Kamis, 01 September 2022 10:43 WIB

Bahaya Melakukan "Self Diagnosis" Gangguan Jiwa

Responsive image
10027
dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ - RS Jiwa dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor

Saat ini banyak sekali beredar video video di media sosial seperti TikTok, Instagram, Youtube, dll. yang menunjukkan tanda dan gejala dari gangguan jiwa. Hal ini ternyata cukup memengaruhi banyak orang yang merasa bahwa tanda dan gejala itu dirasakannya sehingga mendiagnosis dirinya sendiri dengan gangguan jiwa tertentu atau yang biasa disebut self diagnosis.

Self diagnosis adalah bagaimana kita mendiagnosis diri sendiri terkena suatu penyakit berdasarkan pengetahuan yang dimiliki atau setelah membaca informasi di internet yang berkaitan dengan keluhan tersebut. Padahal informasi yang tersedia di internet seringkali tidak dapat dipertanggungjawabkan secara medis atau tidak evidence-based medicine.

Salah Persepsi pada Self Diagnosis

· Depresi, tidak sama dengan sedih karena hari yang buruk

· ADHD, tidak sama dengan lebih aktif dari hari biasa dan kurang fokus

· PTSD, tidak sama dengan perasaan jengkel, kecewa karena 1 peristiwa tertentu yang tidak mengenakkan

·  Panic Disorder, tidak sama dengan perasaan takut sesaat

·  OCD, tidak sama dengan orang serba teratur dan sesuai prosedur

·  Bipolar, tidak sama dengan orang yang moody

Alasan Orang Melakukan Self Diagnosis

·  Infodemi, banyaknya informasi, berita di internet yang tidak memiliki dasar ilmiah

·  Ingin tahu, rasa ingin tahu yang butuh cepat dipenuhi

·  Takut ke profesional, kekhawatiran datang ke profesional kesehatan jiwa karena stigma, biaya, dll.

·   Tren, adanya romantisme tentang kesehatan jiwa yang sedang tren dan kekinian

Bahaya Melakukan Self Diagnosis

·   Under diagnosis, mengabaikan penyakit yang sebenarnya berat sehingga berakibat fatal

·   Over diagnosis, menjadi takut dan panik karena merasa sudah terkena penyakit yang berat

·   Misdiagnosis, diagnosis yang salah yang berdampak pada penanganan yang salah dan mencari pertolongan ke tempat yang tidak tepat

·    Salah terapi, berusaha sendiri mencari terapi yang tidak sesuai dengan yang dibutuhkan

·    Stigma dan diskriminasi termasuk self stigma

Gangguan jiwa adalah penyakit medis yang memiliki patologi gangguan di dalam saraf otak. Gangguan jiwa adalah penyakit otak. Gangguan jiwa ada di mana-mana dan bisa mengenai siapa saja tanpa memandang latar belakang dan status ekonomi serta pendidikannya. Gangguan jiwa terjadi melalui suatu proses yang terjadi beberapa waktu sebelumnya, bisa cepat, bisa juga lebih lambat. Apabila dideteksi dengan lebih cepat, maka gangguan jiwa akan lebih mudah diterapi, diobati sehingga yang bersangkutan dapat pulih dan produktif kembali.

Tips Mencegah Self Diagnosis

·  Self Diagnosis NO, Self Awareness YES

·  Tidak melakukan tes Kesehatan jiwa dari sumber yang tidak kredibel, kunjungi www.pdskji.org untuk melakukan swaperiksa masalah psikologis secara online

·  Tidak melakukan Self Diagnosis melalui media sosial (Tiktok, Instagram, Youtube, dll.)

·  Tidak membandingkan gejala dengan orang lain

· Segera konsultasi ke profesional kesehatan jiwa bila mengalami gejala gangguan jiwa agar mendapat diagnosis yang pasti dan terapi yang cepat dan tepat

 

Referensi:

American Psychiatric Association. (2010). DSM-5 development. Retrieved from https://www.dsm5.org/Pages/Default.aspx

Bell, V. ( 2007). Online information, extreme communities and Internet therapy: Is the Internet good for our mental health? Journal of Mental Health, 16, 445-457.

Stolzenburg S, Freitag S, Evans-Lacko S, Muehlan H, Schmidt S, Schomerus G. The Stigma of Mental Illness as a Barrier to Self Labeling as Having a Mental Illness. J Nerv Ment Dis. 2017 Dec;205(12):903-909.