Rabu, 08 Februari 2023 11:51 WIB

Demam Kuning

Responsive image
2392
Tim Promkes RSST - RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

Menurut World Health Organization (WHO), diperkirakan hanya 200.000 orang yang terinfeksi demam kuning setiap tahunnya. Demam kuning adalah penyakit serius seperti flu yang disebabkan oleh virus dan ditularkan melalui nyamuk. Penyakit ini ditandai dengan demam tinggi dan penyakit kuning, yakni kondisi menguningnya kulit dan mata. Inilah sebabnya penyakit ini disebut demam kuning. Gejala demam kuning meliputi demam, nyeri kepala, jaundice atau ikterik, nyeri otot, mual, muntah, dan lemas. Epidemik yang luas dapat terjadi jika orang yang telah atau sedang mengalami demam kuning tinggal di daerah hunian padat dengan densitas nyamuk yang tinggi, dan orang-orang yang tinggal di daerah tersebut tidak atau belum memiliki kekebalan sehingga mudah tertular virus. Demam kuning dapat dicegah dengan vaksin yang efektif, aman, dan terjangkau. Satu dosis vaksin dapat memberikan kekebalan seumur hidup terhadap penyakit demam kuning dan tidak perlu dilakukan vaksinasi tambahan. Vaksin tersebut baru mulai bekerja secara efektif dalam waktu 30 hari sejak pemberiannya. Demam kuning atau yellow fever merupakan penyakit yang berbahaya. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini berisiko tinggi menimbulkan komplikasi serius, seperti gagal ginjal dan koma. Pada sejumlah kasus, demam kuning bahkan bisa menyebabkan kematian.

Penyebab Demam Kuning

Demam kuning umumnya ditemukan di wilayah Afrika, Amerika Selatan, Amerika Tengah, dan Karibia. Demam kuning juga dapat menyerang penduduk yang tinggal di daerah endemik, atau orang yang sedang mengunjungi daerah tersebut.

Demam kuning disebabkan oleh virus jenis Flavivirus yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti, Aedes albopictus, Haemagogus sp., dan Sabethes sp. Jenis nyamuk ini berkembang biak di lingkungan sekitar manusia, termasuk di air bersih.

Nyamuk Aedes aegypti membawa virus setelah menggigit manusia atau monyet yang terinfeksi. Virus kemudian memasuki aliran darah nyamuk dan menetap di kelenjar air liur nyamuk. Ketika nyamuk tersebut kembali menggigit manusia atau monyet lain, virus akan memasuki aliran darah dan menyebar di dalam tubuh manusia atau monyet tersebut.

Nyamuk Aedes aegypti paling aktif pada siang hari. Oleh sebab itu, penyebaran virus demam kuning paling banyak berlangsung pada waktu tersebut.

Gejala Demam Kuning

Gejala demam kuning muncul dalam tiga fase, yaitu fase inkubasi, akut, dan toksik.

1.      Fase inkubasi

Pada fase ini, virus yang masuk ke dalam tubuh belum menimbulkan tanda-tanda atau gejala. Fase inkubasi berlangsung selama 3-6 hari setelah terinfeksi.

2.      Fase akut

Fase ini terjadi pada hari ke-3 atau ke-4 setelah terinfeksi, dan dapat berlangsung selama 3-4 hari. Pada fase ini, penderita demam kuning mulai merasakan gejala-gejala, seperti :

a.      Demam

b.      Menggigil

c.      Pusing

d.      Nyeri otot

e.      Sakit kepala

f.       Kemerahan di mata, wajah, atau lidah

g.      Silau terhadap cahaya

h.      Hilang nafsu makan

i.       Mual dan muntah

j.       Mudah lelah

3.      Fase toksik

Gejala pada fase akut tersebut disertai dengan keluhan yang lebih serius, seperti :

a.      Kulit dan bagian putih mata (sklera) menguning

b.      Perdarahan dari hidung, mulut, dan mata

c.      Muntah yang terkadang disertai darah

d.      Gangguan irama jantung (aritmia)

e.      Urine yang keluar sedikit

f.       Sakit perut

g.      Gagal ginjal

h.      Gagal hati

i.       Syok

j.       Gangguan otak, meliputi delirium, kejang, hingga koma

Pemeriksaan Demam Kuning

Berikut ini adalah upaya yang dilakukan dokter untuk mendiagnosis demam kuning :

1.      Melakukan pemeriksaan fisik lengkap dari kepala hingga kaki, termasuk pemeriksaan suhu tubuh dan tekanan darah.

2.      Melakukan tes darah untuk mengetahui ada tidaknya virus di dalam darah, atau untuk mendeteksi antibodi yang muncul ketika tubuh terinfeksi virus.

3.      Demam kuning terkadang sulit didiagnosis karena gejalanya cukup umum dan menyerupai gejala penyakit lain, seperti malaria, tifus, dan demam berdarah.

Pengobatan Demam Kuning

Tidak ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit demam kuning selain system kekebalan tubuh masing-masing penderita. Kendati demikian, terdapat beberapa metode penanganan yang dapat dilakukan dokter untuk mengatasi gejala, yaitu :

1.      Memberikan oksigen tambahan.

2.      Menjaga tekanan darah tetap stabil dengan infus cairan.

3.      Melakukan prosedur transfusi darah, bila terjadi anemia akibat perdarahan.

4.      Menjalankan prosedur cuci darah jika mengalami gagal ginjal.

5.      Memberikan obat demam dan pereda nyeri.

6.      Memberikan antibiotik atau pengobatan lain jika demam kuning disertai infeksi bakteri.

Pencegahan Demam Kuning

Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah demam kuning :

1.      Vaksinasi

Vaksinasi adalah cara paling utama untuk mencegah demam kuning. Beberapa negara bahkan mengharuskan para turis memiliki sertifikat imunisasi sebelum memasuki negara tersebut.

2.      Perlindungan dari gigitan nyamuk

Selain vaksinasi, risiko demam kuning juga dapat dikurangi dengan melindungi diri dari gigitan nyamuk melalui upaya-upaya di bawah ini :

a.      Gunakan baju lengan panjang dan celana panjang, terutama jika beraktivitas di luar ruangan.

b.      Pasang kawat nyamuk di lubang udara, seperti di pintu atau jendela.

c.      Gunakan kelambu, jika tidak memiliki pendingin ruangan atau jendela kawat nyamuk di rumah.

d.      Gunakan lotion pengusir nyamuk sesuai petunjuk dan jangan berlebihan, karena lotion pengusir nyamuk dapat bersifat racun.

e.   Gunakan produk yang memang diperuntukkan untuk bayi dan anak-anak bila ingin menggunakan lotion anti nyamuk ke bayi dan anak-anak.

f.       Gunakan beberapa bahan alami yang juga mampu memberikan perlindungan terhadap gigitan nyamuk, seperti minyak kayu putih.

 

Referensi :

Mohammad Subuh. 2017. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Demam Kuning. Dirjen P2P Kemenkes RI Jakarta.

Reno, E., et al. 2020. Prevention of Yellow Fever in Travellers : An Update. The Lancet Infectious Diseases, 20(6), pp. 129-37.

Ho, Y., et al. 2019. Severe Yellow Fever in Brazil : Clinical Characteristics and Management. Journal of Travel Medicine, 26(5), pp. 1-7.

Chippaux, J., & Chippaux, A. 2018. Yellow Fever in Africa and the Americas : A Historical and Epidemiological Perspective. Journal of Venomous Animals and Toxins including Tropical Diseases, 24(20), pp. 1-14.

Centers for Disease Control and Prevention. 2019. Yellow Fever.

 National Health Service Inform Scotland. 2022. Illnesses and Conditions. Yellow Fever.

 National Health Service UK. 2020. Health A to Z. Yellow Fever.

 Cleveland Clinic. 2022. Disease & Conditions. Yellow Fever.

 Story, C. Healthline. 2021. Yellow Fever.