Kamis, 02 November 2023 08:46 WIB

Perang dan Gangguan Stres Pascatrauma

Responsive image
748
dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ - RS Jiwa dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor

Situasi perang adalah situasi yang menakutkan dan mengancam nyawa, menyaksikan dan mengalami betapa menakutkannya suasana perang, mendengar suara bom dan senjata, melihat banyak korban yang meninggal dunia termasuk orang terdekat dan orang yang dikasihi, menyaksikan rumah yang hancur, luka dan cedera yang dialami. Semua itu dapat memicu munculnya gangguan psikologis pada diri seseorang, yang mengalami ataupun yang menyaksikan. Gangguan stres paska trauma atau yang dikenal sebagai PTSD adalah reaksi normal psikologis terhadap situasi yang abnormal.

Gangguan stres paska trauma atau PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) adalah gangguan jiwa yang dipicu oleh peristiwa yang menakutkan dan membahayakan. Yang bersangkutan mengalami peristiwa tersebut atau menyaksikannya.

 

Peristiwa traumatis yang bisa menjadi pemicu munculnya PTSD adalah :

- Perang

- Perundungan (bullying)

- Kekerasan dalam rumah tangga

- Perampokan, pencurian

- Kecelakaan

- Bencana alam

- Ancaman

- Kekerasan/pelecehan verbal, fisik dan seksual

- Penculikan

- Kebakaran

- Bom

- dll.

 

Tanda dan Gejala PTSD pada anak:

- Mengompol

- Perilaku regresi, tiba-tiba sulit bicara

- Selalu ingin menempel pada orang terdekat

- Tiba tiba menangis tanpa sebab yang jelas

 

Tanda dan Gejala PTSD pada orang dewasa:

1. Stressor

Mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis

2. Ingatan akan peristiwa traumatis

Teringat atau seperti mengalami kembali peristiwa traumatis tersebut, muncul dalam bentuk ingatan, mimpi buruk atau flashback yang menimbulkan reaksi emosi yang tidak nyaman

3. Penghindaran

Berusaha menghindari situasi, keadaan, berita yang dapat memicu ingatan akan peristiwa traumatis yang dialami.

4. Gejala pikiran dan perasaan

- kehilangan minat terhadap aktivitas sehari hari

- isolasi diri, tidak mau bersosialisasi

- perasaan negatif terhadap diri sendiri dan orang lain

- Sulit menemukan pikiran dan positif terhadap diri sendiri dan orang lain

- Sulit mengingat secara detail peristiwa traumatis yang terjadi

- Menyalahkan diri sendiri dan orang lain

5. Gejala perilaku yang reaktif

- Mudah tersinggung dan perilaku agresif

- Gangguan tidur

- Masalah fokus dan konsentrasi

- Perilaku berisiko dan berbahaya

- Waspada yang berlebihan

- Mudah kaget

 

6. Gangguan Fungsi Kehidupan

Gejala gejala tersebut menimbulkan penderitaan dan mengganggu fungsi serta kehidupan sehari hari.

7. Durasi Waktu

Apabila gejala gejala tersebut terjadi 1 bulan atau lebih maka diagnosis Gangguan Stres Paska Trauma (PTSD) dapat ditegakkan

 

Terapi Gangguan Stres Paska Trauma (PTSD, Post Traumatic Stress Disorder):

1. Psikoterapi :

- CBT (Cognitive Behavior Therapy)

- PET (Prolonged Exposure Therapy)

- EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing)

2. Medikasi :

Obat anti depresan dan anti ansietas akan sangat menolong mengurangi dan menghilangkan gejala

3. Terapi TMS (Transcranial Magnetic Stimulation)

Pemberian stimulasi gelombang elektromagnetik di kepala akan meningkatkan fungsi sel saraf otak

4. Terapi Neurofeedback

Melatih gelombang otak (delta, tetha, alpha, beta) agar kembali seimbang dan normal

5. Support system dari keluarga, teman dan lingkungan

 

Apabila menemukan gejala gejala gangguan stres paska trauma, segeralah berkonsultasi ke profesional kesehatan jiwa seperti Psikiater untuk mendapatkan pertolongan yang cepat dan tepat

 

Psychological First Aid

(Cara Membantu Korban Perang agar Tidak Menjadi PTSD)

Saat mendampingi orang orang yang menjadi korban perang, berikan dukungan kesehatan jiwa dan psikososial, salah satunya dengan melakukan Psychological First Aid (pertolongan pertama psikologis). Langkah-langkah nya adalah sebagai berikut :

Saat memberikan pertolongan pertama psikologis (PFA), Anda harus mengingat tiga prinsip tindakan: LOOK (lihat), LISTEN (dengarkan), LINK (hubungkan)

1. LIHAT (look)

Penting untuk terlebih dahulu menilai bahaya, serta risiko keselamatan dan keamanan, dan kemudian memperoleh informasi tentang peristiwa yang sedang terjadi/terjadi dan tentang mereka yang membutuhkan bantuan, cedera fisik, kebutuhan primer dan mendasar, serta respons emosional mereka. 

2. DENGARKAN (listen)

1)     Dekati orang yang membutuhkan bantuan.

2)     Perkenalkan diri Anda.

3)     Memperhatikan dan mendengarkan secara aktif.

4)     Pahami perasaan orang lain.

5)     Tenangkan orang yang sedang krisis.

6)     Tanyakan tentang kebutuhan dan kekhawatiran mereka.

7)     Membantu orang yang berada dalam krisis dengan kebutuhan mendesaknya dan mencoba menyelesaikan permasalahannya.

3. HUBUNGKAN (link)

1)     Menyediakan informasi, layanan, dan sumber bantuan lain yang relevan.

2)     Bantu mereka terhubung atau bersatu kembali dengan kerabatnya.

3)     Memberikan bantuan sosial.

4)     Secara aktif mencoba membantu memecahkan permasalahan tersebut.

 

Prinsip dan Nilai Dasar Psychological First Aid

• Pahami situasinya sebelum membantu. Jangan memaksakan bantuan Anda.

• Ajukan pertanyaan sederhana dengan hormat untuk memahami bagaimana Anda dapat membantu. 

• Jalin komunikasi dengan orang yang berada dalam krisis. Cara terbaik untuk memulai komunikasi adalah dengan memberikan bantuan praktis (menawarkan makanan, air, pakaian, selimut).

• Bersiaplah: Orang yang berada dalam krisis mungkin menghindari Anda, melakukan perilaku agresif, atau menolak bantuan Anda.

• Hormati hak orang untuk mengambil keputusan.

• Bahkan jika orang yang berada dalam krisis menolak bantuan Anda ketika Anda menawarkannya, tunjukkan kesediaan Anda untuk membantu mereka di masa depan.

• Sabar, bertanggung jawab, tanggap, dan peka.

• Berbicaralah dengan tenang dan jelas serta dengan ekspresi yang jelas. Memberikan informasi yang akurat, relevan, dan sesuai usia.

• Pertimbangkan latar belakang budaya, gender, adat istiadat, dan agama orang tersebut.

• Hindari asumsi, kritik, penilaian, dan janji.

• Jika orang yang berada dalam krisis ingin berbicara, bersiaplah untuk mendengarkan.

• Tidak perlu terus-menerus berbicara dengan orang yang berada dalam krisis; Seringkali, kehadiran fisik saja sudah membantu mereka merasa lebih aman dan percaya diri.

• Jaga kerahasiaan semua informasi yang Anda terima dari orang tersebut. Jangan pernah membagikan informasi pribadi.

Perang tidak pernah menghadirkan solusi pada siapapun, yang tersisa seringkali adalah rasa trauma mendalam bagi mereka yang mengalami dan menyaksikannya. Hentikan perang sekarang juga dan jadikan dunia tempat yang aman dan nyaman untuk ditempati bagimu, bagiku dan bagi semua insan.

 

 

Referensi :

Mann SK, Marwaha R. Posttraumatic Stress Disorder. [Updated 2023 Jan 30]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK559129

https://euromedmonitor.org/en/article/4497/New-Report:-91%-of-Gaza-children-suffer-from-PTSD-after-the-Israeli-attack

https://www.unicef.org/armenia/en/stories/how-provide-psychological-first-aid