Jumat, 05 Agustus 2022 10:12 WIB

Mengapa Ada Obat yang Diminum Sebelum, Saat dan Sesudah Makan

Responsive image
138644
apt Eva Yunila,S.Si,MARS - RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang

Pada saat kita mengkonsumsi obat, tentu kita berharap obat yang diminum dapat bekerja maksimal membantu penyembuhan penyakit yang sedang diderita. Efek terapi yang maksimal dapat dicapai jika obat dikonsumsi dengan tepat, salah satunya tepat waktu minum obat.

Obat merupakan senyawa kimia yang memiliki cara kerja yang berbeda-beda dalam mengatasi gangguan yang ada di dalam tubuh. Cara kerja obat-obatan tersebut bergantung dengan berbagai faktor, salah satunya adalah interaksi obat dengan makanan. Ketika diminum, obat akan melewati lambung dan kemudian masuk ke usus. Sebagian kecil obat diserap di lambung dan sebagian besar diserap di usus. 

Obat pada umumnya dapat diserap dengan baik apabila tidak terdapat gangguan di lambung dan usus misalnya berupa makanan. Uniknya, ada juga obat-obat yang penyerapannya terbantu oleh makanan. Selain interaksi dengan makanan, sifat dan efek dari obat juga menentukan kapan sebaiknya obat diminum ; sebelum, saat atau sesudah makan.

Obat yang diminum sebelum makan
Yang dimaksud  obat yang diminum sebelum makan adalah obat diminum saat kondisi lambung dalam keadaan kosong. yakni 30-60 menit sebelum makan atau 2-3 jam setelah makan.

Ada beberapa alasan mengapa obat diminum sebelum makan yaitu :
1. Adanya makanan dapat menghambat kerja obat contohnya eritromisin, amoksisilin, parasetamol,. Obat tersebut akan diserap lebih baik jika tidak ada makanan, sehingga lebih baik jika diminum sebelum makan. Beberapa obat mungkin kerjanya bisa terhambat jika ada makanan karena obat mempunyai jalan yang sama dengan makanan untuk dicerna tubuh. Makanan juga dapat menyebabkan beberapa obat dipecah terlalu cepat sebelum obat diserap ke aliran darah.

2. Adanya makanan dapat meningkatkan penyerapan obat tertentu sehingga bisa menyebabkan obat diserap lebih banyak dalam tubuh Anda. Hal ini kemudian dapat meningkatkan risiko timbulnya efek samping obat atau efek toksik obat 

3. Adanya makanan dapat mengurangi penyerapan obat dalam tubuh sehingga menurunkan efektifitas obat.

  • Beberapa obat mungkin dapat bekerja lebih baik saat lambung kosong contohnya obat golongan proton pump inhibitor seperti omeprazole, pantoprazole, esomeprazole, dan lansoprazole obat tersebut kerjanya akan lebih baik jika tidak ada makanan di saluran cerna. Sebab, makanan malah akan merangsang suatu daerah di lambung yang bernama pompa H/K/ATP-ase untuk menghasilkan asam lambung. 
  • obat domperidone dan metoklopramid yang biasanya diresepkan dokter untuk mengatasi gejala mual dan muntah, Anda sebaiknya mengonsumsinya 30 menit sebelum makan, untuk alasan yang sama dengan poin sebelumnya: keberadaan makanan akan menghambat keterserapan obat dari saluran cerna.
  • obat antasida untuk meredakan maag, rifampisin dan isoniazid (obat tuberculosis), sirup yang mengandung sukralfat (biasanya berwarna pink, digunakan untuk dispepsia) juga sebaiknya diminum sebelum makan.
  • Flucloxacillin, phenoxymethylpenicillin (penicillin V) dan oxytetracycline.
  • Obat-obatan seperti Alendronic acid, sodium clodronate, disodium etidronate dianjurkan minum sebelum 30 menit sebelum Anda minum dan makan pertama kali di pagi hari.

4. Untuk Obat-obatan yang berinteraksi dengan senyawa tertentu yang terdapat dalam makanan

  • Antibiotika tetrasiklin. Tetrasiklin dapat berikatan dengan senyawa kalsium membentuk senyawa yang tidak dapat diserap oleh tubuh, sehingga mengurangi efek tetrasiklin. Jadi jika tetrasiklin diminum bersama susu, atau suplemen vitamin-mineral yang mengandung kalsium, efek tetrasiklin bisa jadi berkurang.
  • Antibiotika golongan kuinolon, seperti siprofloksasin, ofloksasin, yang juga bisa mengikat logam-logam bervalensi dua atau tiga, seperti kalsium, magnesium, dan aluminium. Karena itu, sebaiknya tidak minum obat ini bersama-sama dengan obat-obat yang mengandung logam2 tersebut seperti pada komposisi obat maag (antasid). Jika terpaksa harus menggunakan obat maag (antasid) bersamaan dengan antibiotika tetrasiklin atau golongan kuinolon, sebaiknya diberi selang waktu sedikitnya 2 jam.

Obat yang diminum saat makan
Yang dimaksud obat yang diminum saat makan adalah obat diminum di pertengahan makan saat sedang makan, artinya kita mengkonsumsi dahulu beberapa suap makanan kemudian meminum obat yang harus dikonsumsi, dan kemudian melanjutkan kembali makan hingga selesai. Salah satu contoh obat yang sebaiknya diminum dengan cara seperti ini adalah ;

  • Obat diabetes Acarbose. Obat ini dimakan bersamaan dengan suapan pertama bersama makanan. Obat ini berfungsi untuk memperlambat penyerapan gula di dalam usus, sehingga gula darah tidak naik secara ekstrim dan memberikan keadaan gula darah yang lebih stabil.
  • Suplemen yang mengandung kalsium (Ca). Makanan akan merangsang produksi asam lambung, dimana asam lambung ini akan membantu penyerapan kalsium dari saluran cerna. Oleh karena itu, kalsium disarankan diminum saat ada makanan. Contoh berikutnya adalah suplemen yang mengandung vitamin D. Vitamin D adalah vitamin yang bersifat larut lemak, sehingga ia akan terserap lebih baik jika ada kehadiran makanan, terutama large meal. 

Obat yang diminum sesudah makan
Yang dimaksud obat yang diminum  setelah makan adalah obat diminum sesaat sesudah makan, ketika perut masih berisi makanan dan tidak boleh lewat dari 2 jam. Jika lebih dari 2 jam, makanan sudah diolah dan diserap sehingga kondisinya bisa disamakan dengan sebelum makan. Makanan yang dimaksud disini tidak harus makanan atau nasi berporsi besar, namun dapat berupa roti dalam porsi kecil atau makanan-makanan ringan lainnya.

Ada beberapa alasan mengapa obat diminum setelah makan yaitu :
1. Mencegah timbulnya efek samping suatu obat

  • Beberapa jenis obat seperti aspirin,asetosal, obat jenis NSAID (diklofenak, ibuprofen), obat steroid (prednisolon dan deksametason) memiliki efek samping pada pencernaan yaitu iritasi lambung, radang, bahkan tukak lambung. Jika diminum setelah makan maka makanan yang sebelumnya masuk ke dalam lambung, akan dapat mencegah efek samping ini terjadi. Perut yang kosong akan rentan untuk luka akibat konsumsi obat yang dosisnya cukup keras. Kehadiran makanan akan berperan sebagai ‘bantalan’ sehingga iritasi obat terhadap saluran cerna bisa lebih minimal. Oleh karena itu, beberapa jenis obat seperti aspirin, obat jenis NSAID (diklofenak, ibuprofen), obat steroid (prednisolon dan deksametason akan lebih efektif dan lebih optimal kerjanya apabila diminum setelah atau saat makanan sudah masuk ke dalam lambung.
  • Beberapa obat mempunyai efek samping, seperti  mual  dan  muntah . Oleh karena itu, lebih baik untuk minum obat ini setelah makan agar dapat mengurangi efek samping. Contoh dari obat ini adalah bromocriptine, allopurinol, dan madopar

2. Meningkatkan penyerapan obat ke dalam tubuh dan akan lebih cepat ke dalam pembuluh darah ketika bercampur dengan makanan seperti obat HIV, obat anti epilepsi fenitoin, atau obat hipertensi propanolol  maka mengkonsumsi obat dilakukan sesudah makan sehingga diharapkan dapat memberi efek maksimal terhadap fungsi obat.

3. Mendukung kerja obat. Misalnya saja, obat antasida yang digunakan untuk mencegah heartburn, refluks, dan gangguan pencernaan. Sakit ini terjadi karena asam lambung yang dihasilkan saat makanan masuk ke lambung Anda 

4. Memastikan obat diserap tubuh dan tidak terbuang begitu saja. Makan setelah minum obat bisa membuat beberapa obat justru keluar dari tubuh dengan cepat. Beberapa obat tersebut, seperti obat kumur,  nystatin  cair, dan gel  miconazole  untuk  sariawan  atau ulkus di mulut sebaiknya diminum sesudah makan.

5. Membantu tubuh dalam mencerna makanan. Obat-obatan untuk diabetes biasanya harus diminum setelah makan agar dapat membantu tubuh dalam mengurangi kadar gula darah setelah makan, dan juga untuk mencegah hipoglikemia (gula darah rendah).

 

Referensi
http;//zulliesikawati.wordpress.com/tag/interaksi-obat-makanan
https://hellosehat.com/obat-suplemen/aturan-minum-obat-sebelum-setelah-makan/

( DOC, PROMKES, RSMH)