Jumat, 03 November 2023 13:29 WIB

Amankah Perjalanan Udara pada Penderita Penyakit Jantung

Responsive image
1845
dr. Rido Jati Kuncara   - RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta

Penyakit jantung masih menjadi momok di kalangan masyarakat, terutama bagi penderita penyakit jantung tersebut dengan keluarganya. Para penderita penyakit jantung yang sudah stabil baik yang sudah ada tindakan operasi pemasangan ring, operasi jantung, maupun tidak ada tindakan seperti pasien gagal jantung sering timbul rasa khawatir jika mereka harus berpergian menggunakan pesawat terbang baik dalam rangka liburan maupun pekerjaan dimana dengan penerbangan menggunakan efisensi waktu dan jarak lebih nyaman pada umumnya.

Berbekal dari kekhawatiran penderita penyakit jantung yang hendak berpergian seperti itu lah membuat saya membikin artikel ini untuk membuka wawasan pada penderita penyakit jantung apakah aman untuk perjalanan udara? Oleh itu saya akan mencoba memberikan gambaran nya.

Perubahan di dalam kabin yang terkait dengan berkurangnya tekanan parsial oksigen, suhu, tingkat kelembapan yang lebih rendah, tempat duduk sempit dan imobilisasi, suara bising, turbulensi, dan ekspansi udara di rongga tubuh, dapat mengakibatkan kejadian medis darurat dalam penerbangan. Studi observasi kedaruratan medis pada perjalanan udara dari tahun 2008 hingga 2010, mencatat angka kejadian medis selama perjalanan udara adalah 1,6 per 100.000 penumpang. Sindrom koroner akut merupakan salah satu penyebab utama kematian selama perjalanan udara. Risiko tromboemboli vena (sumbatan pada pembuluh darah ) adalah sekitar tiga kali lebih tinggi pada penumpang perjalanan udara jarak jauh dibandingkan populasi umum.

Hubungan antara Tekanan Udara ,Tekanan Oksigen di dalam kabin dan oksigen pada individu

Kondisi lingkungan kabin selama penerbangan berbeda dengan kondisi normal di darat, ditandai dengan berkurangnya tekanan parsial oksigen dan kelembapan lebih rendah, distribusi udara yang tidak merata di dalam kabin, dan persentase udara yang didaur ulang di dalam lingkungan pesawat. Selama penerbangan, kabin merupakan lingkungan tertutup berventilasi yang dikendalikan oleh sistem  kontrol  lingkungan  untuk  menjaga  tekanan udara yang nyaman di dalam kabin pesawat. Pada ketinggian jelajah, kelembapan relatif dipertahankan antara 10% hingga 20%. Secara bersama-sama, faktor- faktor seperti udara kering dan tekanan O? rendah  dapat  meningkatkan  penguapan dari permukaan kulit dan kehilangan air melalui pernapasan yang disebabkan oleh peningkatan ventilasi (khususnya perubahan volume tidal) dan peningkatan kebutuhan untuk melembapkan udara yang masuk ke paru. Sebagian besar pesawat komersial umumnya terbang pada ketinggian 22.000–44.000 kaki (6.000–13.500 m) di atas permukaan laut, dengan penurunan tekanan oksigen arteri yang dapat ditoleransi dengan baik oleh individu sehat, tetapi dapat memicu iskemia dan aritmia pada pasien rentan. Ketinggian ini juga menyebabkan penurunan tekanan udara atmosfer sekitar 65% hingga 85?n penurunan tekanan parsial oksigen inspirasi sekitar 60% hingga 90%. Kabin pesawat diisi dengan udara atmosfer yang dikompresi dan diatur hingga mencapai tekanan atmosfer yang biasanya sekitar 25% lebih rendah dari tekanan di permukaan laut.

Pada ketinggian 20.000 kaki, tekanan parsial oksigen yang rendah dapat meningkatkan denyut  jantung sekitar  20%  hingga 25%  sebagai  mekanisme  kompensasi. Keseimbangan  antara  efek  vasodilatasi hipoksemia dan efek vasokonstriksi hipokapnia penting untuk mencapai perfusi serebral yang memadai. Jika tekanan O? arteri 35–40 mm Hg, suplai darah ke otak meningkat sebesar 50%–100%. Oleh karena itu, penumpang dengan hipoksia atau gangguan pernapasan mungkin membutuhkan oksigen tambahan selama penerbangan di ketinggian jelajah. Aliran oksigen mungkin perlu ditingkatkan selama durasi penerbangan.

Resiko Kardiovaskuler pada Perjalanan Udara

  1. Penyakit Jantung Koroner

Sistem saraf simpatis menjadi lebih baik dan memiliki banyak efek pada tubuh manusia. Kekurangan oksigen dalam tubuh dikenal sebagai hipoksemia. Karena pasokan darah yang tidak cukup ke jantung dan gangguan sirkulasi darah yang dapat mempengaruhi konduksi listrik jantung, pasien penyakit jantung koroner berisiko mengalami angina dan aritmia. Selain itu, upaya ventilasi meningkat sebagai respons terhadap hipoksia, dan denyut jantung meningkat. Kurva disosiasi oksigen menunjukkan bahwa orang dewasa sehat masih 80% jenuh dengan oksigen pada tekanan 65 mmHg. Akibatnya, orang dewasa yang sehat hampir tidak terpengaruh oleh ketinggian kabin pesawat tertinggi yang mungkin dicapai dalam kondisi normal; namun, orang dengan masalah pernapasan atau kardiovaskular mungkin terkena dampak dari tingkat hipoksia ini. Pasien dengan sindrom koroner akut (SKA) yang terkompensasi dengan baik dan tidak memiliki keluhan dapat melakukan penerbangan. Perjalanan udara biasanya aman dan tidak menimbulkan risiko perburukan keadaan jantung dua minggu setelah infark miokard (MI). Ini juga tidak memerlukan pendampingan medis atau oksigen tambahan. Penumpang dengan MI atau kapasitas fungsional terbatas harus menunggu lebih dari dua minggu, atau setidaknya sampai kondisi medis mereka stabil dengan pengobatan yang disarankan.

  1. Gagal Jantung

Dibandingkan dengan populasi umum, individu dengan gagal jantung lebih rentan terhadap perubahan fisiologis yang disebabkan oleh perubahan ketinggian. Perjalanan ke tempat dengan ketinggian lebih dari 2.500 meter di atas permukaan laut akan memicu proses fisiologis di jantung, paru-paru, dan sistem kardiovaskular. Menurunkan tekanan parsial oksigen dalam udara inspirasi adalah langkah pertama dalam proses ini. Hipoksia hipobarik meningkatkan frekuensi pernapasan dan volume tidal dengan cepat, yang menyebabkan alkalosis pernapasan dan efek diuresis.  Denyut jantung dan volume sekuncup meningkat melalui aktivasi sistem saraf simpatik untuk mengkompensasi kadar oksigen arteri yang lebih rendah.

C.  Hipertensi

Terdapat risiko  potensial  peningkatan  signifikan tekanan arteri sistemik pada individu dengan tekanan darah tidak terkontrol. Tidak ada batasan nilai tekanan darah untuk “hipertensi yang tidak terkontrol”. Namun, pasien dengan tekanan darah lebih dari 180/120 mmHg (krisis hipertensi), terutama jika disertai tanda cedera organ (target organ damage) serta mengalami pusing, nyeri dada, bingung, sakit kepala parah, dan masalah penglihatan, harus mencari perawatan medis khusus dan tidak diizinkan terbang. Pilot dengan hipertensi terkontrol baik tanpa tanda kerusakan organ diperbolehkan untuk terbang.

D. Gangguan irama jantung (aritmia)

Risiko aritmia jantung dapat meningkat karena aktivasi simpatis yang meningkat sebagai akibat dari hipoksia akut dan peningkatan kadar katekolamin. Orang yang tidak mengalami gejala atau tidak stabil dapat terbang. Orang dengan fibrilasi atrium persisten dapat terbang setelah mengontrol kecepatan denyut jantung dan antikoagulan yang tepat. Orang dengan riwayat aritmia ventrikel atau penyakit jantung lainnya disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum melakukan penerbangan. Pasien yang menjalani operasi ablasi atas indikasi aritmia jantung disarankan untuk melakukan penerbangan setelah satu minggu pasca-operasi.

E. Pasca Riwayat Operasi Jantung

Menurut Canadian Cardiac Society merekomendasikan bahwa pasien dengan kadar hemoglobin <9>(CABG) disarankan menghindari perjalanan udara selama 3-10 hari pasca-operasi sampai udara di dalam rongga dada terserap sempurna.

Pengetahuan yang memadai tentang lingkungan penerbangan, efek fisik penerbangan terhadap tubuh, dan stres yang disebabkan oleh perjalanan udara harus menjadi dasar keputusan setiap penumpang tentang apakah terbang atau tidak. Perubahan tekanan atmosfer di kabin dapat menyebabkan perubahan tubuh selama penerbangan. Penumpang dengan kondisi kesehatan jantung yang stabil harus mempertimbangkan perubahan ini untuk menentukan stratifikasi risiko dan penilaian klinis keamanan penerbangan. Penumpang yang memiliki penyakit jantung tidak stabil, berisiko tinggi, atau baru menjalani prosedur jantung disarankan untuk melakukan tindakan pencegahan khusus sebelum perjalanan udara.

Referensi :

Koh CH. Commercial air travel for passengers with cardiovascular disease: Stressors of flight and aeromedical impact. Curr Problem Cardiol. 2021;46(3):100746. doi:10.1016/j.cpcardiol.2020.100746.

Zubac D, Stella AB, Morrison SA. Up in the air: Evidence of dehydration risk and long-haul flight on athletic performance. Nutrients 2020;12:2574. doi: 10.3390/nu12092574.

Okyay K. Systemic arterial hypertension and flight. Anatolian J Cardiol. 2021;25(1):7-9. doi: 10.5152/AnatolJCardiol.2021.S104.

Bagshaw M, Illig P. The aircraft cabin environment, travel medicine. 4th Ed. Elsevier 2019;429-36. doi: 10.1016/B978-0-323-54696-6.00047-1.

Ercan E. Effects of aerospace environments on the cardiovascular system. Anatolian J Cardiol. 2021;25(1):3-6. doi: 10.5152/AnatolJCardiol.2021. S103.

Ceyhan MA, Menekse IE. In-flight medical emergencies during commercial travel. J Travel Med. 2021;28(7):1-8. doi: 10.1093/jtm/taab094.

Hammadah M, Kindya BR, Allard-Ratick MP, Jazbeh S, Eapen D, Tang WHW et.al. Navigating air travel and cardiovascular concerns: Is sky the limit?Clin Cardiol. 2017;40(9):660-6. doi: 10.1002/clc.22741.

Sumber gambar: https://www.freepik.com/free-photo/beautiful-view-clouds-captured-from-airplane-window_9183987.htm#query=amankah perjalanan udara&position=40&from_view=search&track=ais