Rabu, 10 Agustus 2022 09:16 WIB

Cacingan pada Anak

Responsive image
11136
Novita Agustina, Ns, M.Kep, Sp.Kep. A - RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang

penyakit cacingan merupakan salah satu factor yang dapat menyebabkan anak menderita kurang gizi. Kelompok anak usia sekolah dasar adalah salah satu kelompok umur yang rentan terhadap penyakit-penyakit kekurangan gizi. Cacingan secara kumulatif pada manusia dapat menimbulkan kehilangan zat gizi berupa karbohidrat dan protein serta kehilangan darah, sehingga dapat menurunkan produktivitas kerja. Kecacingan juga dapat menghambat perkembangan fisik. Kecacingan juga dapat menyebabkan menurunnya ketahanan tubuh sehingga mudah terkena penyakit lainnya.

Kecacingan merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit berupa cacing. Dimana dapat terjadi infestasi ringan maupun infestasi berat. Infeksi kecacingan adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing kelas nematode usus khususnya yang penularan melalui tanah, diantaranya Ascaris lumbricoides, Trichuri strichiura, dan cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus) dan Strongyloides stercoralis.

Kecacingan jarang sekali menyebabkan kematian secara langsung, namun sangat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Kecacingan dapat mengakibatkan menurunnya kondisi kesehatan, gizi, kecerdasan dan produktivitas penderita sehingga secara ekonomi dapat menyebabkan banyak kerugian yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia. Infeksi cacing pada manusia dapat dipengaruhi oleh perilaku, lingkungan tempat tinggal dan manipulasinya terhadap lingkungan.

Untuk menentukan diagnosis pasti infeksi cacing, diperlukan pemeriksaan laboratorik untuk menemukan parasit cacing baik yang dewasa, telur maupun stadium larvanya. Agar usaha tersebut berhasil memuaskan, maka selain kemampuan untuk mengenal morfologi cacing dengan benar, bahan-bahan untuk pemeriksaan hendaknya diupayakan tersedia dalam keadaan yang baik, danparasit dapat diperoleh dalam keadaan utuh, tidak rusak dan dalam jumlah yang cukup sehingga mudah ditemukan dalam pemeriksaan.

Infestasi cacing yang ditularkan oleh tanah yang dikarenakan kondisi tanah yang lembab memungkinkan telur Ascaris dan Trichuris berkembang biak dengan cepat. Tahan berpasir yang gembur di daerah pedesaan dan pertambangan sangat sesuai untuk pertumbuhan larva cacing tambang. Kondisi tanah yang kering dan berdebu juga bisa menyebabkan telur terbawa angin sehingga penularan Enterobius lebih mudah terjadi antara orang yang satu dengan yang lainnya. perilaku tidak memakai alas kaki setiap keluar rumah atau beraktivitas mengakibatkan anak terinfeksi cacing karena larva cacing tambang akan masuk melalui pori-pori kulit yang tidak memakai alas kaki.

Penularan kecacingan lainnya, yaitu Hymenolepis dapat terjadi karena kontak langsung, yaitu telur cacing yang masuk dari tangan ke mulut. Selain manusia, tikus dapat berperan sebagai inang pejamu pada himenolepiasis, sehingga makanan yang tercemar tinja tikus dapat dicurigai. Penularan cacing Enterobius sangat mudah terjadi karena telur dapat segera matang setelah dikeluarkan oleh cacing betina, dapat masuk ke mulut melalui tangan atau makanan yang terkontaminasi, dan dapat terhisap melalui pernafasan karena telur dapat melayang di udara, bahkan dapat mengalami auto-infeksi saat telur yang menempel di anus langsung menetas kembali menjadi larva.

Sebelum anak terkena cacingan, terlebih dahulu telur cacing keluar dari perut manusia bersama kotoran atau faces. Jika limbah manusia itu dialirkan ke sungai atau got, maka setiap tetes air akan terkontaminasi telur cacing. Jika air yang telah tercemar dipakai oleh orang lain untuk menyirami tanaman atau aspal jalan, telur-telur itu naik ke darat. Begitu air mengering, mereka menempel pada butiran debu. Telur lainnya terbang ke tempat-tempat yang sering dipegang tangan manusia.

Penyakit cacingan dapat menyebabkan kekurangan gizi karena semua nutrisi diserap oleh cacing akan membuat perkembangan mental dan fisik anak menjadi terganggu, membuat anak menjadi mudah sakit karena penurunan sistem imunitasnya, stunting atau fisik anak menjadi lebih pendek dan kecil dari teman seusianya, berkurangnya kecerdasaan anak serta pada beberapa kasus juga dapat menyebabkan kematian pada anak. Kematian anak akibat cacingan biasanya dikarenakan sudah terlalu banyaknya cacing di dalam tubuh si kecil, hingga membuat cacing berjelajah ke organ tubuh yang lain seperti paru-paru dan lainnya.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Referensi:

Annida, A., Fakhrizal, D., Juhairiyah, J., & Hairani, B. (2019). Gambaran status gizi dan faktor risiko kecacingan pada anak cacingan di masyarakat Dayak Meratus, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Journal of Health Epidemiology and Communicable Diseases, 4(2), 54–64. https://doi.org/10.22435/jhecds.v4i2.218

Darma, J., Husada, A., & Volume, V. I. (2019). Pengetahuan tentang cacingan dan upaya pencegahan kecacingan. Jurnal Darma Agung Husada, 6(2), 96–104.

Devi Astuti, Erna Magga, Makhrajani Majid, & Abidin Djalla. (2019). Hubungan penyakit kecacingan dengan status gizi anak pada Sekolah Dasar Muhammadiyah Jampu Kecamatan Lanrisang Kabupaten Pinrang. Jurnal Ilmiah Manusia Dan Kesehatan, 2(2), 284–292. https://doi.org/10.31850/makes.v2i2.151

Suriani, E., Irawati, N., & Lestari, Y. (2020). Analisis faktor penyebab kejadian kecacingan pada anak sekolah dasar di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Buaya Padang tahun 2017. Jurnal Kesehatan Andalas, 8(4), 81–88. https://doi.org/10.25077/jka.v8i4.1121

( DOC,PROMKES RSMH)