Jumat, 09 Desember 2022 15:15 WIB

Henti Jantung Mendadak

Responsive image
3663
dr. Rindayu Yusticia Indira Putri - RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta

Kesehatan jantung memang selalu menjadi perbincangan yang tak ada habisnya, terutama pada kelompok usia tertentu dimana masalah kardiovaskular mulai banyak mengintai. Masalah kesehatan jantung seringkali memiliki penampilan berupa gejala yang fatal yang tak jarang berjalan sangat cepat hingga kematian mendadak. Pada 29 September kemarin pada kampanye hari jantung sedunia / world heart day, Perhimpulan Dokter Kardiovaskular Indonesia (PERKI) mengambil tajuk edukasi tentang basic life support untuk menolong korban henti jantung mendadak/ sudden cardiac arrest. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan henti jantung mendadak dan mengapa masalah ini mendapat perhatian yang begitu besar?

Henti jantung mendadak (HJM) adalah berhentinya secara tiba-tiba dari aktifitas normal jantung yang disertai dengan kolaps hemodinamik yang berasal dari masalah jantung. Hal ini dapat diartikan dalam hitungan detik, aktifitas listrik dan pompa jantung berhenti medadak dan menyebabkan seluruh sistem sirkulasi manusia kolaps atau berhenti berjalan. Pasien yang mengalami HJM tentu akan mengalami hilang kesadaran mendadak dan jatuh. Hal ini biasanya yang menjadi penyebab seseorang terjatuh tiba-tiba di tempat umum atau fasilitas olahraga yang membutuhkan pertolongan amat segera dan tidak jarang penolong haruslah orang yang ada di tempat kejadian. 1

Kejadian HJM seringkali ditemui di tempat umum dan keramaian. HJM menempati 50 % dari kematian pada masalah jantung, dan yang menjadi masalah adalah kejadian HJM ini sebanyak 50 % merupakan gejala pertama yang muncul pada pasien yang sebelumnya tidak memiliki riwayat masalah jantung, sehingga dapat juga diartikan sebagai silent killer. Pada pasien yang memiliki kelainan jantung tetapi sebelumnya tidak ada keluhan yang muncul sama sekali, bisa saja HJM adalah gejala pertama yang muncul. Tentu hal ini akan menjadi sangat fatal saat kejadian tersebut berlokasi di tempat yang sepi atau di rumah pasien. Kejadian henti jantung juga semakin meningkat dengan seiring peningkatan usia seseorang. Data dari European Society of Cardiology (ESC), HJM terjadi pada 50 dari 100.000 pasien berusia 50-60 tahun dan lebih sering terjadi pada jenis kelamin laki-laki. 1

Di negara barat, HJM paling sering terjadi akibat penyakit jantung koroner (PJK), dimana terjadi pada 75-80 % kasus. Berbeda dari anjuran yang umum diberikan pada pasien dengan masalah jantung, aktifitas fisik dan olahraga terutama yang berat justru menjadi pencetus HJM saat atau setelah olahraga pada beberapa populasi. 1

Penyebab dan jenis HJM bervariasi bergantung dari rentang usia seseorang. Baik angka kejadian maupun variasinya amat berbeda dalam sebaran usia yang berbeda. Seorang pasien yang relatif berusia muda akan didominasi oleh masalah kelainan listrik jantung bawaan, infeksi jantung dan kardiomiopati. Dimana pada pasien di usia dekade ke-4 atau lebih, setengah dari kasus HJM memiliki latar belakang penyebab dari PJK, terutama serangan jantung koroner.

Siapa yang Berisiko Mengalami Henti Jantung Mendadak?

Di dalam masyarakat secara umum yang tidak memiliki riwayat penyakit jantung sebelumnya, HJM dapat terjadi pada siapa saja mengingat ini dapat merupakan gejala pertama yang muncul. Terdapat kelainan listrik jantung yang memang sulit untuk dideteksi dengan pemeriksaan sederhana. Namun, pemeriksaan lanjut di bidang kardiologi seperi rekam jantung/ elektrokardiografi (EKG), foto thorax, serta USG jantung (ekokardiografi) dan treadmill secara umum dapat dapat mendeteksi secara awal pasien yang memiliki potensi untuk terjadinya HJM yang mengancam nyawa. Salah satu indikator paling penting adalah fraksi ejeksi yang didapatkan dari pemeriksaan ekokardiografi. Pada beberapa kelainan tertentu, tes genetik terhadap gen mutasi penyebab kelainan listrik jantung dapat dilakukan terutama pada pasien yang memiliki riwayat anggota keluarga yang meninggal mendadak yang tidak dapat dijelaskan.

Kewaspadaan serta Kesadaran

Kejadian HJM dapat terjadi dimanapun, kapanpun dan pada siapapun. Bagaimana menyikapinya bila berhadapan dengan HJM. Pengetahuan dan pemahaman tentang teknik resusitasi dasar menjadi amat penting, terutama di periode waktu yang kritis sebelum tim medis atau paramedis datang. Ini merupakan elemen kunci yang dapat meningkatkan angka keselamatan pada pasien yang mengalami HJM. European Society of Cardiology merekomendasikan akses yang mundah terlihat terhadap alat automated external defibrilator (AED) di tempat umum dimana HJM sering muncul, juga tersedianya bystander atau penolong yang memiliki kemampuan resusitasi dasar, dan yang terakhir adalah pelatihan dan edukasi pada komunitas tentang basic life support ke semua elemen masyarakat tidak hanya di fasilitas pelayanan kesehatan, seperti mall, sekolah, bandara, terminal, dll.1

 

Referensi:

Zeppenfeld K, Tfelt-Hansen J, de Riva M, et al. 2022 ESC Guidelines for the management of patients with ventricular arrhythmias and the prevention of sudden cardiac death. Eur Heart J. Published online 2022:1-130. doi:10.1093/eurheartj/ehac262

Sumber gambar: freepik.com