Senin, 26 September 2022 14:17 WIB

Saturday Night Palsy

Responsive image
386
dr. Dhimas Hartanto, SpOT - RS Ortopedi Prof.Dr.R.Soeharso Surakarta

Saturday night palsy mengacu pada neuropati dari saraf radial yang terjadi akibat tekanan yang lama dan secara langsung pada tangan medial bagian atas atau aksila baik oleh suatu obyek atau permukaan. Saraf radial terdiri dari akar saraf C5 hingga T1 yang muncul dari segmen posterior pleksus saraf brakialis. Istilah tersebut berasal dari suasana sabtu malam yang sering dikaitkan dengan pesta atau suasana meriah tetapi diikuti dengan imobilisasi berkepanajangan selama kompresi saraf terjadi. Kompresi saraf tersebut dapat menyebabkan defisit sensorik dan motorik. Saturday night palsy juga sering disebut honeymoon palsy karena posisi imobilisasi yang menyebabkan kompresi dan kerusakan nervus radial. Pasien yang mengalami intoksikasi akibat alkohol atau lainnya terkadang tidur dengan posisi tangan yang menggantung pada permukaan yang keras sehingga rawan terjadi kompresi pada aksila. Selain itu pakaian atau aksesoris yang ketat dan penggunaan manset tekanan darah yang berlebihan juga dapat menyebabkan keluhan tersebut (Ansari dan Juergens, 2022).

Penelitian sebelumnya mengungkapkan laporan kejadian saturday night palsy mencapai 2.97 per 100000 pada laki-laki dan 1.42 per 100000 pada perempuan. Keluhan tersebut merupakan urutan keempat mononeuropati yang sering terjadi di seluruh dunia. Tidak ada batasan usia pada kejadian tersebut mengingat mekanisme cedera yang sudah dijelaskan dapat terjadi pada siapa saja. Berdasarkan anamnesis, pasien biasanya memiliki riwayat konsumsi alkohol dalam jumlah yang banyak sebelumnya dan tidur pada posisi yang tidak wajar sehingga menyebabkan kompresi saraf. Keluhan dapat muncul beberapa hari setelah kejadian atau disebut delayed presentation. Pasien sering mengeluhkan rasa bengkak, kelemahan, nyeri atau kombinasi semuanya. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien memiliki karakteristik wrist drop yang merupakan hasil dari hilangnya fungsi muskulus ekstensor. Selain itu pasien dapat kehilangan refleks trisep diikuti berbagai defisit sensorik yang melibatkan tangan atas bagian posterior dan lateral (Ansari dan Juergens, 2022).

Pilihan utama pada tatalaksana kasus ini adalah rehabilitasi medis. Terapi tersebut dapat menggunakan splint pada pergelangan tangan yang akan menahan ekstensi. Penting untuk mengevaluasi gerakan pasif pada ekstremitas selama rehabilitasi yang dapat dilihat dengan splint dinamik. Pengobatan simtomatik juga diperlukan selama rehabilitasi seperti penggunaan NSAID dan steroid untuk mengurangi keluhan. Saat ini USG juga digunakan untuk membantu injeksi dari steroid sehingga dapat melokalisasi saraf yang tepat. Pilihan tatalaksana pembedahan dilakukan pada beberapa jenis cedera kompresi nervus radialis yang disebabkan oleh proses intriksik seperti massa, tulang yang tajam atau kista (Kimbrough et al., 2013). Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan setelah tindakan operasi adalah electromyography (EMG) dan tes kecepatan konduksi saraf biasanya dilakukan 2 minggu setelah operasi agar dapat mengevaluasi fungsi nervus (Adabala et al., 2020).

 

Referensi:

Adabala V, Govil N dan Challa R (2020). Saturday night palsy. Bali Journal of Anesthesiology, 4(2), hal.: 86–87. doi: 10.4103/BJOA.BJOA_11_20.

Ansari FH dan Juergens AL (2022). Saturday Night Palsy. StatPearls. Tersedia pada: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/32491452.

Kimbrough DA, Mehta K dan Wissman RD (2013). Case of the Season: Saturday Night Palsy. Seminars in Roentgenology, 48(2), hal.: 108–110. doi: 10.1053/j.ro.2012.11.002.