Rabu, 26 April 2023 07:34 WIB

Obat Anti-Jamur : Bebas Terbatas

Responsive image
4071
Dr. dr. Luh Made Mas Rusyati, Sp. KK(K), FINSDV, F - RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah

Infeksi akibat jamur telah mencapai angka 40 juta penduduk setiap tahunnya. Penyakit jamur yang sering dan dianggap ringan adalah panu. Panu merupakan salah satu penyakit infeksi jamur yang sering didiagnosis dan ditangani sendiri oleh pasien. Jamur penyebab panu merupakan jamur yang normal terdapat pada tubuh manusia khususnya di daerah kepala dan tidak menimbulkan gejala apapun. Kondisi tertentu seperti perubahan usia terutama saat beranjak dewasa merupakan salah satu hal yang mengakibatkan jamur ini menjadi panu pada pasien. Hal ini dikaitkan dengan peningkatan produksi kelenjar minyak, meningkatnya produktivitas sehingga mengakibatkan mudah berkeringat, serta ketidak seimbangan asam basa kulit.

Kurangnya nutrisi seperti kandungan seng juga mengakibatkan munculnya gejala panu. Bercak yang muncul biasanya dapat berwarna lebih putih maupun lebih coklat daripada kulit sehatnya dan sering menyebar dengan cepat dan luas sehingga mengakibatkan rasa malu oleh pasien. Rasa malu inilah yang mengakibatkan pasien sering mencoba pengobatan anti-jamur sendiri.

Sebagai pengobatan, obat anti-jamur hadir untuk mengatasi berbagai keluhan yang disebabkan oleh jamur. Obat ini tersedia dalam bentuk salep, tablet, sampo, dan obat suntik. Cara kerja obat anti-jamur adalah dengan membunuh atau menghambat perkembangan sel jamur. Sebagian besar obat anti-jamur memiliki kode berwarna biru pada kemasannya, yang menandakan obat tersebut merupakan obat bebas terbatas. Obat bebas terbatas adalah obat yang dijual bebas di apotek dan toko obat berijin serta dapat dibeli tanpa resep dokter. Meskipun dapat diperoleh tanpa resep dokter, obat terbatas memiliki peringatan khusus saat menggunakannya. Selain itu, keluhan yang dialami sebaiknya diperiksa terlebih dahulu untuk menentukan apakah benar keluhan yang dialami merupakan suatu infeksi jamur atau malah sudah sembuh dan tidak lagi memerlukan obat anti-jamur terutama tablet anti-jamur.

Durasi penggunaan obat anti-jamur cukup bervariasi dan sangat bergantung pada lokasi keluhan, seperti mata, kulit, rambut, kuku, hingga organ dalam tubuh. Penggunaan yang terlalu singkat dapat menimbulkan infeksi berulang dan membutuhkan pengobatan yang lebih kompleks. Sebaliknya, anti-jamur yang digunakan dalam jangka panjang memiliki berbagai efek samping yang cukup berbahaya bila tidak digunakan dengan tepat. Efek samping yang mungkin terjadi di antaranya adalah sensasi terbakar, kemerahan, gatal, mual, muntah, hingga gangguan pada hati yang disebabkan oleh obat anti jamur tablet yang diminum. Konsumsi obat anti jamur yang diminum secara tidak tepat juga akan menimbulkan efek resisten.

Oleh sebab itu, bila terdapat keluhan yang dirasa mengganggu sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu pada Dokter Spesialis Dermatologi & Venereologi (Kulit & Kelamin) agar mendapatkan pengobatan yang tepat. Beberapa hal juga dapat dilakukan untuk menghindari infeksi jamur, di antaranya adalah menjaga kulit agar tetap bersih dan kering, terutama daerah lipatan kulit serta tidak menggunakan barang pribadi (mis. handuk, sisir) secara bersama-sama.

 

 

Referensi:

Garg A, Sharma GS, Goyal AK, Ghosh G, Si SC, Rath G. Recent advances in topical carriers of anti-fungal agents. Vol. 6, Heliyon. 2020.

Nareza M. Antijamur [Internet]. Alodokter. 2022 [diakses 23 Maret 2023]. Dikutip dari: https://www.alodokter.com/antijamur

PIO Nas. Pedoman Umum [Internet]. [diakses 24 Maret 2023]. Dikutip dari: https://pionas.pom.go.id/ioni/pedoman-umum

Makarim FR. Infeksi jamur [Internet]. Halodoc. 2022 [diakses 24 Maret 2023]. Dikutip dari: https://www.halodoc.com/kesehatan/infeksi-jamur

<!--[if supportFields]><![endif]-->