Senin, 08 Agustus 2022 08:51 WIB

Pengobatan Baru Migrain dengan Antibodi Monoklonal (mAbs)

Responsive image
869
dr. Sekplin Sekeon, MPH, Sp. S(K) - RSUP Prof. dr. R.D. Kandou Manado

Kebanyakan orang pasti pernah mengalami nyeri kepala tidak terkecuali migrain yang dapat dirasakan nyeri kepala yang berat. Migrain sendiri menurut Oragnisasi Kesehatan Dunia/ World Health Organization (WHO) mengungkapkan bahwa migraine merupakan salah satu jenis nyeri kepala yang paling umum terjadi di dunia dan merupakan penyebab konsultasi nyeri kepala yang paling sering dan salah satu penyakit yang menyebabkan disabilitas. Prevalensi migraine rata-rata mencapai 18%.

Ada beberapa pengobatan migrain yang digunakan namun, Sebagian besar obat obatan ini sebenarnya dirancang untuk mengobati penyakit selain migrain. Kurangnya kemampuan obat dalam mengobati dan mencegah migrain kerap kali membuat pasien beralih, memulai kembali dan menghentikan pengobatan. Pengembangan obat baru dalam mengobati dan mencegah migrain salah satunya yaitu antibodi monoklonal (mAbs) terhadap Calcitonin gene-related peptide antibodies (CGRP).

Selama serangan migrain, saraf otak dan pembuluh darah melepaskan zat termasuk CGRP. CGRP merupakan neuropeptida dengan 37 asam amino yang terletak pada jaringan saraf trigeminal yang terdapat pada dinding pembuluh darah otak. CGRP diketahui terlibat dalam proses peradangan dan pelebaran pembuluh darah yang menyebabkan rasa sakit selama serangan. Obat mAbs menargetkan CGRP untuk mencegah migrain berkembang. Penelitian telah menemukan bahwa obat-obatan ini aman dan efektif dalam mengurangi frekuensi dan tingkat keparahan serangan migrain.

Saat ini, obat mAbs terhadap CGRP, yaitu eptinezumab, fremanezumab, galcanezumab, dan erenumab, digunakan untuk pencegahan migrain. Fremanezumab, galcanezumab dan eptinezumab adalah obat yang memiliki kemampuan untuk berikatan dengan CGRP. Sementara erenumab merupakan obat yang secara selektif berpotensi menduduki reseptor CGRP.

Obat ini diberikan dengan cara disuntikan di bawah kulit yang dikenal sebagai injeksi subkutan, baik setiap bulan atau setiap beberapa bulan. Anda dapat melakukannya sendiri setelah ditunjukkan oleh dokter atau perawat. Salah satu obat, Eptinezumab, diberikan secara intravena (ke dalam vena melalui infus) setiap tiga bulan sekali. Efek samping obat ini ditemukan lebih sedikit daripada obat pencegahan migrain lainnya. Efek samping utama adalah rasa sakit karena disuntikkan dan sembelit yang dialami beberapa orang.

 

Referensi:

Vandervorst, F., Van Deun, L., Van Dycke, A. et al. CGRP monoclonal antibodies in migraine: an efficacy and tolerability comparison with standard prophylactic drugs. J Headache Pain 22, 128 (2021).

Wang X, Chen Y, Song J and You C (2021) Efficacy and Safety of Monoclonal Antibody Against Calcitonin Gene-Related Peptide or Its Receptor for Migraine: A Systematic Review and Network Meta-analysis. Front. Pharmacol. 12:649143.

Sumber gambar: kompas.com