Jumat, 28 Oktober 2022 14:13 WIB

Senyum Indah dan Sehat pada Gigi Lansia

Responsive image
5470
Tim Promkes RSST - RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

Lanjut usia adalah setiap orang yang berusia 60 tahun atau lebih, yang secara fisik terlihat berbeda dengan kelompok umur lainnya. Umumnya setiap orang akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua adalah masa hidup manusia yang terakhir. Pada masa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental, dan sosial hingga tidak melakukan tugasnya sehari-hari lagi dan bagi kebanyakan orang masa tua kurang menyenangkan.

Kita ketahui bahwa gigi memiliki fungsi untuk pengunyahan, berbicara, dan estetika. Gigi pada lansia mungkin sudah banyak yang rusak, bahkan copot sehingga memberikan kesulitan saat mengunyah makanan. Berkurangnya kemampuan mencerna makanan akibat kerusakan gigi atau ompong merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kebutuhan gizi lansia. Tentunya kehilangan gigi pada lansia berdampak pada berbagai persoalan, di antaranya dampak psikologis seperti merasa malu, tegang, kehilangan selera makan, malnutrisi, tidur terganggu, kesulitan bergaul, menghindar untuk keluar, tidak memiliki teman, konsentrasi terganggu, hingga tidak dapat bekerja secara total. Kesehatan gigi merupakan salah satu aspek dari kesehatan seseorang yang merupakan hasil interaksi dari kondisi fisik, mental, dan sosial.

Kehilangan gigi merupakan penyebab terbanyak menurunnya fungsi pengunyahan. Kehilangan gigi juga dapat mempengaruhi rongga mulut dan kesehatan umum sehingga akan mempengaruhi kualitas hidup seseorang secara keseluruhan. Kehilangan gigi dapat disebabkan oleh berbagai hal. Penyebab terbanyak kehilangan gigi adalah akibat buruknya status kesehatan rongga mulut, terutama karies dan penyakit periodontal.

Dijelaskan dalam sebuah Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 di Provinsi Bali berdasarkan kelompok usia diperoleh data bahwa, kelompok usia 55-64 tahun memiliki proporsi tertinggi dalam permasalahan kesehatan gigi dan mulut, yaitu 30,8%. Lansia diharapkan minimal mempunyai 20 gigi berfungsi, hal ini berarti bahwa fungsi pengunyahan mendekati normal, walaupun sedikit berkurang. Demikian halnya fungsi estetik serta fungsi bicara masih dapat dianggap normal dengan jumlah gigi minimal 20 buah.

Dalam sebuah teori dijelaskan lansia merupakan proses alamiah yang tidak dapat dihindarkan. Secara biologis akan terjadi kemunduran-kemunduran fisik pada lansia, tanda-tanda kemunduran fisik antara lain : a) kulit mulai mengendur dan pada wajah timbul keriput serta garis-garis yang menetap; b) rambut mulai beruban dan menjadi putih; c) gigi perlahan-lahan mulai tanggal hingga ompong; d) ketajaman penglihatan dan pendengaran berkurang; e) mudah lelah; f) gerakan mulai lamban dan kurang lincah; g) kerampingan tubuh menghilang dan terjadi timbunan lemak di beberapa bagian tubuh.

Dalam hal ini tentunya pencegahan kerusakan gigi pada lansia sangat berpengaruh pada kesehatan gigi lansia, kita ketahui para lansia seringkali mengabaikan kebersihan gigi dan mulutnya, mereka sering mengeluh sakit gigi, gigi goyang, dan dapat menyebabkan gigi tanggal. Kondisi ini dapat dicegah dengan pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut yaitu dengan menggosok gigi secara teratur agar pembentukan bakteri dalam mulut dapat dicegah. Hal ini dapat dilakukan secara teratur dan berkesinambungan dimulai dari diri sendiri dengan cara : 1) menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan menyikat gigi secara teratur dan membersihkan gusi dengan baik. Bagi yang tidak ada gigi dengan menggunakan kapas yang dicelupkan ke dalam air hangat, tujuan pembersihan ini untuk menghindari tumbuhnya jamur pada gusi; 2) mengatur pola makan dengan menghindari makanan yang dapat merusak gigi seperti banyak mengandung gula; 3) pemeriksaan gigi secara teratur ke dokter gigi, puskesmas, ataupun rumah sakit setiap 6 (enam) bulan sekali untuk mengetahui kelainan yang ada pada mulut sejak dini.

Kegiatan yang harus dilakukan selain seperti di atas, para lansia tentunya juga perlu diberi tindakan pencegahan penyakit gigi dan mulut seperti dalam pelaksanaan asuhan keperawatan. Berbagai upaya perlu diperhatikan baik oleh lansia, keluarga, maupun petugas kesehatan yang melaksanakannya, antara lain :

Upaya Promotif

Dengan memberikan penyuluhan tentang : a) cara pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut.; b) pentingnya protesa untuk mengembalikan fungsi kunyah; c) pemeriksaan secara berkala.

Upaya Preventif

Berupa : a) pemeliharaan gigi dan mulut termasuk protesanya; b) pemilihan jenis makanan yang mudah dikunyah dan dicerna ; c) deteksi dini bila ada kelainan mukosa untuk mencegah keganasan sehingga segera melakukan pemeriksaan; d) pemeriksaan berkala ke dokter gigi.

Upaya Kuratif dan Rehabilitatif

Perawatan diri untuk lansia dalam menjaga kebersihan gigi dan mulutnya, yaitu : 1) untuk yang masih mempunyai gigi : a) bila ada karang gigi dan atau gigi berlubang sebaiknya segera ke dokter gigi untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut; 2) menyikat gigi secara teratur minimal 2 (dua) kali dalam sehari, pagi dan malam sebelum tidur; 3) bagi lansia yang menggunakan gigi palsu lepasan, maka gigi palsu tersebut disikat dengan sikat gigi perlahan-lahan di bawah air mengalir, bila perlu dapat menggunakan pasta gigi. Waktu tidur gigi palsu tersebut dilepas dan direndam di dalam air bersih; 4) bagi lansia yang tidak mempunyai gigi sama sekali, setiap habis makan seharusnya langsung berkumur-kumur dan juga menyikat bagian gusi dan lidah secara teratur untuk membersihkan sisa makanan yang melekat.

Sepuluh langkah agar dapat hidup lebih lama, sehat, dan berarti untuk lansia yaitu : 1) menciptakan pola makan yang baik, kemudian bersahabat dengannya. Ciptakan suasana yang menyenangkan di meja makan sehingga dapat menimbulkan selera makan; 2) memperkuat daya tahan tubuh, dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung zat gizi yang penting untuk kekebalan, seperti : biji-bijian utuh, sayuran hijau, makanan laut; 3) mencegah tulang agar tidak menjadi keropos dan mengkerut, dengan makanan yang mengandung vitamin D. Pada usia di atas 60 tahun kemampuan penyerapan kalsium menurun, vitamin D membantu penyerapan kalsium dalam tubuh, contoh makanan sumber vitamin D adalah susu; 4) memastikan agar saluran pencernaan tetap sehat, aktif, dan teratur. Untuk itu harus makan sedikitnya 20 gram makanan yang mengandung serat seperti biji-bijian, jeruk, dan sayuran yang berdaun hijau tua; 5) menyelamatkan penglihatan dan mencegah terjadinya katarak dengan makanan yang mengandung vitamin C, E, dan B, serta antioksidan; 6) mengurangi risiko penyakit jantung dengan membatasi makanan berlemak yang banyak mengandung kolesterol dan natrium serta harus banyak makan makanan yang kaya vitamin B6, B12, asam folat, serat yang larut dalam air, kalsium, dan kalium; 7) agar ingatan tetap baik dan sistem syaraf tetap bagus, harus banyak makan vitamin B6, B 12, dan asam folat; 8) mempertahankan berat badan ideal dengan jalan tetap aktif secara fisik, makan rendah lemak dan kaya akan karbohidrat kompleks; 9) menjaga agar nafsu makan tetap baik dan otot tetap lentur, dengan cara melakukan olah raga aerobik, berjalan, atau berenang. Olah raga dilakukan menurut porsi masing- masing usia serta tingkat kebugaran setiap orang; 10) tetap beraktifitas setiap hari.

Dari beberapa ulasan di atas tentunya dapat digaris bawahi bahwa lansia harus tetap memelihara giginya sehingga minimal memiliki 20 gigi berfungsi agar dapat mengunyah makanan dengan baik. Pengunyahan makanan yang baik serta pemenuhan kebutuhan gizi yang seimbang akan turut menjaga agar lansia tetap sehat. Selain itu juga perlunya pemeriksaan gigi secara rutin, sehingga kesehatan gigi pada lansia tetap terjaga. Agar lansia dapat hidup lebih lama, sehat, dan berarti disarankan untuk tetap menjaga pola hidup sehat serta beraktifitas setiap hari.

 

Referensi :

Akhdrisa Mura Wijaya, I Dewa Putu Pramantara, Retno Pangastuti. Status Kesehatan Oral dan Asupan Zat Gizi Berhubungan dengan Status Gizi Lansia. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, Vol. 8, No. 3.

Departemen Kesehatan R.I. Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut Bagi Petugas Kesehatan. Jakarta : t.p. 2001.

Departemen Kesehatan R.I. Pedoman Puskesmas Santun Usia Lanjut. Jakarta : t.p; 2003.

Kementerian Kesehatan R.I. Gambaran Kesehatan Lanjut Usia di Indonesia.

Kementerian Kesehatan R.I. Buku Panduan Pelatihan Kesehatan gigi dan Mulut Kader Posyandu. Jakarta : t.p. 2012.

Pasiga B. Dampak Sosial Akibat Kondisi Gigi dan Mulut Kelompok Lanjut. Majalah Ilmiah Kedokteran Gigi (Edisi Khusus Foril VII), hal. 257-259.2002.

Rahardjo dan Tri B. W. Kebijakan tentang Kesejahteraan Penduduk Lansia di Indonesia Serta Kaitannya dengan Upaya Pembinaan Kesehatan, Termasuk Bidang Kesehatan Gigi. Majalah Ilmiah Kedokteran Gigi 1 (Edisi Khusus Foril V 1996), hal. 68-78. 1996.

Wasilah Rocmah, Soedjono Aswin. Tua dan Proses Menua. Yogyakarta, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (Berkala Ilmu Kedokteran, Vol.33, No. 4, 2001.

Asep Arifin Senjaya. Gigi Lansia. Dosen Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Denpasar.