kualitas hidup seseorang. Diprediksikan akan terjadi peningkatan angka kejadian glaukoma pada usia 40-80 tahun dari 76 juta orang pada tahun 2020 ke 111 juta orang pada tahun 2040, dimana diperkirakan 47.1 ?ri peningkatan tersebut berasal dari Asia dan Afrika. Prevalensi dari glaukoma juga diperkirakan akan terus naik pada dekade-dekade selanjutnya. Tingginya prevalensi dan kejadian kebutaan, menyebabkan glaukoma merupakan masalah kesehatan yang perlu diperhatikan serta membutuhkan deteksi dan pengobatan untuk mencegah kebutaan. Mendeteksi glaukoma pada stadium awal sangat penting untuk mencegah perkembangan penyakit glaukoma.

Kondisi glaukoma di Indonesia masih memprihatinkan karena kebanyakan penderita baru mencari pertolongan ketika kondisi penyakit sudah lanjut. Laporan “Situasi Glaukoma di Indonesia” pada tahun 2019 memprediksi jumlah penderita glaukoma di Indonesia berjumlah 0,46% atau setiap 4 sampai 5 orang per 1.000 penduduk. Menurut data di bagian rawat jalan rumah sakit di Indonesia, angka kunjungan glaukoma meningkat dari 65.774 pada tahun 2015 menjadi 427.091 pada tahun 2017. Berdasarkan data pasien di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 2005-2006, sebesar 13,5?tang dalam kondisi buta total akibat glaukoma primer sudut terbuka dan 26% akibat glaukoma primer sudut tertutup.

Glaukoma merupakan suatu kondisi mata dengan kerusakan pada saraf mata, yang merupakan struktur penting dalam penglihatan. Kerusakan ini biasanya disebabkan oleh tekanan bola mata yang tinggi, walaupun tidak semua penderita glaukoma memiliki tekanan bola mata yang tinggi. Glaukoma dapat berdampak sangat besar terhadap kualitas hidup penderitanya.

Glaukoma dapat mengenai siapa saja, namun terdapat individu dengan risiko lebih tinggi, diantaranya usia lebih dari 40 tahun, memiliki keluarga yang menderita glaukoma, menggunakan kacamata minus atau plus tinggi, penderita kencing manis, tekanan darah tinggi, cedera pada mata, ataupun penggunaan obat anti-radang jangka panjang baik berupa tetes, hirup, ataupun obat minum.

Banyak penderita glaukoma yang tidak menunjukkan gejala atau gejala sangat ringan, sehingga penderita datang pada saat penyakit glaukoma sudah parah. Oleh sebab itu penyakit glaukoma disebut sebagai si pencuri penglihatan. Gejala dan tanda yang dapat muncul berupa mata pegal, buram, nyeri, merah, lapang pandang menyempit, melihat seperti ada pelangi di sekitar cahaya, dan apabila terjadi serangan akut, yaitu peningkatan tekanan bola mata yang terjadi tiba-tiba, dapat menimbulkan keluhan pusing, sakit kepala, mual, dan muntah yang terkadang dapat terdiagnosis sebagai penyakit lain seperti maag.

Sebagian besar penderita glaukoma di Indonesia belum terdeteksi sehingga baru terdiagnosis saat kondisi penyakit sudah lanjut bahkan saat sudah terjadi kebutaan. Kebutaan akibat glaukoma tidak dapat disembuhkan namun dapat dikontrol dan dicegah. Deteksi dini merupakan langkah paling tepat untuk mencegah terjadinya glaukoma. Deteksi dini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi dan mengetahui faktor resiko yang dimiliki oleh setiap orang. Skrining atau deteksi dini pada glaukoma dapat dilakukan setiap 2-4 tahun sekali pada orang usia <40>40 tahun dan 1 tahun sekali pada orang-orang yang mempunyai faktor resiko. Skrining glaukoma dilakukan dengan memeriksa ketajaman penglihatan, pemeriksaan tekanan bola mata dengan tonometri, mengevaluasi saraf mata, pemeriksaan lapang pandang (perimetri), pemeriksaan sudut bilik mata depan (gonioskopi), pemeriksaan ketebalan kornea (pakimetri).

Glaukoma merupakan salah satu penyakit tersering yang menyebabkan kebutaan. Namun, kebutaan akibat glaukoma dapat dicegah apabila ditatalaksana secara tepat dan sedini mungkin. Oleh karena itu, deteksi dini dan skrining merupkan hal yang penting untuk dilakukan khususnya pada orang-orang yang memiliki faktor resiko glaukoma. Sayangilah mata anda, periksakan mata anda, dan gunakanlah obat anti glaukoma secara rutin apabila anda sudah terdiagnosis sebagai penderita glaukoma, serta lakukan pemeriksaan secara berkala.

 

Referensi:

<!--[if !supportLists]-->Allison K, Patel D, Alabi O. Epidemiology of Glaucoma: The Past, Present and Predictions for the Future. Cureus. 2020 Nov;12(11):e11686

<!--[if !supportLists]-->American Academy of Ophthalmology. 2022-2023. Section 10: Glaucoma. Basic and Clinical Science Course. San Fransisco.

<!--[if !supportLists]--><!--[endif]-->Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. InfoDatin: Situasi Glaukoma di Indonesia. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia;2019

<!--[if !supportLists]-->Gupta D, Chen P. Glaucoma. American Family Physician. 2016 Apr;93(8):668-674

<!--[if !supportLists]--><!--[endif]-->European Glaucoma Society. Terminology and Guidelines for Glaucoma. 5th edition. European Glaucoma Society; 2021

<!--[if !supportLists]-->Asian Pasific Glaucoma Society. Asia Pasific Glaucoma Guidelines. 3rd ed. Kugler Publications; 2016