Jumat, 26 Agustus 2022 14:47 WIB

Osteofit

Responsive image
6449
Tim Promkes RSST - RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

Bagi orang awam, kata osteofit pasti asing untuk didengar, namun kondisi tersebut sudah bukan lagi kondisi yang asing terjadi di dunia medis. Bagi orang awam osteofit mungkin sering disebut dengan taji kecil. Osteofit adalah suatu kondisi kelainan pada tulang dimana tulang yang tumbuh menonjol ke arah luar tubuh yang muncul di tempat pertemuan kedua tulang atau persendian. Terkadang kondisi seperti kasus osteofit belum menunjukkan gejala-gejala yang khas sehingga membuat penderita belum ke dokter dan tidak terdeteksi bertahun-tahun lamanya. Osteofit ini diketahui paling sering tumbuh dan paling banyak pada area leher, bahu, lutut, punggung bawah, kaki, tumit, dan jari-jari tangan atau kaku. Osteofit atau bone spur lebih sering dialami oleh orang berusia di atas 60 tahun. Akan tetapi, osteofit juga bisa dialami oleh orang yang lebih muda akibat cedera atau kondisi kesehatan tertentu. Osteofit umumnya tidak berbahaya, kecuali bila sampai menekan saraf. Penderita dengan kondisi tersebut harus menjalani pengobatan untuk mencegah komplikasi serius.

Penyebab Osteofit

Osteofit terjadi sebagai respon tubuh terhadap kerusakan di sekitar sendi. Penyebab osteofit yang paling umum adalah osteoartritis, yaitu peradangan akibat terkikisnya tulang rawan di sekitar sendi secara perlahan.

Selain akibat osteoartritis, kerusakan pada sendi juga dapat disebabkan oleh kondisi medis tertentu, seperti rheumatoid arthritis, ankylosing spondylitis, lupus, penyakit gondok, atau penyempitan pada ruas tulang belakang (stenosis spinal).

Faktor Risiko Osteofit

Osteofit dapat dialami oleh siapa saja, tetapi risikonya lebih besar pada orang dengan beberapa faktor berikut ini :

1.      Memiliki berat badan berlebih atau obesitas.

2.      Berusia di atas 60 tahun.

3.      Mengalami cedera

4.      Memiliki riwayat osteofit dalam keluarga.

5.      Memiliki kebiasaan duduk atau berdiri dengan posisi yang buruk.

6.      Memiliki kelainan pada struktur tulang, seperti scoliosis.

Gejala Osteofit

Osteofit umumnya tidak menimbulkan gejala. Akan tetapi, gejala dapat muncul jika terjadi gesekan antara osteofit dengan tulang, atau bila osteofit menekan saraf, tendon, serta struktur lain di sekitarnya.

Tergantung pada lokasi pertumbuhannya, osteofit juga dapat menimbulkan gejala spesifik, seperti :

1.      Osteofit di leher, dengan gejala berupa sakit, kesemutan, dan mati rasa di area lengan akibat saraf terjepit.

2.      Osteofit di bahu, dengan gejala berupa pembengkakan dan nyeri sehingga pergerakan bahu menjadi terbatas.

3.      Osteofit di tulang belakang, dengan gejala berupa nyeri dan mati rasa di punggung, lengan, atau kaki akibat terjepitnya saraf tulang belakang.

4.      Osteofit di pinggang, dengan gejala nyeri ketika menggerakkan pinggang sehingga pergerakan pinggang menjadi terbatas.

5.      Osteofit di jari, dengan gejala berupa benjolan atau tonjolan di jari yang terasa keras.

6.      Osteofit di lutut, dengan gejala berupa nyeri ketika meluruskan atau menekuk kaki.

Gejala yang muncul akibat osteofit dapat makin memburuk jika penderita melakukan aktivitas atau gerakan pada bagian tubuh yang mengalami osteofit.

Pemeriksaan Osteofit

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik di bagian tubuh yang mengalami keluhan akan dilakukan, untuk mengukur kekuatan otot dan pergerakan sendi pasien. Jika diperlukan, dokter dapat melakukan pemindaian untuk memastikan diagnosis, seperti :

1.      Foto rontgen, untuk mendeteksi perubahan pada struktur tulang.

2.      CT scan, untuk melihat lebih jelas kondisi tulang, sendi, atau jaringan lain yang terkena osteofit.

3.      MRI, untuk memeriksa jaringan seperti ligamen dan tulang rawan dengan lebih detil.

4.      Myelogram, untuk memeriksa gangguan di ruas tulang belakang pada pasien yang tidak bisa menjalani MRI.

Penanganan Osteofit

Ada beberapa metode pengobatan yang dapat digunakan untuk menangani osteofit, yaitu :

1.      Obat-obatan

Dokter dapat memberikan obat-obatan untuk meredakan gejala peradangan yang dialami pasien.

2.      Fisioterapi

Fisioterapi atau terapi fisik bertujuan untuk mengembalikan kekuatan otot dan kemampuan gerak di sekitar sendi yang mengalami gangguan. Terapi ini juga mencakup latihan peregangan otot, pemijatan, dan kompres hangat atau dingin untuk meredakan nyeri.

3.      Operasi

Operasi dilakukan jika osteofit telah menekan saraf tertentu dan menimbulkan nyeri hebat sehingga membatasi gerak tubuh pasien. Prosedur ini biasanya digunakan untuk menangani osteofit yang menimbulkan gangguan pada pinggang, lutut, atau persendian di bagian bawah ibu jari.

Operasi bertujuan untuk mengangkat osteofit atau melebarkan ruas tulang belakang yang mengalami penyempitan akibat osteofit.

 

 

 

Referensi          :

Vendries, V., et al. 2021. Three-Dimensional Ultrasound for Knee Osteophyte Depiction : a Comparative Study to Computed Tomography. International Journal of Computer Assisted Radiology and Surgery, 16(10), pp. 1749-59.

Vitaloni, M., et al. 2019. Global Management of Patients with Knee Osteoarthritis Begins with Quality of Life Assessment : a Systematic Review. BMC Musculoskeletal Disorders, 20(493), pp. 1-12.

National Health Service UK. 2019. Health A to Z. Osteophyte (Bone Spur).

Cleveland Clinic. 2020. Disease & Conditions. Bone Spurs (Osteophytes).

Johns Hopkins Medicine. 2021. Conditions and Diseases. Myelopathy.

Eustice, C. Verywell Health. 2020. How an Osteophyte (Bone Spur) Develops.

Roland, J. Healthline. 2017. Bone Spurs : What You Should Know About Osteophytosis.