Jumat, 07 Juni 2024 15:01 WIB

Talkshow : Peringatan World Clubfoot Day 2024

Responsive image
Humas - RS Ortopedi Prof.Dr.R.Soeharso Surakarta
66

Sukoharjo - Asosiasi Internasional Ponseti (PIA) telah menetapkan tanggal 3 Juni sebagai Hari Kaki Pengkor Sedunia. Tanggal tersebut dipilih untuk memperingati tanggal lahir Dr. Ignacio Ponseti, (1914-2009) pengembang Metode Ponseti untuk mengobati kaki pengkor.

Tujuan dari Hari Kaki Pengkor Sedunia adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang kecacatan kaki pengkor dan pencegahannya menggunakan Metode Ponseti, yaitu perawatan non-bedah yang mencakup manipulasi lembut pada kaki diikuti dengan pemasangan gips dan pemakaian Sepatu FAB sebagai Sepatu koreksi yang berfungsi untuk membuat kaki yang sudah dikoreksi tetap terjaga.

Menurut American Academy of Orthopedic Surgeons, kaki pengkor terjadi pada satu dari setiap 1.000 kelahiran bayi. Untuk alasan yang tidak diketahui, kaki pengkor lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Jika angka kelahiran di Indonesia 4,6 juta setahun diperkirakan ada 4600 anak yang mengalami clubfoot/CTEV.

RS Ortopedi Soeharso yang mempunyai pelayanan di bidang pediatri membentuk tim rehabiltasi pediatri ortopedi yang terdiri dari Dokter spesialis ortopedi sub pediatri, dr spesialis keterapian fisik dan rehabiltasi, pskiolog, ortosis protesis, fisioterapi, okupasi terapi dan terapi wicara agar bisa memberikan pelayanan yang terbaik untuk pasien pediatri / anak.

Salah satu kegiatan dari tim rehabiltasi pediatri ortopedi adalah adanya webinar untuk orang tua pasien pediatri dan pemerhati pediatri di seluruh Indonesia.

Pada tanggal 5 Juni 2024 tim rehabiltasi pediatri ortopedi mengadakan talkshow peringatan Clubfoot Day 2024 yang dilaksanakan secara daring melalui zoom dan disiarkan secara langsung di youtube official RS Ortopedi. Dengan menghadirkan pembicara dr. Anung Budi Satriadi, Sp.OT(K) seorang spesialis bedah ortopedi sub pediatri yang pernah berguru langsung dengan Dr Ignacio Ponseti, dr Wahidah SPKFR seorang dokter spesialis keterapian fisik dan rehabilitasi yang mempunyai peminatan dibidang pediatri serta Ardian Fatkhurohman, STr kepala ruang Ortosis prothesis RS Ortopedi Surakarta. Dan dipandu moderator Agus Haryatmo, Psikolog.

“Clubfoot/kaki pengkor adalah penyakit yang sangat serius namun kurang mendapatkan perhatian yang serius, karena bila tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan kecacatan dan pada saat anak masuk dunia kerja akan mengurangi kualitas anak tersebut, sedangkan bila ditangani dengan baik anak akan bisa mendapatkan kaki yang normal di saat dewasa nanti”, ungkap dr. Anung Budi Satriadi, Sp.OT(K).

Sedangkan dr. Wahidah, Sp.KFR, menyampaikan pemakaian FAB (Foot Abduction Brace) fungsinya untuk memberikan koreksi secara pasif dalam keadaan diam dan aktif Ketika digerakkan, fungsi bar (besi) pada FAB itu untuk koreksi sehingga bukan FAB kalau tanpa bar, sepatu untuk CTEV tanpa bar hanya akan menjadi sepatu biasa yang tidak punya kemampuan koreksi.

Dan Ardian F, STr, menyampaikan juga  penangaanan dirumah sakit hanya sebagian kecil dari proses penangganan ctev, peran orang tua sangat dibutuhkan apalagi setelah proses manipulasi dengan gips selesai dan penggunaan sepatu FAB, untuk itu dibutuhkan keseriusan dari orang tua agar sepatu dipakai sesuai aturan, baik aturan waktu maupun aturan penggunaan misalnya harus tepat dan tidak jinjit.

Agus Haryatmo, psikolog pada kenyataannya penangan pada anak CTEV sering mendapat tantangan dari kakek-nenek bahkan ayah dari si anak dengan alasan kasihan, satu-satunya cara untuk menghindari konflik tersebut adalah mengedukasi orang yang belum paham dengan proses penanganan ctev dengan metode ponseti, diharapkan setelah mereka paham akan bisa mendukung dan membantu dalam proses pemakain sepatu koreksinya.