Jumat, 17 September 2021 16:22 WIB

Penanganan Pecah Pembuluh Darah Otak Tanpa Sayatan Bersama dr. Abrar Arham, SpBS dan Dallas Pratama

Responsive image
287 kali
(TA-hukormas) - RS Pusat Otak Nasional Prof. Dr.dr.Mahar Mardjono Jakarta

JAKARTA – kamis 16 September 2021, Aneurisma otak mungkin banyak yang belum memahaminya. Namun diperkirakan sekitar 500.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit ini.

Aneurisma otak merupakan kondisi dimana dinding pembuluh darah otak melebar atau menonjol (ballooning) akibat lemahnya dinding pembuluh darah tersebut. Jika aneurisma ini pecah dapat mengakibatkan kondisi fatal yaitu perdarahan otak (subarachnoid) dan kerusakan otak. Pecahnya aneurisma ini diperkirakan dialami oleh 1 orang setiap 18 menit.

Aneurisma otak dapat terjadi pada siapa saja, dan umumnya sebelum pecah aneurisma tidak bergejala, sehingga dianjurkan untuk melakukan brain check- up secara rutin. Beberapa orang terkenal pernah mengalami pecah aneurisma otak diantaranya, Sharon Stone, Emilia Clarke (Game of Throne), Dr. Dre, Neil Young, dan Bondan Winarno.

Dampaknya pun bisa dibilang tidak ringan. Aneurisma memang tidak selalu berujung pada kematian. Namun kualitas hidup penderitanya juga menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga. Kecacatan, perawatan, tenaga, dan biaya besar menjadi faktor penting yang perlu dipahami oleh penderita aneurisma otak.

Itu sebabnya, pada tahun 2021 ini, Brain Aneurysm Awareness Month yang jatuh setiap bulan September setiap tahunnya, mengangkat tema ‘Raising Awareness, Supporting Survivors, Saving Lives’.

“Selain meningkatkan awareness masyarakat akan aneurisma otak ini, kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia juga harus ditingkatkan agar dapat mendeteksi dini, melakukan edukasi pencegahan, dan penanganan komprehensif aneurisma terutama pada penderita yang telah mengalami pecahnya aneurisma otak, atau akan lebih baik bila dapat ditangani sebelum aneurisma tersebut pecah” jelas dr. Abrar Arham, SpBS.

Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (PON), saat ini menangani kurang lebih 100 kasus aneurisma otak setiap tahunnya. Penanganan kasus aneurisma otak ini membutuhkan kolaborasi multidisiplin melibatkan dokter bedah saraf, neurointervensionist, neurologist, intensivist, dan lain sebagainya. Disamping itu diperlukan berbagai peralatan dan fasilitas penunjang yang memadai dan mutakhir agar kita dapat menangani kasus aneurisma otak dengan tingkat keberhasilan yang cukup baik,” jelas dr. Abrar lebih lanjut.

Penanganan aneurisma dapat dilakukan dengan beberapa metode, antara lain operasi bedah mikro (Clipping Aneurism) atau dengan teknik minimal invasif endovaskular (Coiling Aneurism). Untuk mengevaluasi secara detail kelainan pembuluh darah otak ini, seringkali kita membutuhkan pemeriksaan DSA (Digital Subtraction Angiography), yang hasilnya dapat membantu menentukan jenis terapi terbaik untuk menangani kasus aneurisma ini.

dr. Abrar juga memaparkan teknologi minimal invasif (endovaskular) untuk tatalaksana aneurisma ini sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Salah satu perkembangan terkini yaitu pemasangan Cerebral Flow Diverter untuk pengobatan aneurisma yang angka keberhasilannya sangat tinggi (hingga 95%). Metode ini sudah mulai diterapkan di rumah sakit PON dalam beberapa tahun ke belakang.

Keunggulan teknologi ini adalah:

  • Prosedur relatif cepat
  • Pasca-tindakan tidak perlu perawatan ICU
  • Mengurangi lamanya rawat inap
  • Lebih nyaman untuk pasien
  • Tidak ada luka sayatan

“Dengan hadirnya aneurysm awareness month ini, saya berharap masyarakat lebih aware akan penyakit ini dan mau melakukan pemeriksaan brain check-up secara rutin, sehingga kasus-kasus aneurisma otak di Indonesia dapat ditangani sebelum pecah dan membantu mencegah kecacatan dan kematian akibat penyakit ini.”

Dalam bincang-bincang kali ini dibuka langsung oleh Direktur Utama RSPON  dr. Abrar mengundang Aktor sekaligus pasien yang pernah mengalami koma akibat pecahnya pembuluh darah otak bagian kiri atau aneurisma di tahun 2015. Dallas mengungkapkan bahwa sebelum mengalami pecah pembuluh darah mengalami sakit kepala yang cukup hebat seperti ditusuk-tusuk lalu tidak sadarkan diri dan dibawa ke RS oleh keluarga.

Aneurisma yang dideritanya kemungkinan disebabkan oleh tekanan darah tinggi atau hipertensinya. Dallas dalam akun instagramnya yang ditulis oleh istrinya, Kaditha Ayu, sudah mengalami perbaikan yang luar biasa setelah kondisi aneurismanya diatasi dengan tindakan coiling di RS PON.

Coiling merupakan tindakan memasukkan coil melalui akses pembuluh darah ke lokasi target, sehingga darah tidak lagi masuk ke dalam kantong aneurisma yang pecah tersebut. Dengan tindakan ini, diharapkan Dallas tidak akan kembali mengalami pecah pembuluh darah.

Setelah kejadian tersebut kurang lebih 6 bulan Dallas sempat mengalami gangguan pada ingatannya dan berangsur-angsur pulih setelah 2 tahun dengan dibantu oleh istri dan keluarga. Sampai hari ini Dallas sudah bisa kembali beraktifitas seperti semula dengan tetap memperhatikan pola makan dan tidak melakukan olah raga yang terlalu berat.