Kamis, 24 November 2022 11:09 WIB

Labirinitis

Responsive image
3117
Tim Promkes RSST - RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

Labirinitis adalah infeksi telinga bagian dalam, tepatnya pada bagian yang disebut labirin membran. Kondisi ini menyebabkan bagian dalam saluran telinga dalam meradang, sehingga memengaruhi pendengaran serta keseimbangan telinga. Labirinitis bisa disebabkan oleh infeksi bakteri atau infeksi virus. Gejala umumnya meliputi : pusing, mual, kehilangan pendengaran, dan vertigo (sensasi pusing berputar). Perawatan infeksi saluran telinga dalam biasanya melibatkan penggunaan obat-obatan untuk meredakan gejalanya. Setelah diobati, kebanyakan penderita labirinitis akan berhenti mengalami gejala dalam 1-3 minggu. Namun, waktu pemulihan hingga benar-benar sembuh biasanya berlangsung hingga satu atau dua bulan. Labirin telinga terdiri dari saluran setengah lingkaran (kanalis semisirkularis) dan saluran berbentuk seperti siput (koklea). Keduanya dihubungkan dengan saluran bernama vestibulum. Labirin telinga berfungsi untuk menyalurkan suara ke otak dan mengatur keseimbangan tubuh. Labirinitis terjadi jika labirin atau salah satu saraf di dalamnya terinfeksi bakteri atau virus. Labirinitis atau labirintitis dapat menyerang salah satu atau kedua telinga.

Penyebab Labirinitis

Labirinitis disebabkan oleh infeksi di syaraf kranial ke-8 atau labirin telinga itu sendiri. Infeksi tersebut bisa terjadi akibat virus atau bakteri.

Virus penyebab labirinitis umumnya berasal dari beberapa penyakit, seperti :

1.      Influenza

2.      Penyakit gondok

3.      Herpes

4.      Campak

5.      Rubella

6.      Polio

7.      Hepatitis

8.      Epstein-Barr

Sementara itu, labirinitis akibat infeksi bakteri umumnya terjadi pada anak-anak yang terkena otitis media. Pada kasus yang jarang terjadi, labirinitis juga bisa disebabkan oleh infeksi bakteri meningitis atau cedera kepala.

Faktor Risiko Labirinitis

Ada beberapa kondisi yang dapat membuat seseorang lebih rentan menderita labirinitis, yaitu:

1.      Menderita flu dan batuk pilek.

2.      Merokok

3.      Mengalami stres berat.

4.      Menderita kecanduan alcohol.

5.      Mengalami kelelahan yang berkepanjangan.

6.      Memiliki riwayat alergi.

7.      Minum obat-obatan tertentu, seperti : antidepresan, antiradang, dan obat untuk diabetes.

Gejala Labirinitis

Gejala labirinitis bisa terjadi secara tiba-tiba, terutama ketika bangun tidur pagi. Tanda dan gejala labirintitis antara lain :

1.       Hilang keseimbangan

2.       Vertigo

3.       Mual dan muntah

4.       Telinga berdenging (tinnitus)

5.       Pendengaran berkurang

6.       Penglihatan kabur

Pemeriksaan Labirinitis

Dokter dapat menyarankan pemindaian untuk mendeteksi penyakit lain yang gejalanya serupa dengan labirinitis, seperti stroke atau tumor otak. Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan berupa :

1.      Tes audiometri, untuk menilai kemampuan mendengar dan mendeteksi masalah pendengaran.

2.      MRI kepala, untuk mendeteksi stroke, tumor otak, atau perdarahan otak.

3.      Elektroensefalografi (EEG), untuk memeriksa gelombang otak.

4.      Elektronistagmografi (ENG), untuk memeriksa gerakan mata dan otot yang mengontrolnya.

Penanganan Labirinitis

Pengobatan labirinitis atau labirintitis akan disesuaikan dengan penyebab, gejala, dan keparahan kondisi pasien. Beberapa metode pengobatan yang dapat dilakukan oleh dokter adalah :

1.      Obat-obatan

Berikut adalah beberapa jenis obat yang dapat digunakan untuk mengobati labirinitis :

a.      Kortikosteroid untuk meredakan peradangan.

b.      Antihistamin untuk meredakan vertigo.

c.      Antibiotik untuk mengobati labirinitis yang disebabkan oleh infeksi bakteri.

d.      Antimual, untuk meredakan gejala mual dan muntah.

e.      Obat penenang untuk membantu pasien beristirahat dan tidur malam.

2.      Perawatan mandiri

Selain minum obat-obatan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meredakan atau mencegah gejala kambuh kembali, seperti :

a.      Mengompres telinga yang nyeri dengan kompres hangat.

b.      Tidak merokok dan tidak mengonsumsi minuman beralkohol.

c.      Menghindari perubahan posisi kepala secara tiba-tiba.

d.      Segera duduk atau berbaring bila vertigo kambuh.

e.      Menghindari penggunaan sinar terang dari komputer, HP, atau televisi.

f.       Tidak berkendara sendirian atau menjalankan mesin berat.

Pencegahan Labirinitis

Labirinitis tidak selalu bisa dicegah. Namun, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menurunkan risiko terkena gangguan kesehatan yang menyebabkan labirinitis, yaitu :

1.      Tidak merokok.

2.      Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat agar terhindar dari infeksi.

3.      Mengobati otitis media hingga sembuh.

4.      Melakukan vaksinasi untuk mencegah campak, gondongan, dan rubella.

5.      Membatasi konsumsi minuman beralkohol.

6.      Mengelola stres dengan baik.

 

Referensi :

Sri Wahyu Basuki, dkk. 2021. Labirinitis. Jurnal Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Taxak, P. & Ram, C. 2020. Labyrinthitis and Labyrinthitis Ossificans a Case Report and Review of the Literature. Journal of Radiology Case Reports, 14(5), pp. 1-6.

Laccarino, I., et al. 2019. A Case of External Auditory Canal Osteoma Complicated with Cholesteatoma, Mastoiditis, Labyrinthitis, and Internal Auditory Canal Pachymeningitis. Acta Otorhinolaryngologica Italica, 39(5), pp. 358-62.

Byun, S., et al. 2018. Acute Vertigo and Sensorineural Hearing Loss from Infarction of the Vestibulocochlear Nerve. Medicine, 97(41), pp. e12777.

National Institutes of Health. 2022. National Library of Medicine. Labyrinthitis.

Cleveland Clinic. 2021. Disease & Conditions. Labyrinthitis.

MedicineNet. 2022. Inner Ear Infection (Labyrinthitis) : Symptoms, Causes, & Treatment.