Jumat, 03 Mei 2024 11:31 WIB

Menjaga Kesehatan Mata bagi Pegawai Back Office

Responsive image
1071
Dr. dr. Lukman Edwar, Sp.M(K) - RSUP dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta

Seiring dengan pesatnya kemajuan era digital saat ini, para pegawai back office seringkali menghabiskan banyak waktu di depan komputer dalam menjalankan pekerjaannya sehari-hari. Penggunaan komputer yang berkepanjangan dapat memberikan dampak negatif pada kesehatan mata. Oleh karena itu, sangat penting bagi para pegawai back office untuk memahami pentingnya menjaga kesehatan mata dan menerapkan langkah-langkah pencegahan yang tepat. Sebuah penelitian oleh Mulyani dan Nugraha menemukan bahwa penggunaan komputer yang berkepanjangan dapat berhubungan dengan kelelahan mata. Begitu pula, Pratiwi dan Nurianti menyebutkan bahwa penggunaan komputer yang intensif dapat meningkatkan risiko ketidaknyamanan pada mata seperti mata kering, ketegangan otot mata, serta gangguan penglihatan jarak dekat.

 American Optometric Association (AOA) mendefinisikan Computer Vision Syndrome (CVS) atau digital eye strain merupakan istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan sekelompok masalah terkait mata dan penglihatan yang diakibatkan oleh penggunaan komputer, tablet, e-reader, dan ponsel dalam jangka waktu yang lama serta menyebabkan peningkatan beban pada penglihatan, khususnya jarak dekat. Prevalensi CVS sebagai risiko pekerjaan yang menggangu kesehatan mata dapat mencapai 65-70?ri seluruh pengguna komputer di dunia. Faktor risiko lainnya yang dapat meningkatkan CVS adalah disfungsi lapisan air mata, kelainan pada kelopak mata, konjungtiva dan kornea serta penggunaan obat sistemik tertentu. Pengguna lensa kontak setelah 6 jam penggunaan komputer juga dapat mempercepat risiko terjadinya CVS jika dibandingkan dengan bukan pengguna lensa kontak.

Prinsip ergonomi yang baik dalam pengaturan tempat kerja dapat membantu mengurangi tekanan pada mata. Menempatkan posisi monitor di tempat yang tepat dengan tingkat kecerahan dan kontras yang sesuai sangat diperlukan. Sejalan dalam penelitian yang dilakukan oleh Abhayaratna dan Harkness bahwa pengaturan yang baik dari posisi monitor dapat mengurangi risiko CVS. Berdasarkan rekomendasi yang disarankan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, komponen dari postur yang baik saat melihat komputer dapat ditentukan dari beberapa hal. Layar monitor komputer sebaiknya berjarak 40-75 cm dari mata. Gunakan filter proteksi radiasi pada layar komputer. Kemiringan antara layer komputer dan mata maksimal 20 derajat. Pastikan cahaya di ruangan cukup terang. Berkedip secara berkala yang berfungsi untuk melicinkan mata dan mecegah terjadinya iritasi. Pastikan posisi tempat duduk yang nyaman. Meletakkan materi referensi di tempat yang terjangkau oleh pandangan mata, sehingga tidak perlu terlalu sering menggerakkan kepala dan istirahat secara teratur setiap 20-30 menit.

Selama istirahat, fokuskan pandangan mata ke titik terjauh atau lakukan gerakan mata yang melibatkan fokus jarak dekat dan jarak jauh, hindari melihat gawai seperti telepon pintar atau membaca jarak dekat. Pratiwi dan Nurianti (2018) menyebutkan bahwa istirahat yang cukup dapat memberikan waktu bagi mata agar beristirahat dan mengurangi kelelahan. Kiat "20-20-20" merupakan metode sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi ketegangan pada mata. Kiat ini dapat dilakukan dengan mengalihkan pandangan dari monitor setiap 20 menit dan fokuskan pandangan pada objek yang berjarak sekitar 20 kaki (6 meter) selama minimal 20 detik. Dengan rutin menerapkan kiat "20-20-20" , mata dapat terasa lebih rileks dan mengurangi kelelahan. Hal ini juga selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Raja (2019) menyebutkan bahwa praktik ini efektif untuk mengurangi gejala Komputer Vision Syndrome.

Pencahayaan yang baik sangat penting dalam menjaga kesehatan mata. Hindari pencahayaan yang terlalu terang atau terlalu redup. Menurut Vichitvejpaisal dan Sitthi-Amorn, pencahayaan yang terlalu terang dapat menyebabkan silau, sementara pencahayaan yang terlalu redup dapat memaksa mata bekerja lebih keras. Sebisa mungkin, manfaatkan pencahayaan alami dan atur pencahayaan buatan dengan baik. Selain itu pola makan yang sehat dan kaya akan nutrisi juga berperan penting dalam menjaga kesehatan mata. Pilihlah makanan yang kaya akan vitamin A, C, E, dan omega-3 seperti wortel, brokoli, jeruk, ikan salmon, serta kacang-kacangan. Ayaki, Murakami, Suzuki, dan Negishi dalam penelitiannya menunjukkan bahwa konsumsi vitamin A dan makanan yang mengandung omega-3 berkaitan dengan penurunan risiko masalah mata.

Menjaga kesehatan mata merupakan aspek penting dalam pekerjaan back office yang melibatkan penggunaan komputer dalam jangka waktu yang lama. Dengan mengikuti saran dan panduan praktis yang telah dijabarkan di atas, pegawai back office dari berbagai macam usia, dapat lebih menjaga kesehatan mata mereka. Pastikan untuk tetap berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau dokter spesialis mata jika telah mengalami masalah mata yang berkelanjutan. Dengan menjaga kesehatan mata, pegawai back office dapat lebih meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup secara keseluruhan.

 

Referensi :

<!--[if !supportLists]-->Mulyani E, Nugraha AR. The Relationship between Working Duration on Computer and Eye Fatigue Complaints among Bank Employees. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada. 2020;9(2):118-123.

<!--[if !supportLists]--><!--[endif]-->Pratiwi LN, Nurianti F. The Effect of Computer Usage Duration on Eye Discomfort Symptoms among Office Workers in Jakarta. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2018;12(1):45-52.

<!--[if !supportLists]--><!--[endif]-->Ciputra F, Dwipayani NM. Computer Vision Syndrome: Sebuah Tinjauan Pustaka. Al-Iqra Medical Journal: Jurnal Berkala Ilmiah Kedokteran. 2022;5(1):49-59.

<!--[if !supportLists]-->Blehm C, Vishnu S, Khattak S, Mitra S, Yee RW. Computer Vision Syndrome: A Review. Survey of Ophthalmology. 2005;50:253-62

<!--[if !supportLists]-->KEMENKES. Available at https://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/stress/page/15 /apa-itu-cvs- computer-vision-syndrome

Raja S. Computer Vision Syndrome: A Review. J Clin Ophthalmol Res. 2019;7(3):88-91.

Vichitvejpaisal P, Sitthi-Amorn C. Prevalence of Computer Vision Syndrome and Validity of Symptom Screening Questionnaire in College Students. Asian J Ophthalmol. 2017;15(2):88-95.

Ayaki M, Murakami K, Suzuki N, Negishi K. Impact of Computer Use on Refractive Error and Conjunctival Staining in Japanese University Students. J Epidemiol. 2012;22(1):61-66.

Sumber foto: dok pribadi