Selasa, 14 Mei 2024 12:14 WIB

Mengenal Burnout pada Pekerja

Responsive image
251
Promosi Kesehatan Tim Kerja Hukum dan Humas RSST - RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

Burnout adalah kondisi dimana seseorang kehilangan energi psikis maupun fisik. Biasanya hal itu disebabkan oleh situasi kerja yang tidak mendukung atau tidak sesuai dengan kebutuhan dan harapan. Biasanya burnout dialami dalam bentuk kelelahan fisik, mental, dan emosional yang intens. Kekurangjelasan hak dan tanggung jawab kerja serta konflik peran (misalnya tuntutan kerja tidak konsisten dengan nilai-nilai yang diyakini) dapat berkontribusi. Burnout dapat terjadi kepada seorang karyawan ketika kondisi emosionalnya tidak stabil dan stres yang dialami karyawan tersebut berkepanjangan. Karyawan tersebut menjadi tidak memiliki minat dan ketertarikan terhadap pekerjaan yang dilakukannya. Salah satu persoalan yang muncul berkaitan dengan diri individu di dalam menghadapi tuntutan organisasi yang semakin tinggi dan persaingan yang keras ditempat kerja karyawan itu adalah stres. Stres yang berlebihan akan berakibat buruk terhadap kemampuan individu untuk berhubungan dengan lingkungannya secara normal. Stres yang dialami individu dalam jangka waktu yang lama dengan intensitas yang cukup tinggi akan mengakibatkan individu yang bersangkutan menderita kelelahan, baik fisik maupun mental. Keadaan seperti ini disebut Burnout, yaitu kelelahan fisik, mental, dan emosional yang terjadi karena stres diderita dalam jangka waktu yang cukup lama, di dalam situasi yang menuntut keterlibatan emosional yang tinggi.

Penyebab Burnout

Penyebab terjadinya burnout pada karyawan adalah karena tekanan atau beban pekerjaan yang besar, sehingga karyawan merasa tidak senang dan nyaman dalam menyelesaikan pekerjaannya. Burnout terbagi dua faktor yang dipandang mempengaruhi munculnya burnout, yaitu :

1.    Faktor eksternal merupakan kondisi kerja, yang meliputi lingkungan kerja psikologis yang kurang baik, kurangnya kesempatan untuk promosi, imbalan yang diberikan tidak mencukupi, kurangnya dukungan sosial dari atasan, tuntutan pekerjaan, pekerjaan yang monoton.

2.    Faktor internal meliputi usia, jenis kelamin, harga diri, tingkat pendidikan, masa kerja dan karakteristik kepribadian.

Ciri-ciri Burnout

1.    Kelelahan fisik seperti sakit kepala, demam, sakit punggung, rentan terhadap penyakit, tegang pada otot leher dan bahu, sering terkena flu, susah tidur, mual-mual, gelisah, dan perubahan kebiasaan makan. 

2.    Kelelahan emosi seperti rasa bosan, mudah tersinggung, sinisme, perasaan tidak menolong, ratapan yang tiada henti, tidak dapat dikontrol (mudah marah), gelisah, tidak perduli terhadap tujuan, tidak peduli dengan peserta didik (orang lain), merasa tidak memiliki apa-apa untuk diberikan, sia-sia, putus asa, sedih, tertekan dan tidak berdaya.

3.    Kelelahan mental, seperti merasa tidak berharga, rasa benci, rasa gagal, tidak peka, sinis, kurang bersimpati dengan orang lain, mempunyai sikap negatif terhadap orang lain, cenderung masa bodoh dengan dirinya, pekerjaannya dan kehidupannya, acuh tak acuh, pilih kasih, selalu menyalahkan, kurang bertoleransi terhadap yang ditolong, ketidakpusan terhadap pekerjaan, konsep diri yang rendah, merasa tidak kompeten dan tidak puas dengan jalan hidup.

Aspek-aspek Burnout

1.    Kelelahan fisik yang ditandai dengan serangan sakit kepala, mual, susah tidur, dan kurangnya nafsu makan.

2.    Kelelahan emosional, ditandai dengan depresi, perasaan tidak berdaya, merasa terperangkap dalam pekerjaannya, mudah marah serta cepat tersinggung.

3.    Kelelahan mental, ditandai dengan bersikap sinis terhadap orang lain, bersifat negatif terhadap orang lain, cenderung merugikan diri sendiri, pekerjaan, organisasi dan kehidupan pada umumnya.

4.    Rendahnya penghargaan terhadap diri, ditandai dengan tidak pernah puas terhadap hasil kerja sendiri, merasa tidak pernah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain.

Mencegah Burnout

Langkah-Iangkah yang perlu dilakasanakan antara lain ialah :

1.    Job Redesign Langkah ini berupa merancang kembali pekerjaan yang ada. agar tidak monoton. membosankan, dan menimbulkan kelelahan fisik maupun mental. Merancang kembali pekeIjaan dapat merubah pelaksanaan pekerjaan menjadi bervariasi, lebih memberi tantangan pada kemampuan karyawan, dan membuat pekerjaan berarti dalam proses secara keseluruhan. Program pengembangan karir, program ini perlu diperkenalkan, sehingga karyawan dapat mengharapkan perkembangan pribadinya, keemampuannya, sesuai dengan tuntutan pekerjaan, tanggung jawab, dan wewenang yang dimilikinya.

2.    Usaha lain ialah Performance Management, hal ini mengacu pada bagaimana manajemen dapat mempertahankan kinerja yang dapat dicapai oleh organisasi secara optimal. Program konsultasi dan umpan balik. Kegiatan ini dapat memberi kesempatan pada karyawan untuk berbagi rasa dengan orang lain, dan umpan balik merupakan alat yang dapat digunakan untuk memberikan masukan-masukan agar seseorang dapat mengurangi perasaan-perasaan negatif yang dirasakan, dan mengembangkan harga diri yang positif Umpan balik dapat memperkuat self esteem dan self efficacy pada diri karyawan. Dalam kegiatan ini karyawan dapat mendapatkan dukungan sosial sehingga dapat mengurangi beban yang dirasakannya berat.

3.    Langkah yang lain ialah restrukturisasi reward. Hal ini dimaksudkan untuk menghargai karyawan sesuai dengan pengorbanan yang telah diberikan kepada organisasi atau perusahaan. Bilamana karyawan dihargai atau diberi hadiah sesuai dengan pengorbanan yang diberikan maka akan merasakan kepuasan kerja yang lebih tinggi. Penghargaan yang sesuai akan mengembangkan sikap positif terhadap diri sendiri maupun pada perusahaan.

 

Referensi

Rizka, Z. 2013. Sikap terhadap Pengembangan Karir dengan Burnout pada Karyawan. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 1(2), 260-272.

Fajriani, A., & Septiari, D. 2015. Pengaruh Beban Pekerjaan Terhadap Kinerja Karyawan : Efek Mediasi Burnout. Jurnal Akuntansi, Ekonomi dan Manajemen Bisnis, 3(1), 74-79.

Swasti, K. G., Ekowati, W., & Rahmawati, E. 2017. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Burnout pada Wanita Bekerja di Kabupaten Banyumas. Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal of Nursing), 12(3), 190-198.

Rosyid, H. F. 1996. Burnout : Penghambat Produktivitas yang Perlu Dicermati. Buletin Psikologi, 4(1), 19-25.