Selasa, 21 November 2023 14:19 WIB

Gangguan Suara

Responsive image
354
Ali Achyar - RS Ortopedi Prof.Dr.R.Soeharso Surakarta

Gangguan suara terjadi ketika kualitas, nada, dan kenyaringan suara berbeda atau tidak sesuai dengan usia, jenis kelamin, latar belakang budaya, atau lokasi geografis seseorang (Aronson & Bless, 2009; Boone et al., 2010; Lee et al., 2004) . Gangguan suara muncul ketika seseorang mengungkapkan kekhawatirannya akan suara abnormal yang tidak memenuhi kebutuhan sehari-hari—meskipun orang lain tidak menganggapnya berbeda atau menyimpang  (American Speech-Language-Hearing Association [ASHA], 1993.

Gangguan suara dikategorikan sebagai berikut:

A. Organik —gangguan suara fisiologis yang diakibatkan oleh perubahan mekanisme pernapasan, laring, atau saluran vokal.

· Struktural —gangguan suara organik yang diakibatkan oleh perubahan fisik pada mekanisme vokal, seperti perubahan pada jaringan pita suara (misalnya edema atau nodul vokal) dan/atau perubahan struktural pada laring akibat penuaan.

· Neurogenik — kelainan suara organik yang diakibatkan oleh masalah pada persarafan sistem saraf pusat atau perifer hingga laring yang memengaruhi fungsi mekanisme vokal, seperti, getaran vokal, disfonia spasmodik, atau kelumpuhan pita suara.

B. Fungsional —gangguan suara akibat penggunaan mekanisme vokal yang tidak efisien ketika  struktur fisiknya normal, seperti kelelahan vokal, disfonia ketegangan otot atau aphonia, diplofonia, atau fonasi ventrikel.

Istilah disfonia mencakup gejala gangguan suara pendengaran-persepsi. Disfonia ditandai dengan perubahan kualitas vokal, nada, kenyaringan, atau upaya vokal.

Tanda dan gejala persepsi disfonia meliputi:

·         kualitas vokal yang kasar (suara serak,);

·         kualitas vokal nafas (terdengar keluarnya udara dalam sinyal suara atau semburan nafas);

·         kualitas vokal yang tegang (peningkatan usaha; tegang atau kasar);

·         kualitas vokal tercekik (seolah berbicara dengan napas tertahan);

·         nada tidak normal (terlalu tinggi, terlalu rendah, nada pecah, rentang nada menurun);

·         kenyaringan/volume tidak normal (terlalu tinggi, terlalu rendah, jangkauan menurun, volume tidak stabil);

·         resonansi abnormal (resonansi hipernasal, hiponasal, cul-de-sac);

·         aphonia (kehilangan suara);

·         gangguan fonasi;

·         asthenia (suara lemah);

·         suara berdeguk/terdengar basah;

·         suara melengking (suara tinggi menusuk, seolah menahan jeritan); Dan

·         suara gemetar (suara gemetar; nada berirama dan gelombang kenyaringan).

Pilihan pengobatan

A. Metode Aksen

Metode aksen dirancang untuk meningkatkan keluaran paru, meningkatkan efisiensi glotis, mengurangi ketegangan otot yang berlebihan, dan menormalkan pola getaran selama fonasi. Selama terapi, terapis dapat melakukan satu atau lebih tugas berikut (Kotby et al., 1993; Malki et al., 2008):

·         memfasilitasi pernapasan perut dengan menempatkan pasien dalam posisi telentang;

·         menggunakan permainan vokal berirama dengan model pola fonasi beraksen, yang kemudian ditiru oleh pasien; dan/atau

·         mentransfer ritme ke ucapan yang diartikulasikan, awalnya diberi model dan akhirnya berkembang melalui membaca, monolog, dan  percakapan.

B. Pelatihan Kekuatan Otot Ekspirasi

Meningkatkan kekuatan pernapasan selama fonasi. Peningkatan tekanan ekspirasi maksimum dapat dilatih dengan latihan spesifik yang dikalibrasi dari waktu ke waktu, sehingga meningkatkan hubungan antara pernapasan, fonasi, dan resonansi. Latihan ini menggunakan perangkat eksternal untuk membebani otot ekspirasi secara mekanis. Perangkat ini memiliki katup pegas satu arah yang menghalangi aliran udara hingga tekanan ekspirasi yang ditargetkan tercapai. Perangkat ini dapat dikalibrasi untuk menambah atau mengurangi beban fisiologis pada otot target (Pitts et al., 2009).

C. Fonasi Inhalasi

Fonasi inhalasi digunakan untuk memfasilitasi getaran vokal yang sebenarnya dengan adanya fonasi lipatan ventrikel yang biasa, aphonia fungsional, dan/atau disfonia ketegangan otot. Individu menghasilkan suara bernada tinggi saat menghirup. Saat inhalasi menyuarakan, pita suara yang sebenarnya berada dalam posisi meregang, tiba-tiba teradduksi, dan bergetar. Saat menghembuskan napas, pasien mencoba mencapai suara yang hampir sama. Pendekatan ini memudahkan cara untuk mendapatkan getaran pita suara yang sebenarnya.

Sikap

Pasien diinstruksikan teknik duduk dengan postur tegak dan bahu dalam posisi rendah dan rileks untuk memfasilitasi produksi suara dengan sedikit usaha. Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau ahli terapi okupasi mungkin diperlukan pada beberapa pasien.

Relaksasi

Dalam kasus hiperfungsi vokal, berbagai teknik relaksasi mungkin berguna sebagai alat untuk mengurangi ketegangan seluruh tubuh dan area laring. Tujuan dari teknik ini adalah untuk mengurangi upaya fonasi. Teknik yang sering digunakan meliputi relaksasi otot progresif (mengegang secara perlahan dan kemudian mengendurkan kelompok otot yang berurutan), visualisasi (membentuk gambaran mental tentang tempat atau situasi yang damai dan menenangkan), dan latihan pernapasan dalam.

 

Referensi:

https://www.asha.org/practice-portal/clinical-topics/voice-disorders/#collapse_6

https://parboaboa.com/data/foto_berita/Disfonia.webp

https://foto.kontan.co.id/dsAhkkBayNOSbPkVhTwA30v-UXM=/640x360/smart/2015/12/14/409367012p.jpg

https://w7.pngwing.com/pngs/717/529/png-transparent-noise-mark-noise-mark-noise-pollution-cartoon-thumbnail.png

https://static.republika.co.id/uploads/images/xlarge/076788000-1650030701-1280-856.jpg