Senin, 27 November 2023 10:24 WIB

Cegah Stunting itu Penting

Responsive image
1442
Promosi Kesehatan, Tim Kerja Hukum dan Humas RSST - RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

Stunting (kerdil) adalah keadaan saat balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan usia dan jenis kelamin yang diukur dengan standar pertumbuhan anak dari WHO. Adanya stunting menunjukkan status gizi yang kurang (malnutrisi) dalam jangka waktu yang lama (kronis). Masalah stunting di Indonesia merupakan masalah kesehatan yang belum dapat diatasi sepenuhnya oleh pemerintah, hal tersebut dibuktikan dengan prevalensi stunting di Indonesia mencapai 21,6?rdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022. Bukan hanya ukuran tinggi badan (pendek) yang memprihatinkan, tetapi yang lebih serius adalah dampak stunting terhadap rendahnya kecerdasan dan mempengaruhi kualitas SDM. Sehingga stunting harus dicegah untuk generasi berikutnya.                                         

Penyebab Stunting

Penyebab stunting bukan saja masalah sektor kesehatan akan tetapi masalah non kesehatan di antaranya masalah ekonomi, sosial budaya dan masalah lingkungan seperti perbaikan pola makan, perbaikan pola psuh, dan perbaikan sanitasi dan akses air bersih. Selain itu penyebab stunting antara lain :

1.      Wanita Usia Subur (WUS) dengan Kurang Energi Kronis (KEK).

2.      Anemia pada ibu hamil.

3.      Riwayat bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).

4.      Tidak diberikan ASI Eksklusif.

5.      Kurangnya asupan zat gizi.

6.      Kondisi sosial ekonomi dan lingkungan.

Dampak Stunting

Dampak yang ditimbulkan stunting dapat dibagi menjadi dampak jangka pendek dan jangka panjang.

1.      Dampak Jangka Pendek

a.      Peningkatan kejadian kesakitan dan kematian.

b.      Perkembangan kognitif, motorik, dan verbal pada anak tidak optimal.

c.      Peningkatan biaya kesehatan.

2.      Dampak Jangka Panjang

a.      Postur tubuh yang tidak optimal saat dewasa (lebih pendek dibandingkan pada umumnya).

b.      Meningkatnya risiko obesitas dan Penyakit Tidak Menular (PTM).

c.      Menurunnya kesehatan reproduksi.

d.      Kapasitas belajar dan performa yang kurang optimal saat masa sekolah.

e.      Produktivitas dan kapasitas kerja yang tidak optimal.

Pencegahannya

1.      Gizi seimbang untuk ibu selama kehamilan dan menyusui.

Mengonsumsi aneka ragam pangan untuk memenuhi kebutuhan energi, protein dan vitamin serta mineral sebagai pemeliharaan, pertumbuhan dan perkembangan janin cadangan selama masa menyusui, membatasi makan-makanan yang mengandung garam tinggi untuk mencegah Hipertensi karena meningkatkan risiko kematian janin, terlepasnya plasenta, serta gangguan pertumbuhan, minum air putih lebih banyak untuk mendukung sirkulasi janin, produksi cairan amnion dan meningkatnya volume darah, mengatur keseimbangan asam basa tubuh dan mengatur suhu tubuh. Asupan air minum sekitar 2-3 liter perhari (8-12 gelas sehari) untuk mendukung sirkulasi janin, produksi cairan amnion dan meningkatnya volume darah, mengatur keseimbangan asam basa tubuh, dan mengatur suhu tubuh bagi ibu hamil serta agar dapat menghasilkan air susu dengan cepat bagi busui.

2.      Intervensi 1000 hari pertama kehidupan.

Intervensi pada 1000 hari pertama kehidupan yakni 270 hari (9 bulan) masa kehamilan ibu, ditambah 730 hari (usia 0-2 tahun) setelah anak lahir. 1000 hari pertama kehidupan biasa disebut dengan “periode emas”. Pada periode ini, sangat dibutukan kecukupan gizi yang lengkap dan terpenuhi. Bila pada periode ini kecukupan pangan yang bergizi dan berkualitas tidak terpenuhi, maka pertumbuhan otak tidak optimal, imunitas yang kurang, dan berisiko terkena penyakit tidak menular.

3.      Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk ibu hamil.

Memperbaiki gizi dan kesehatan ibu hamil merupakan cara terbaik dalam mengatasi stunting. Ibu hamil perlu mendapat makanan yang baik, sehingga apabila ibu hamil dalam keadaan sangat kurus atau telah mengalami Kurang Energi Kronis (KEK), maka perlu diberikan makanan tambahan (PMT) untuk mengatasi kekurangan energi dan protein.

4.      Suplementasi zat besi.

Zat besi sangat dibutuhkan oleh ibu hamil untuk mencegah terjadinya anemia dan menjaga pertumbuhan janin secara optimal. Kementerian Kesehatan menganjurkan agar ibu hamil mengonsumsi paling sedikit 90 Tablet Tambah Darah (TTD) selama kehamilannya.

5.      Suplementasi seng dan vitamin A.

Pemberian suplementasi zink atau seng dan vitamin A pada balita dapat menurunkan kejadian infeksi saluran pernapasan dan diare yang dimana merupakan salah satu penyebab dari stunting.

6.      Peningkatan asupan kalsium dan vitamin D.

Kalsium dan vitamin D merupakan mikronutrien yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tulang. Defisiensi salah satu atau keduanya menyebabkan tulang tidak dapat tumbuh dengan optimal sehingga menyebabkan stunting.

7.      Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan ASI Eksklusif.

Melakukan kegiatan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) melalui pemberian ASI jolong / colostrum dan memastikan edukasi kepada ibu untuk terus memberikan ASI Eksklusif kepada anak balitanya selama 6 bulan.

8.      Pemberian MPASI secara bertahap.

Makanan tambahan yang diberikan kepada bayi selain ASI ketika ASI saja tidak dapat mencukupi kebutuhan, dengan tujuan melatih kemampuan bayi (mengunyah dan menelan)

Melatih menerima berbagai rasa dan tekstur makanan, merupakan proses memperkenalkan makanan dengan berbagai variasi tekstur, rasa, dan aroma yang meningkat, sambil tetap menyusui, Menurut  WHO, MPASI yang baik harus diberikan tepat waktu, adekuat, aman dan responsive.

9.      Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) harus diupayakan oleh setiap rumah tangga termasuk meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan untuk menurunkan kejadian tertular penyakit infeksi.  

Selain itu dengan memonitoring anak kita berarti kita berusaha agar tumbuh kembang dan kecerdasan optimal baik di Puskesmas maupun Posyandu untuk memantau BB/U, BB/TB kemudian TB/U pada KMS. Ingat stunting tidak dapat disembuhkan namun dapat dicegah.

 

Referensi :

Almatsier, Sunita. 2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Ardiaria, Martha. 2017. Asupan Mikronutrien dan Kejadian Anemia pada Ibu Hamil di Kota Semarang. Journal of Nutrition and Health Vol. 5 No. 1.

Candra, Aryu. 2020. Epidemiologi Stunting. Semarang. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. ISBN 978-623-7222-63-7.