Rabu, 15 Maret 2023 08:17 WIB

Mengenal Diskalkulia

Responsive image
6245
Tim Promkes RSST - RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

Setiap individu selalu mengalami perubahan. Perubahan individu merupakan manivestasi dari proses belajar. Hasil belajar adalah semua aktivitas belajar yang ditunjukkan dengan perubahan tingkah laku individu tersebut. Jadi belajar bukan sekedar suatu hasil melainkan juga suatu proses dan pengalaman dari aktivitas belajar. Oleh karena itu belajar berlangsung secara aktif dan integratif dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai suatu perubahan.

Setiap siswa tidak hanya melibatkan kemampuan fisik, akan tetapi juga melibatkan kemampuan mental secara kognitif. Kemampuan mental tersebut yang dibutuhkan siswa untuk melihat kesiapan siswa dalam aktivitas belajar. Dalam sebuah ulasan, mengatakan bahwa perubahan yang terjadi akibat belajar merupakan perubahan yang erat kaitannya dengan aspek mental atau kejiwaan dan dapat berpengaruh terhadap tingkah laku.

Setiap siswa mempunyai kemampuan mental yang berbeda dalam menyerap stimulus yang diperlukan sebagai proses belajar. Hal itu selaras dengan ulasan yang menyatakan bahwa perbedaan tersebut terjadi sebagai akibat latar belakang hereditas dan lingkungan mereka yang berbeda pula. Dalam ulasan lainnya disampaikan bahwa kemampuan mental yang berbeda pada tiap-tiap individual dikarenakan perbedaan operasi yang ada, baik dari sel-sel otak, alat-alat indera bahkan pada bagian-bagian lain dari sistem syaraf dalam otak.

Kita ketahui pastinya Tiap siswa mempunyai cara belajar yang berbeda-beda, tidak semua mampu menangkap pelajaran dengan baik, beberapa dari mereka ada yang merasa susah untuk menangkap pelajaran dan sebagian yang lain dapat dengan mudahnya menerima apa yang dipelajari. Hal tesebut sering ditemui pada tiap siswa dalam aktivitas belajar. Dengan adanya perbedaan aktivitas belajar, menyebabkan terjadinya perbedaan tingkah laku tiap siswa. Siswa yang susah melakukan aktivitas belajar inilah disebut dengan kesulitan belajar. Dalam sebuah ulasan lainya berasumsi bahwa masalah yang menyebabkan seseorang mengalami kesulitan dalam belajar dapat berupa sindrom psikologis yaitu berupa ketidakmampuan belajar (learning disability). Salah satu sindrom psikologis yang mengganggu aktivitas belajar dikenal dengan sebutan diskalkulia.

Diskalkulia merupakan suatu ketidakmampuan belajar (learning disability) dengan salah satu cirinya yaitu kekacauan dalam berhitung. Dalam ulasan lainnya disampaikan diskalkulia ialah ketidakmampuan berhitung yang penyebabnya gangguan pada sistem saraf pusat. Ketidakmampuan berhitung akibat gangguan sistem saraf yang dimaksud adalah siswa lemah pada kemampuan persepsi sosial, juga lemah terhadap konsep arah dan waktu, serta terkena gangguan memori. Begitu pula siswa yang mengalami kesulitan dalam membedakan bentuk geometrik, simbolik, konsep angka, bahkan kesulitan dalam melakukan operasi matematika seperti operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian serta pembagian dengan mahir. Diskalkulia merupakan kesulitan belajar dalam berhitung padahal keterampilan berhitung merupakan salah satu dasar dalam menyelesaikan masalah dalam matematika dan merupakan sarana yang penting untuk menguasai bidang studi lainnya.

Dalam sebuah penelitian disampaikan, bahwa sekitar 3 – 7 % anak yang duduk di bangku sekolah dasar (SD) mengalami diskalkulia. Meski kondisi ini lebih sering ditemukan pada anak-anak dengan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), namun demikian diskalkulia bukan termasuk dalam gangguan mental.

Berikut adalah beberapa Ciri – ciri anak diskalkulia yang perlu kita kenali :

  • Panik setiap kali bertemu pelajaran matematika atau kecewa jika menemukan permainan atau game yang membutuhkan kemampuan berhitung
  •  Masih menghitung dengan jari ketika anak lain seusianya sudah tidak lagi melakukannya
  • Sulit memperkirakan ukuran, misalnya berapa tinggi sesuatu atau berapa lama perjalanan dari satu tempat ke tempat lain
  • Sulit memahami perhitungan matematika dasar, seperti pertambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian
  • Sulit menghubungkan antara angka dengan kata yang mewakilinya (1 dengan ‘satu’)
  • Sulit menghitung uang dan kembalian
  • Sulit membaca jam dan mengingat kombinasi angka seperti nomor telepon
  • Kesulitan mengikuti petunjuk bertahap dan mengenali pola
  • Bingung dengan angka yang mirip, seperti 75 dan 57
  • Bisa mengerjakan soal matematika pada suatu hari, tapi keesokan harinya sama sekali lupa caranya

Selain beberapa hal diatas, seseorang yang mengalami diskalkulia dapat menunjukkan gejala emosional saat menghadapi situasi yang berhubungan dengan matematika. Gejala emosional ini dapat berupa marah, cemas, atau takut, serta gejala fisik, seperti mual, muntah, berkeringat, atau sakit perut.

Mendampingi Anak dengan Diskalkulia

Dalam hal ini tentunya kita melihat, jangan buru-buru menganggap anak mengalami diskalkulia, misalnya anak mengalami ketertinggalan dalam pelajaran matematika. Ada baiknya kita periksakan ke dokter untuk mengetahui kemungkinan adanya gangguan lain, seperti gangguan penglihatan atau pendengaran, yang mungkin membuatnya sulit memahami penjelasan guru. Untuk mengetahui apakah anak benar-benar mengalami diskalkulia atau tidak, ia harus melakukan serangkaian tes. Umumnya, tes yang dilakukan meliputi kemampuan matematika dasar, kelancaran dalam mengingat matematika dasar, kemampuan berhitung menulisnya, dan kemampuan untuk memahami kata.

jika memang benar anak mengalami diskalkulia, ada beberapa hal yang dapat dijadikan panduan dalam mendampingi anak diantaranya :

  • Mengenali gaya belajar yang tepat

Cobalah bantu anak dalam mempelajari matematika dengan pendekatan lain. Misalnya, menggunakan benda yang dapat dilihat dan disentuh untuk membantu memahami pertambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.

Kita bisa juga menggunakan ritme dan musik untuk mengajarkan langkah-langkah atau rumus dalam matematika. Jika anak merasa lebih mudah menggunakan jarinya untuk menghitung, biarkan ia melakukannya dan yakinkan ia bahwa hal ini tidak perlu membuatnya malu dengan teman-temannya.

  • Membicarakan kondisi ini dengan guru di sekolah

Guru sekolah harus mengerti keadaan anak. Dengan begitu, orangtua bersama guru dapat bekerja sama untuk menemukan pendekatan lain untuknya. Selain itu, dengan mengerti kondisi ini guru bisa memberikan kompensasi untuk mengerjakan tugas dan ulangan di sekolah.

Selain itu, guru juga bisa melindungi buah hati dari perlakuan yang tidak adil atau mungkin ejekan dari teman-temannya yang pintar menghitung. Umumnya, anak perlu belajar di tempat yang tenang tanpa hal-hal yang dapat memecah konsentrasinya.

  • Memuji setiap usaha anak

Apa pun hasilnya, selalu hargai usaha yang anak lakukan. Beri pujian tiap kali ia berusaha dalam belajar matematika. Puji anak saat ia memperlihatkan nilai ulangan matematikanya yang meningkat, meski nilainya masih di bawah rata-rata. Jangan memarahinya dan melakukan kekerasan karena hal ini bisa membuat anak stres.

  • Membantu anak mengelola kecemasan

Orangtua dapat membantu anak menerima kelemahannya, serta mengenali dan mendukung kekuatannya di bidang lain. Ajak anak berbicara mengenai hal ini, sehingga ia mampu mengatasi kecemasan yang ia rasakan.

Jangan sampai melabeli anak yang mengalami diskalkulia sebagai anak bodoh. Dengan pendampingan yang tepat, anak dengan diskalkulia dapat mengatasi masalahnya sekaligus tetap mengembangkan kemampuannya di bidang lain.

Dengan melihat beberapa ulasan diatas, tentunya mengatasi dampak negatif pada anak diskalkulia dalam menyelesaikan masalah matematika adalah menciptakan pembelajaran matematika menjadi hal yang menarik, membuat masalah matematika tersebut lebih kontekstual, beri kesempatan untuk dapat memanipulasi benda-benda konkrit, memvisualisasi setiap simbol-simbol, lakukan secara teratur kontinyu, dan bertahap, ciptakan kondisi menyenangkan jauh dari tekanan, dan jadilah sahabat yang siap mendampingi mereka. Dan tentunya, kita ketahui kebahagiaan dan kesuksesan tidak semata-mata berasal dari nilai ujian matematika.

Bila anak masih belum ada perubahan meski kita sudah melakukan beragam cara, termasuk menerapkan tips dalam belajar matematika, ada baiknya ajak anak untuk berkonsultasi dengan dokter anak ahli tumbuh kembang atau psikolog anak. Hal ini diharapkan mampu membantu mengatasi masalah diskalkulia yang dialaminya. 

 

Referensi :

Dalyono, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2001)

Haris Mudjiman dan Munawir Yusuf (Ed). Disfungsi Minimal Otk (DMO) dan Kesulitan Belajar Siswa. (Surakarta: Pusat Penelitian UNS, 1990)

 Soemanto, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 1998)

https://www.alodokter.com/anak-kesulitan-matematika-bisa-jadi-ia-mengalami-dyscalculia

Yenny Suzana,Iyana Maulida Email: yenni.suzana@gmail.com Tarbiyah & Ilmu Keguruan IAIN Langsa, Langsa, Provinsi Aceh “Mengatasi Dampak Negatif Diskalkulia Dalam Menyelesaikan Masalah Matematika”  Logaritma: Jurnal Ilmu-ilmu Pendidikan dan Sains Vol.7, No.01 Juni 2019