Jumat, 16 September 2022 08:18 WIB

Kusta

Responsive image
7227
Tim Promkes RSST - RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

Kusta adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae, yang menyerang kulit dan jaringan saraf perifer serta mata dan selaput yang melapisi bagian dalam hidung. Kusta atau lepra dikenal juga dengan nama penyakit Hansen atau Morbus Hansen. Dengan mendapatkan diagnosis dan pengobatan dini, penyakit ini dapat disembuhkan dengan tepat dan mencegah kecacatan. Kusta pernah ditakuti sebagai sebagai salah satu penyakit yang sangat menular dan dapat menimbulkan masalah yang parah. Namun, sekarang ini diketahui jika penyakit ini tidak mudah menyebar dan pengobatan yang dilakukan dapat sangat efektif untuk mengatasinya. Akan tetapi, kerusakan saraf dapat menyebabkan kelumpuhan dan buta jika seseorang tidak mendapat pengobatan.

Kusta atau lepra dapat ditandai dengan lemah atau mati rasa di tungkai dan kaki, kemudian diikuti dengan timbulnya lesi di kulit. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri ini dapat menyebar melalui percikan ludah atau dahak yang keluar saat penderitanya batuk atau bersin. Kusta umumnya dapat ditangani dan jarang menyebabkan kematian. Namun, penyakit ini berisiko menyebabkan cacat. Akibatnya, penderita kusta berisiko mengalami diskriminasi yang dapat berdampak pada kondisi psikologisnya.

Penyebab Kusta

Kusta atau lepra disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini dapat menular dari satu orang ke orang lainnya melalui percikan cairan dari saluran pernapasan (droplet), yaitu ludah atau dahak, yang keluar saat batuk atau bersin.

Seseorang dapat tertular kusta jika terkena percikan droplet dari penderitanya secara terus-menerus dalam waktu yang lama. Dengan kata lain, bakteri penyebab lepra tidak dapat menular kepada orang lain dengan mudah. Selain itu, bakteri ini juga membutuhkan waktu lama untuk berkembang biak di dalam tubuh penderita.

Selain penyebab di atas, ada beberapa faktor lain yang bisa meningkatkan risiko seseorang terkena kusta, di antaranya :

1.      Bersentuhan dengan hewan penyebar bakteri kusta, seperti armadillo.

2.      Menetap atau berkunjung ke kawasan endemik kusta.

3.      Memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh.

Gejala Kusta

Gejala kusta pada awalnya tidak tampak jelas dan biasanya berkembang secara perlahan. Bahkan, pada beberapa kasus, gejala kusta baru bisa terlihat setelah bakteri kusta berkembang biak dalam tubuh penderita selama 20 tahun atau lebih.

Beberapa gejala kusta yang dapat dirasakan penderitanya adalah :

1.      Kulit menjadi mati rasa, termasuk kehilangan kemampuan merasakan suhu, sentuhan, tekanan, atau nyeri.

2.      Kulit tidak berkeringat (anhidrosis).

3.      Kulit terasa kaku dan kering.

4.      Luka yang tidak terasa nyeri di telapak kaki.

5.      Bengkak atau benjolan di wajah dan telinga.

6.      Bercak yang tampak pucat dan berwarna lebih terang daripada kulit di sekitarnya.

7.      Saraf membesar, biasanya di siku dan lutut.

8.      Otot melemah, terutama pada otot kaki dan tangan.

9.      Alis dan bulu mata hilang permanen.

10.   Mata menjadi kering dan jarang mengedip.

11.   Mimisan, hidung tersumbat, atau kehilangan tulang hidung.

Jenis kusta berdasarkan tingkat keparahan :

1.      Intermediate Leprosy

Kusta ini ditandai dengan beberapa lesi datar berwarna pucat atau lebih cerah dari warna kulit sekitarnya, yang terkadang dapat sembuh dengan sendirinya.

2.      Tuberculoid Leprosy

Kusta ini ditandai dengan beberapa lesi datar yang kadang berukuran besar, mati rasa, dan disertai dengan pembesaran saraf.

3.      Borderline Tuberculoid Leprosy

Kusta jenis ini ditandai dengan munculnya lesi yang berukuran lebih kecil dan lebih banyak dari tuberculoid leprosy.

4.      Mid-Borderline Leprosy

Lepra jenis ini ditandai dengan lesi kemerahan yang tersebar secara acak dan asimetris, mati rasa, dan pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar kusta.

5.      Borderline Lepromatous Leprosy

Kusta ini ditandai dengan lesi yang berjumlah banyak dengan bentuk datar atau benjolan. Kusta jenis ini juga terkadang menimbulkan mati rasa.

6.      Lepromatous Leprosy

Lepra ini ditandai dengan lesi yang tersebar dengan simetris. Umumnya, lesi yang timbul mengandung banyak bakteri dan disertai dengan rambut rontok, gangguan saraf, serta kelemahan anggota gerak.

Pemeriksaan Kusta

Untuk memastikan apakah pasien menderita lepra, dokter akan mengambil sampel kulit dengan cara dikerok (skin smear). Sampel kulit ini kemudian akan dianalisis di laboratorium untuk mengecek keberadaan bakteri Mycobacterium leprae. Di daerah endemik lepra, seseorang dapat didiagnosis menderita lepra meskipun pemeriksaan kerokan kulit menunjukkan hasil negatif.

Jika lepra yang diderita sudah cukup parah, dokter akan melakukan tes pendukung untuk memeriksa apakah bakteri Mycobacterium leprae sudah menyebar ke organ lain atau belum. Contoh pemeriksaannya adalah :

1.      Hitung darah lengkap.

2.      Tes fungsi liver atau hati.

3.      Tes kreatinin

4.      Biopsi saraf

Penanganan Kusta

Metode utama untuk mengobati kusta atau lepra adalah dengan obat antibiotik. Penderita kusta akan diberi kombinasi beberapa jenis antibiotik selama 1-2 tahun. Jenis, dosis, dan durasi penggunaan antibiotik akan ditentukan berdasarkan jenis kusta yang diderita.

 

Referensi        :

Kabul Rachman. 2017. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Kusta Pasca Kemoprofilaksis (Studi pada Kontak Penderita Kusta di Kabupaten Sampang). Jurnal Epidemiologi Program Studi Paska Sarjana Magister Epidemiologi Universitas Diponegoro Semarang.

Somar, P., Waltz, M., & van Brakel, W. 2020. The Impact of Leprosy on the Mental Wellbeing of Leprosy-affected Persons and their Family Members - A Systematic Review. Global Mental Health, 7, pp. e15.

Reinar, L., et al. 2019. Interventions for Ulceration and Other Skin Changes Caused by Nerve Damage in Leprosy. Cochrane Database of Systematic Reviews, (7), pp. 1465-858.

Centers for Disease Control and Prevention. 2022. Hansen’s Disease (Leprosy).

National Institute of Health. 2020. MedlinePlus. Leprosy.

Davis, C. MedicineNet. 2021. Leprosy (Hansen’s Disease).

Kugler, M. Verywell Health. 2021. What is Leprosy?

Tierney, D., & Nardell, E. MSD Manual. 2018. Leprosy.