Senin, 26 September 2022 15:17 WIB

Psikososial Anak 6-12 Tahun

Responsive image
515
Nyimas Sri Wahyuni, M.Kep,SP,Kep.A - RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang

Pertumbuhan fisik dengan pesat mulai melambat pada usia 10 hingga 12 tahun. Bentuk wajah berubah karena tulang wajah tumbuh lebih cepat daripada tulang kepala, anak sekolah menjadi lebih kurus, kakinya lebih panjang, koordinasi neuromotorik lebih berkembang, gigi tetap mulai tumbuh (Hamid, 2010). Meskipun kepala masih terlampau besar dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya, beberapa perbandingan wajah yang kurang baik menghilang dengan bertambah besarnya mulut, rahang, dahi melebar, bibir semakin berisi, hidung menjadi lebih besar dan lebih berbentuk (Hurlock, 2004).

Penambahan berat badan per tahun akan dapat 2,5 kg dan ukuran panjang tinggi badan sampai 5 cm per tahunnya. Pertumbuhan jaringan limfatik pada usia ini akan semakin besar bahkan melebihi jumlahnya orang dewasa (Hidayat, 2005). Anak dapat melakukan berbagai macam keterampilan yang dapat dikategorikan ke dalam empat kategori : (1) keterampilan menolong diri sendiri, misalnya makan, minum, mandi, berpakaian, sudah mahir seperti orang dewasa; (2) keterampilan menolong orang lain misalnya menyapu, mengepel, membersihkan tempat tidur, membersihkan papan tulis di sekolah; (3) keterampilan sekolah misalnya menulis, melukis, menggambar; (4) keterampilan bermain yang dapat dilakukan di lapangan, di dalam ruangan, di kolam renang (Rumini & Sundari 2004). Perubahan fisik yang terjadi menjelang berakhirnya masa kanak-kanak menimbulkan keadaan ketidakseimbangan dimana pola kehidupan yang sudah terbiasa menjadi terganggu dan anak selama beberapa saat merasa terganggu sampai tercapainya penyesuaian diri terhadap perubahan ini.

Perkembangan psikososial anak usia sekolah (6-12 tahun) adalah kemampuan menghasilkan karya, berinteraksi dan berprestasi dalam belajar berdasarkan kemampuan diri sendiri (Keliat, Helena & Farida 2011). Menurut Erikson tugas perkembangan pada tahap ini adalah mengembangkan pola industri (produktif) versus inferioritas (rendah diri) (Hamid, 2010).

Pola industri pada anak merupakan dasar bagi anak agar mampu melakukan kegiatan/tugas mengahasilkan karya, dan dihargai di lingkungannya agar tidak dikuasai oleh rasa rendah diri (Asosiasi Kesehatan Jiwa dan Anak dan remaja Indonesia, 2018). Anak-anak usia sekolah ingin sekali mengembangkan keterampilan dan berpartisipasi dalam pekerjaan yang berarti dan berguna secara sosial (Wong et.el, 2009). Sedangkan anak usia sekolah menurut Rifai (1993) memiliki tiga ciri pokok yaitu: (1) dorongan untuk keluar dari rumahnya dan masuk di dalam kelompok anak-anak sebaya; (2) dorongan yang bersifat kejasmanian untuk memasuki dunia permainan dan dunia kerja yang menuntut keterampilan-keterampilan; (3) dorongan untuk memasuki dunia orang dewasa yaitu dunia konsep logika, simbol dan komunikasi.

Ciri-ciri anak sekolah lainnya menurut Asosiasi Kesehatan Jiwa dan Anak dan Remaja Indonesia, antara lain :

1. Sering berargumentasi dengan orang tua, pada anak laki-laki dikenal dengan maskulin protest

2. Mengagumi guru atau orang dewasa lain daripada orang tua sendiri, mempunyai idola

3.Hubungan dengan teman sebaya semakin kuat dan bermakna, lebih memilih teman dari jenis kelamin sama

4. Cenderung sangat memegang prinsip “aturan dan keadilan” (rules of the game) yang harus dipegang bersama dimana pengertian baik-buruk/benar-salah atas dasar ini (morality of cooperation)

5. Menuntaskan tugas/kegiatan dengan berhasil karya (task completion)

6. Tertarik mencoba berbagai kegiatan baru di luar sekolah, baik fisik, teknologi dan sosial.

Perilaku anak usia sekolah yang memiliki perkembangan normal (industry/produktif) antara lain, menyelesaikan tugas (sekolah atau rumah) yang diberikan, mempunyai rasa bersaing (kompetisi), senang berkelompok dengan teman sebaya dan mempunyai sahabat karib serta berperan dalam kegiatan kelompok (Keliat, 2011). Anak-anak memperoleh kepuasan yang sangat besar dari perilaku mandiri dalam menggali dan memanipulasi lingkungannya dan dari interaksi dengan teman sebayanya.

 

Referensi:

Keliat. (2011). Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta: EGC

Wong, D. L. (2009). Pedoman klinis Keperawatan Pediatric (Wong and Whaley’s clinical manual of pediatric nursing). (4th ed). (Monica Eater & Sari Kurnianingsih, Penerjemah). Jakarta: EGC.

World Health Organization (WHO). (2007). Paediatric Mortality in 2005. Geneva?: Department Health and Research WHO.

Sumber gambar: gurusiana.id

( DOC, PROMKES RSMH)