Jumat, 05 Agustus 2022 09:20 WIB

Cegah Stunting Sejak dalam Masa Kehamilan

Responsive image
20950
dr. Dian Fikri Rachmawan, dr. Akbar Novan Dwi Sapu - RSUP dr. Sardjito Yogyakarta

     Telah diketahui secara luas bahwa 1000 hari pertama kehidupan merupakan periode emas dalam mengoptimalkan pertumbuhan guna mencegah stunting. Memastikan nutrisi yang adekuat sejak masa pra-konsepsi juga merupakan hal yang tidak kalah penting. Stunting merupakan kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan usia. Kondisi ini diukur dengan panjang atau tinggi badan yang lebih dari minus dua standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari WHO. Stunting memiliki efek jangka pendek hingga jangka panjang salah satunya peningkatan angka kematian dan kesakitan. Selain itu, stunting juga dapat berefek pada perkembangan anak yang buruk dan gangguan kapasitas belajar, peningkatan risiko infeksi serta penyakit tidak menular. Efek risiko tersebut berpengaruh pada tumbuh kembang anak di masa depan, maka dari itu penting untuk dilakukan pencegahan stunting sejak awal masa kehidupan.

     Langkah pencegahan stunting yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia termasuk di dalamnya adalah memenuhi kebutuhan gizi sejak hamil. Tindakan ini relatif ampuh karena Lembaga Kesehatan Millenium Challenge dalam laporan Kementerian Kesehatan menyarankan agar ibu yang sedang mengandung selalu mengonsumsi makanan sehat dan bergizi maupun suplementasi. Kebutuhan nutrisi ibu akan meningkat selama masa kehamilan untuk mendukung pertumbuhan janin. Dibandingkan dengan wanita tidak hamil, kebutuhan energi wanita hamil meningkat 13% dengan kebutuhan protein 54% lebih tinggi selama masa kehamilan dan menyusui (Dewey,2016). Ibu hamil memerlukan tambahan kalori kurang lebih 350-450 kalori per hari. Kebutuhan kalori ini perlu dipecah kedalam komponen makro dan mikro. Nutrisi makro terdiri dari karbohidrat, protein dan lemak. Sedangkan nutrisi mikro terdisi dari vitamin dan mineral. Beberapa zat yang harus terpenuhi selama kehamilan yaitu protein, kalsium, asam folat dan zat besi. Ibu hamil membutuhkan asupan kalsium minimal sejumlah 1200mg, dengan asam folat 600-800 mcg/hari, zat besi 27mg/hari dann protein 70-100 gram/hari dan meningkat setiap trimesternya. Adanya peningkatan kebutuhan ini terkadang sulit dipenuhi karena kondisi fisik ibu hamil yang juga mengalami gangguan seperti mual hingga muntah.

     Kecukupan kebutuhan nutrisi yang meningkat dapat disiasati dengan diversifikasi makanan atau pemecahan jenis makanan dan pemilihan makanan padat nutrisi, makanan fortifikasi atau biofortifikasi makanan pokok, suplementasi dengan beberapa mikronutrien dan penggunaan produk makanan fortifikasi yang dirancang khusus untuk sasaran ibu hamil.

     Pertumbuhan janin ini memerlukan suatu sistem yang bekerja komprehensif. Untuk bisa bekerja optimal maka diperlukan unsur yang saling bekerjasama. Prioritas utama kebutuhan ibu hamil adalah ketersediaan sumber energi (kalori). Jika energi tidak tersedia maka proses-proses selanjutnya akan menjadi terhambat. Hal selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah status nutrisi ibu pada awal kehamilan karena hal ini sebagai dasar ketersediaan akses agar nutrisi sampai ke janin. Prioritas lainnya adalah ketersediaan bahan nutrisi yang tidak bisa diproduksi oleh tubuh (nutrisi esensial) yang hanya bisa didapatkan melalui asupan nutrisi ibu, seperti asam amino esensial, asam lemak esensial, mineral dan sebagian besar jenis vitamin. Bahan-bahan ini akan berpengaruh pada proses pembentukan jaringan, sistem dan organ janin.

     Dalam kesehariannya, ibu hamil dapat melakukan model nutrisi 5J untuk kehamilan, yaitu melakukan asupan nutrisi kehamilan berupa paket pemenuhan kebutuhan nutrisi ibu hamil yang meliputi (1) Jumlah kalori, (2) Jadwal makan, (3) Jenis makanan, (4) Jalur pemberian nutrisi dan (5) penJagaan terhadap pelaksanaan. Secara jumlah, ibu hamil membutuhkan minimal 35kkal/kg/hari dengan jadwal  makan 3 kali makan besar dan 3 kali makan kecil. Jenis makanan yang dibutuhkan ibu hamil meliputi nutrisi makro yang dapat terdiri dari 4 jenis lauk protein perhari (protein hewani yang berbeda tiap makan ditambah protein nabati) dan nutrisi mikro dari berbagai jenis bahan makanan. Kebutuhan jenis makanan ini berbeda tiap trimesternya. Pada trimester satu, tidak diperlukan nutrisi dalam jumlah besar namun diperlukan nutrisi lengkap (beragam jenis), terutama asam lemak dan asam amino esensial. Poin penting selanjutnya adalah jalur pengganti yaitu cara bagaimana makanan dapat masuk ke tubuh ibu hamil yang pada akhirnya disalurkan ke janin. Jalur pengganti ini digunakan untuk dua tujuan, yaitu pemeliharaan dan koreksi/terapi. Semua hal di atas dalam pelaksanaannya sering kali sulit dilakukan sehingga dibutuhkan upaya penJagaan yang disesuaikan dengan rekomendasi nutrisi kehamilan (Wibawa, 2021).

     Pemenuhan nutrisi pada ibu hamil penting dalam mencegah stunting, namun hal ini tidak bisa berdiri sendiri. Pendekatan terintegrasi perlu dilakukan dalam upaya pencegahan stunting. Wanita hamil yang mengalami infeksi baik bergejala maupun asimptomatik dapat menyebabkan retardasi pertumbuhan. Pajanan terhadap agen penyebab infeksi subklinis ini biasanya dapat mengganggu pertumbuhan. Kombinasi antara intervensi nutrisi yang tepat dapat juga mempengaruhi penyakit infeksi pada ibu hamil. Nutrisi yang adekuat dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh. Memberikan nutrisi dalam jumlah ekstra untuk mengimbangi efek infeksi juga dapat dilakukan untuk mengejar pertumbuhan, mencegah nafsu makan yang buruk akibat kekurangan nutrisi dan mendukung pertumbuhan bakteri baik yang bermanfaat dalam meningkatkan fungsi usus dan mempertahankan kekebalan (Dewey,2016).

     Lalu, bagaimana cara agar ibu hamil dapat mengetahui status nutrisi dan penyakit yang dialami selama masa kehamilan? Di Indonesia sendiri, telah ada program ANC Terpadu mulai dari pemeriksaan bidan, pemeriksaan dokter, dokter gigi, pemeriksaan laboratorium dan konsultasi gizi. Pelaksanaan ANC terpadu ini dapat menilai status gizi pasien dan langsung diintervensi oleh petugas kesehatan yang berkompeten juga dapat menilai risiko infeksi yang mungkin dialami oleh ibu hamil dengan beberapa pemeriksaan laboratoris. Menilai kadar hemoglobin saat ANC terpadu juga penting dilaksanakan untuk menilai status anemia ibu hamil tersebut.

     Edukasi dan intervensi pada ibu hamil mengenai pencegahan stunting sejak awal masa kehamilan dinilai dapat mengurangi angka stunting di Indonesia. Tingginya pemahaman ibu selama masa kehamilan tentang nutrisi yang baik dikonsumsi selama masa kehamilan dapat mengurangi pertumbuhan janin yang terhambat. Selain itu, ibu juga perlu melakukan pola hidup bersih dan sehat serta melakukan sanitasi yang baik sehingga mengurangi pajanan terhadap mikroorganisme penyebab infeksi. Infeksi pada ibu hamil ini berisiko menyebabkan adanya persalinan preterm yang pada akhirnya juga dapat meningkatkan risiko stunting kelak. Untuk mencegah stunting tersebut maka ibu hamil perlu memastikan kecukupan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhannya selama masa kehamilan dan perlu rutin melakukan pemeriksaan di tenaga kesehatan agar dapat mendeteksi kemungkinan infeksi yang dialami sehingga dapat mencegah infeksi berlanjut hingga akhirnya menyebabkan stunting.

Referensi :

1.   Dewey KG. Reducing stunting by improving maternal, infant and young child nutrition in regions such as South Asia: evidence, challenges and opportunities. Matern Child Nutr. 2016;12 Suppl 1(Suppl 1):27-38. doi:10.1111/mcn.12282

2.   Khairan. Situasi Stunting di Indonesia. Jendela Data dan Informasi Kesehatan 2020.

3.   Wibawa Aria. Buku Panduan Nutrisi Kehamilan 5J. 2021