Kamis, 08 Juni 2023 09:35 WIB

Kegawatdaruratan Orthopedi : Sindroma Kompartemen

Responsive image
2024
dr. Hasmeinda Marindratama, SpOT - RS Ortopedi Prof.Dr.R.Soeharso Surakarta

Sindrom kompartemen ( compartment syndrome ) adalah kedaruratan bedah terkenal yang disebabkan oleh peningkatan tekanan di dalam kompartemen fasia atau osteo-fasia yang mengakibatkan perubahan vaskular, iskemia, dan nekrosis. Kondisi ini biasanya terjadi setelah kejadian traumatis. Laporan sindrom kompartemen nontraumatik akut yang disebabkan oleh antikoagulasi sistemik pada pasien dengan penyakit jantung sindroma koroner akut.

Sindrom kompartemen akut (ACS) umumnya terjadi setelah insiden traumatis, tetapi sindrom kompartemen spontan (tanpa peristiwa predisposisi) juga dapat terjadi meskipun jarang,. Sindrom kompartemen terjadi secara spontan sebagai komplikasi antikoagulan sistemik yang jarang terjadi.

Sindrom kompartemen juga memiliki 2 macam yaitu, akut dan kronis. Dari kondisi akut dan kronis, masing-masing memiliki penyebab dan gejala yang berbeda. Berikut penjelasannya.

  1. Sindrom kompartemen akut merupakan kondisi yang umumnya gawat darurat medis dan membutuhkan penanganan yang tepat. Penyebab dari kondisi sindrom kompartemen akut : patah tulang atau cedera yang menimbulkan keremukkan pada lengan dan kaki, penggunaan gips atau perban yang terlalu ketat dengan kondisi bengkak yang belum reda, luka bakar yang menyebabkan jaringan parut dan kencang pada kulit, serta cedera otot yang menimbulkan luka memar. 
  2. Sindrom kompartemen kronis merupakan kondisi yang terjadi terjadi secara bertahap dan bukan kondisi gawat darurat. Sindrom kompartemen kronis  biasanya terjadi pada saat latihan fisik seperti lari atau bersepeda. Gejala nya adalah rasa kram, kesulitan menggerakkan pada kaki, dan adanya tonjolan pada otot. 

Operasi kerap menjadi pilihan utama bagi pengidap sindrom kompartemen akut untuk menghindari komplikasi lanjutan. Tindakan bedah bernama fasciotomy akan dilakukan dengan membuka lapisan pelindung kompartemen otot (fascia) untuk mengurangi tekanan dan mengangkat sel otot yang sudah mati jika ditemukan. Luka operasi umumnya akan ditutup beberapa hari setelahnya agar tidak menimbulkan sindrom kompartemen kembali.

Salah satu teknik penutupan luka selain jahitan adalah skin grafting. Melalui teknik ini, dokter akan mengambil kulit sehat dari tubuh pengidap dan menggunakannya untuk menutup luka. Tindakan skin grafting biasa dilakukan jika luka tidak kunjung pulih. Operasi untuk memperbaiki sindrom kompartemen sedapat mungkin dilakukan segera dengan tetap memperhatikan kondisi pengidap.

 

Referensi  :

Duckwrath AD, Mc Queen MM. Focus on diagnosis of acute compartment syndrome. J Bone and Joint Surg. 2011;40:467-72

Giannoudis PV, Tzioupis C, Pape HC. Early diagnosis of tibial compartment syndrome: Continuous pressure measurement. Injury 2009;40:341-2

Shuler MS, Reisman WM, Kinsey TL, Whitesides TE Jr, Hammerberg EM, Davila MG, et al. Correlation between muscle oxygenation and compartment pressure in acute compartment syndrome of the leg. J Bone Joint Surg [Am] 2010; 92(4): 863-70. doi: 10.2106/JBJS.I.00816.

https://mmc.tirto.id/image/otf/1024x535/2022/09/27/istock-1317234837_ratio-16x9.jpg

https://d1bpj0tv6vfxyp.cloudfront.net/pemeriksaanuntukmendiagnosissindromkompartemenhalodoc.jpg

https://cms.sehatq.com/public/img/disease_img/sindrom-kompartemen-1561358909.jpg

https://www.drbenjaminhewitt.com.au/wp-content/uploads/2017/09/ccs.jpg