Senin, 26 September 2022 14:16 WIB

Jenis Kelamin, Jumlah Anggota Keluarga & Pengetahuan Mempengaruhi Status Gizi Anak Remaja

Responsive image
474
Nyimas Sri Wahyuni, M.Kep,SP,Kep.A - RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang

Status gizi remaja dipengaruhi beberapa faktor seperti jenis kelamin, jumlah anggota keluarga dirumah dan pengetahuan gizi anak. Jenis kelamin merupakan faktor internal yang menentukan kebutuhan gizi sehingga ada hubungan antara jenis kelamin dan status gizi (Briawan, D, 2014). Perbedaan jenis kelamin memiliki peran dalam perilaku penurunan berat badan. Remaja putri cenderung lebih aktif dalam perilaku penurunan berat badan dibanding remaja putera. Hal ini disebabkan karena rendahnya kepercayaan diri mereka terhadap penampilan fisik. Banyak remaja putri menganggap dirinya kegemukan sehingga cenderung melakukan penurunan berat badan dengan cara yang tidak sehat seperti diet berlebihan, puasa menggunakan laksatif dan memuntahkan makanan (Shills et al, 2006). Asupan yang rendah akan zat besi, kalsium, tiamin, dan riboflavin, terhadap kelompok remaja yang membatasi makanan demi menurunan berat badannya (Briawan, D, 2014).

Remaja putera cenderung memperbanyak olahraga untuk membentuk tubuhnya dan tetap bernafsu untuk makan. Walaupun cukup terpengaruh dengan informasi dari media tentang bentuk tubuh yang ideal, remaja putera menyikapinya dengan positif. Remaja putra lebih cenderung membentuk tubuhnya agar lebih berotot, bukan memperkurus tubuhnya seperti banyak yang dilakukan remaja puteri (Thompson 2004: Garrow et al, 2000). Kebutuhan gizi anak laki-laki dengan perempuan berbeda yang dimulai dari umur 10-16 tahun, hal tersebut karena anak laki-laki lebih banyak melakukan aktivitas fisik sehingga membutuhkan energi yang lebih banyak (Briawan, D,2014).

Jumlah anggota keluarga akan mempengaruhi gizi remaja itu sendiri. Menurut Isnani, F. (2015) semakin besar jumlah penduduk di suatu daerah maka pemerintah harus menyediakan bahan makanan dalam jumlah cukup. Begitu juga dengan jumlah anggota keluarga, semakin besar jumlah anggota keluarga maka tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan semakin besar. Jumlah keluarga memiliki pengaruh yang bermakna terhadap terbatasnya bahan makanan yang tersedia. Isnani, F. (2015) berpendapat bahwa kelaparan dapat terjadi pada keluarga yang mempunyai jumlah anggota empat kali lebih besar dibanding dengan keluarga yang mempunyai lebih sedikit anggota. Keluarga dengan status ekonomi rendah dan memiliki banyak anak mengakibatkan kurangnya kasih sayang dan perhatian pada anak termasuk kebutuhan makan.

Jumlah anggota keluarga diduga turut menentukan tingkat konsumsi makanan. Jumlah anggota rumah tangga yang besar bila tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan akan memperburuk status gizi keluarga secara keseluruhan. Di kalangan pegawai negeri misalnya, tiap penambahan anak dalam batas tertentu mendapatkan tunjangan yang dapat menambah penghasilan keluarga; walaupun demikian, sampai pada umur tertentu kenaikan penghasilan itu tidak seimbang lagi dengan kenaikan kebutuhan anggota keluarga. Keadaan ini akan lebih buruk pada keluarga berpenghasilan rendah yang bukan pegawai negeri ( Briawan, D, (2014).

Faktor pengetahuan juga merupakan hal penting. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu yang didapat setelah melakukan penginderaan terhadap suatu objek. Ada 6 tahap pengetahuan yaitu memahami (know), comprehension, aplikasi (aplication), analisis (analysis), sintesis (syntesis) dan evaluasi (evaluation) (Notoadmodjo, 1993).

Pengetahuan adalah segala informasi yang diperoleh secara terbiasa terhadap suatu objek yang akan diingat oleh seseorang/kelompok tentang hal yang diketahui. Briawan, D, (2014) pengetahuan gizi anak tidak hanya diperoleh melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui pendidikan informal, seperti media massa. Pada umumnya orang yang memilki pengetahuan gizi yang baik cenderung memiliki pola makan yang baik pula. Akan tetapi, tidak dipungkiri bahwa memiliki pengetahuan yang baik tentang gizi dan kesehatan belum tentu dengan kebiasaan makan yang baik pula (Isnani, F,2015).

Pengetahuan gizi yang sangat umum untuk diketahui diantaranya berupa pengetahuan tentang sumber dan fungsi makanan, cara memiliki dan mengolah makanan, susunan makanan, cara penyajian makanan yang efisien serta menilai kesehatan yang dilihat dari sudut pandang gizi. Seseorang yang memiliki pengetahuan gizi rendah cenderung memilih makanan dari segi penampilan makanan yang dilihatnya.Pengetahuan tentang pemilihan makanan yang sehat dapat dijadikan sebagai faktor predisposisi yang diambil untuk hidup sehat (Isnani, F, 2015) tetapi tidak cukup sebagai motivator untuk mengkonsumsi makanan sehat (Briawan, D,2014).Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengetahuan gizi pada siswa sekolah menengah di Australia, sebagian besar tahu tentang gizi, pertikel lemak dan serat.

 

Referensi:

Briawan, D. (2014). Masalah gizi pada remaja wanita. Jakarta: EGC

Isnani, F. (2015). Praktik hidup sehat dan persepsi tubuh ideal remaja putri SMA Negeri 1 Kota Bogor, Jurnal Gizi Klinik Indonesia. Vol 15 (2).
Sumber gambar : soaldankuncijawabanbuku.blogspot.com

( DOC, PROMKES RSMH)