Senin, 27 November 2023 16:16 WIB

Kecanduan Nikotin

Responsive image
1127
Promosi Kesehatan, Tim Kerja Hukum dan Humas RSST - RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

Nikotin memiliki efek menyebabkan kecanduan karena dapat berikatan dengan reseptor asetilkolin nikotik yang terdapat pada saraf di otak. Aktivasi terhadap saraf ini akan mengakibatkan pengeluaran dopamin. Dopamin dalam otak meningkat sehingga memperkuat stimulasi otak dan mengaktifkan rewards pathway, yaitu pengaturan perasaan dan perilaku yang disebabkan karena adanya mekanisme tertentu di otak. Hal inilah yang menimbulkan keinginan untuk menggunakan nikotin kembali dan memicu ketergantungan fisik terhadap nikotin terjadi cepat dan hebat. Selain itu, dopamin sendiri merupakan senyawa kimia yang diproduksi oleh tubuh yang bertanggungjawab terhadap rasa senang, gembira, motivasi dan percaya diri pada manusia. Efek inilah yang diinginkan oleh perokok yang menyebabkan ketagihan. Sehingga apabila seseorang mengkonsumsi rokok secara terus-menerus maka akan meningkatkan kadar dopamin pada tubuh yang berakibat pada rasa kecanduan. Merokok merupakan penyebab kematian utama yang dapat dicegah di negara berkembang. Hampir 5 juta kematian premature disebabkan oleh rokok. Menurut suatu penelitian, apabila permasalahan ini berlanjut, maka pada tahun 2030, rokok dapat membunuh seperenam populasi. Penghentian kebiasaan merokok masih sulit dilakukan karena adanya efek adiktif atau kecanduan dari senyawa-senyawa yang terkandung dalam tembakau. Di dalam tembakau, terdapat lebih dari 3000 senyawa, tetapi yang menimbulkan efek kecanduan paling kuat adalah nikotin. Ketergantungan dapat didefinisikan sebagai keadaan dimana suatu zat dapat mengontrol perilaku. Ciri-ciri utama ketergantungan antara lain penggunaan suatu zat yang meimbulkan efek psikoaktif (efek pada otak yang dapat menimbulkan perubahan perilaku, emosi, persepsi dan kesadaran) yang memengaruhi perilaku pengguna.

Penanganan Kecanduan Nikotin

Penanganan pada penderita kecanduan nikotin dapat dilakukan dengan atau tanpa obat. Keinginan, motivasi dan komitmen yang kuat, serta konsisten dalam menjalani pengobatan, merupakan faktor-faktor penting untuk mengatasi kecanduan nikotin.

Kecanduan nikotin dalam bentuk rokok dapat diatasi dengan menghentikan kebiasaan merokok. Hal ini dapat dilakukan dalam 3 (tiga) cara, yaitu :  

1.      Berhenti seketika

Penderita berhenti merokok saat itu juga tanpa mengurangi rokok secara bertahap. Untuk perokok berat, cara ini membutuhkan bantuan medis guna mengatasi efek ketagihan.

2.      Menunda

Penderita menunda mengisap rokok pertama 2 jam setiap harinya. Misalnya, jika penderita terbiasa mengisap rokok pertama pukul 7 pagi, esoknya baru boleh mulai merokok jam 9 pagi, kemudian lusa mulai merokok pukul 11 siang. Dengan cara ini, berhenti merokok bisa direncanakan dalam 7 hari.

3.      Mengurangi

Penderita secara bertahap mengurangi jumlah rokok yang diisap setiap harinya. Jika penderita terbiasa mengisap rokok 24 batang sehari, kurangi 2-4 batang setiap hari.

Sekitar 90% penderita kecanduan nikotin mencoba berhenti dari kecanduannya tanpa bantuan obat atau terapi. Namun, metode ini dinilai kurang efektif, karena hanya 5-7% penderita yang benar-benar bisa berhenti. 

Oleh karena itu, beberapa metode di bawah ini mungkin diperlukan guna meningkatkan keberhasilan dalam berhenti merokok dan mengatasi kecanduan nikotin :

1.      Konseling

Dalam konseling, dokter akan menilai riwayat kecanduan pasien, tingkat kecanduan, dan kondisi kesehatan pasien. Berdasarkan penilaian tersebut, dokter akan memberi saran dan bantuan yang sesuai kepada pasien agar makin termotivasi untuk berhenti merokok.

Jika diperlukan, dokter juga akan merujuk pasien untuk konseling secara berkelompok dengan penderita lain atau mengikuti terapi perilaku.

Konseling bertujuan untuk membangkitkan motivasi pasien agar ia mau mengubah kebiasaannya. Dokter akan membantu pasien membuat rencana untuk berhenti merokok, sekaligus memberi saran mengenai cara untuk menghindari situasi yang membuat pasien ingin merokok.

Tidak hanya itu, pasien juga akan dibantu dalam mengatasi masalah mental yang timbul karena berhenti merokok.

2.      Terapi Perilaku

Dokter akan membantu pasien mencari faktor yang menyebabkan pasien merokok, serta menyusun rencana untuk menghindari faktor tersebut dan menghadapi gejala putus zat.

Ada 5 (lima) fase perubahan perilaku dari seorang perokok, yaitu :

a.      Fase Pra-kontemplasi

Pada fase ini, pasien belum berniat untuk berhenti sehingga harus diarahkan untuk berhenti merokok. Pasien akan dijelaskan kerugian merokok dan keuntungan dari berhenti merokok agar memiliki niat untuk berhenti.

b.      Fase Kontemplasi

Pada fase kontemplasi, dokter akan mendorong pasien untuk percaya bahwa berhenti merokok bisa dilakukan dan dokter akan membantu pasien untuk mulai berhenti merokok.

c.      Fase Persiapan

Pada fase persiapan, pasien sudah siap berhenti merokok. Dokter akan membantu pasien mengenali hambatan untuk melakukannya dan memberikan solusinya.

d.      Fase Aksi

Pada tahap ini, pasien sudah berhenti merokok hingga 6 bulan. Dokter akan membantu pasien agar tetap konsisten dan mencegah keinginan merokok datang kembali.

e.      Fase Pemeliharaan

Pasien sudah berhenti merokok lebih dari 6 bulan dan terbiasa tidak merokok dalam kesehariannya. Dokter akan membantu agar pasien tidak merokok lagi dan siap membantu jika pasien membutuhkan dukungan.

3.      Terapi Pengganti Nikotin (Nicotine Replacement Therapy)

Dalam terapi ini, dokter bisa memberikan plester, permen karet, obat semprot atau obat isap yang mengandung nikotin dalam kadar rendah, sehingga tubuh pasien secara perlahan mampu terlepas dari kecanduan nikotin.

4.      Obat-obatan

Obat yang umum digunakan untuk menghentikan kecanduan nikotin adalah bupropion dan varenicline. Kedua obat tersebut meniru efek nikotin pada tubuh dan mencegah timbulnya gejala putus zat.

Selain dengan menjalani terapi di atas, pasien juga disarankan untuk melakukan berbagai upaya berikut guna membantu proses penyembuhan :

1.      Berolahraga secara rutin.

2.      Memilih makanan sehat untuk dikonsumsi.

3.      Membuang semua rokok yang dimiliki.

4.      Menentukan target untuk berhenti dan hadiah jika berhasil mencapai target tersebut.

5.      Menghindari situasi yang bisa membuat pasien merokok kembali, misalnya berada di sekitar perokok.

Untuk penggunaan beberapa terapi lain, seperti hipnosis, akupuntur, dan konsumsi obat herbal, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter sebelum menjalaninya.

Pencegahan Kecanduan Nikotin

Cara terbaik untuk mencegah kecanduan nikotin adalah dengan menghindari penggunaan nikotin sejak awal. Jangan pernah mencoba nikotin dalam bentuk apa pun dan dalam jumlah berapa pun.

Beberapa cara di bawah ini juga dapat dilakukan secara bersama-sama untuk mencegah penggunaan nikotin yang dapat menyebabkan kecanduan :

1.      Membatasi akses terhadap rokok untuk anak di bawah umur.

2.      Membatasi akses merokok di ruang publik.

3.      Membatasi iklan produk rokok.

4.      Meningkatkan harga rokok dengan menaikkan pajaknya.

5.      Meningkatkan kesadaran akan bahaya merokok terhadap kesehatan.

 

Referensi :

Dian Siti Nurjanah. 2018. Terapi Kecanduan Rokok Menggunakan Metode Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT). Jurnal Kesehatan UIN Sunan Gunung Jati Bandung.

Astoni, M.A; M. Zulkarnaen. 1999. Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Merokok Serta Revalensi Perokok pada Remaja di Kelurahan Marianan Kecamatan Banyuasin I Kabupaten Musi Banyuasin. Jurnal Kedokteran Universitas Sriwijaya.

Faiz Zainuddin. SEFT For Healing +UIN Sunan Gunung Djati BandNational Institutes of Health. 2022. National Library of Medicine. Nicotine Addiction.

National Institutes of Health. 2022. National Institute on Drug Abuse. Tobacco, Nicotine, and E-Cigarettes Research Report.

Mayo Clinic. 2022. Diseases & Conditions. Nicotine Dependence.

American Academy of Family Physicians. 2021. All Policies. Tobacco : Preventing and Treating Nicotine Dependence and Tobacco Use (Position Paper).

Verywell Health. 2022. What Nicotine Does to Your Body.