Kamis, 23 Juni 2022 23:52 WIB

Puasa Ramadhan Bagi Kesehatan

Responsive image
10 kali
Arifin Syam - RS Jiwa Prof.Dr.Soeroyo Magelang

Puasa Ramadhan adalah salah satu rukun Islam dimana setiap muslim diwajibkan untuk melaksanakannya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Islam dibangun di atas lima (tonggak): mentauhidkan (mengesakan) Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, puasa di bulan Ramadhan, dan Haji”. Perintah puasa Ramadhan disyariatkan dengan tujuan utama untuk mencapai predikat taqwa. Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 183 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. Keutamaan Ibadah puasa telah banyak disampaikan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits shahih. Di antaranya, puasa di bulan Ramadhan merupakan moment untuk mendapatkan ampunan dosa yang lalu, pengangkatan derajat dan perbanyak pahala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni”. Setiap ibadah yang diperintahkankan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala selalu menyimpan manfaat baik untuk urusan akhirat atau dunia, lebih spesifik bagi kesehatan. Puasa Ramadhan adalah kesempatan terbaik bagi muslim untuk kembali ke gaya hidup sehat karena dengan puasa, seorang muslim akan diatur pola makannya. Banyak penelitian yang menerangkan manfaat puasa Ramadhan bagi kesehatan, sebagai contoh pada kesehatan mata, ibu hamil, penderita diabetes, gangguan ginjal, gangguan kolesterol dan obesitas.(Subrata & Dewi, 2017)

Puasa Ramadhan bagi kesehatan mata

Mata diciptakan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala memiliki sebuah tekanan fisiologi yang disebut dengan tekanan intraokuler. Normalnya tekanan ini memiliki rentang antara 10 - 20 mmHg. Tekanan ini berfungsi untuk menstabilkan bentuk mata, suplai nutrisi dan sebagai pembiasan cahaya sehingga mata dapat untuk melihat. Tekanan intraokuler disamakan layaknya tekanan darah dimana saat tekanan menurun atau naik berpengaruh pada fungsi mata. Kaitannya dengan ibadah puasa Ramadhan, ibadah ini memiliki pengaruh secara langsung terhadap kesehatan mata. Sebuah penelitian menjelaskan bahwa puasa Ramadhan mempunya kaitan terhadap peningkatan tekanan intraocular pada pagi hari baik pada orang sehat maupun orang dengan gangguan mata. Hal ini berhubungan dengan asupan cairan dan makanan pada saat sahur. Hasil penelitian lain ditemukan bahwa terjadi perubahan tekanan intraokuler selama bulan Ramadhan. Oleh karena itu penderita dengan gangguan tekanan intraokuler (contoh penyakit glaucoma) dianjurkan untuk pembatasan asupan cairan saat sahur guna mencegah peningkatan tekanan intraokuler, karena ketika tekanan meningkat akan menimbulkan nyeri disekitar mata.

Lebih lanjut puasa ternyata juga berperan pada penurunan fungsi air mata sebagai efek perubahan porsi asupan makanan sehingga saat sahur dan berbuka disarankan untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung vit.A, vit.B.6, vit.C, protein, zinc dan kalium untuk menstabilkan fungsi dan kadar air mata. Sedangkan dari aspek lensa mata, sebuah penelitian didapati bahwa puasa Ramadhan tidak memiliki pengaruh terhadap tingkat keparahan penyakit myopia atau rabun jauh. Dapat disimpulkan bahwa bagi pasien yang mengalami penyakit gangguan mata seperti glaukoma disarankan untuk tetap berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan saran aman atau tidaknya menjalankan puasa di bulan Ramadhan. Akan tetapi bagi pasien yang sehat, sebuah penelitian menerangkan bahwa, puasa Ramadhan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap fisiologis mata dari sisi tekanan intraokuler dan fungsi pengelihatan. Yang jelas masih diperlukan penelitian-penelitian lain tentang pengaruh puasa Ramadhan terhadap penyakit mata jenis lain seperti katarak, presbiopi, pasca bedah mata dan lainnya.

Puasa Ramadhan bagi Ibu Hamil

Puasa Ramadhan tetap dianjurkan bagi wanita yang sedang hamil untuk tetap berpuasa jika memang tidak membahayakan kondisi janinnya, walaupun puasa Ramadhan bagi ibu hamil masih menjadi perdebatan panjang di kalangan peneliti. Sebuah studi menerangkan bahwa wanita hamil kurang disarankan untuk menjalankan puasa Ramadhan karena dapat menimbulkan resiko berat badan janin lahir rendah (BBLR), meningkatkan hyperemesis gravidarum, ISK dan memicu penurunan gerakan janin di rahim. akan tetapi beberapa penelitian juga menjelaskan beberapa pengaruh baik puasa Ramadhan bagi kesehatan ibu hamil di antaranya, wanita hamil umur 25 - 35 tahun dengan index masa tubuh normal (18.5 - 24.9) dan tidak memiliki penyakit kronik, tidak terpengaruh oleh puasa Ramadhan. Penelitian lain menerangkan bahwa puasa Ramadhan tidak berpengaruh terhadap jumlah air ketuban. Dari hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa puasa Ramadhan bagi ibu hamil adalah sebuah pilihan. Jika memang mengkhawatirkan kondisi janin disarankan untuk tidak berpuasa. Namun jika tidak ada kekhawatiran adanya masalah kesehatan baik pada ibu ataupun janin, maka tidak menjadikan masalah untuk tetap menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Puasa Ramadhan pada penderita Diabetes Mellitus

Diabetes melitus merupakan kumpulan gangguan metabolik yang ditandai dengan hiperglikemi sebagai akibat gangguan sekresi insulin, aksi insulin atau keduanya. Hubungannya dengan puasa Ramadhan, terdapat penelitian yang menjelaskan bahwa sebagian penderita diabetes merasa khawatir menjalankan puasa karena akan mempengaruhi kadar gula darah. Hal ini terjadi karena dampak perubahan pola waktu makan, jenis makanan, pengobatan dan gaya hidup sehari-hari selama bulan Ramadhan.  Pada banyak kasus ditemukan terjadi hipoglikemia berat pada pasien diabetes yang menjalankan puasa Ramadhan, namun kasus ini terjadi karena pada pasien yang merubah dosis terapi insulinnya. Sebaliknya pada sebuah studi klasik menjelaskan bahwa puasa Ramadhan tidak mempengaruhi kontrol gula darah, hanya saja ada penurunan trigliserid dan peningkatan asam urat selama puasa. Hasil riset diatas didukung oleh sebuah studi yang memaparkan bahwa puasa Ramadhan aman bagi penderita diabetes tipe 1 dengan catatan penderita dan keluarga mendapat edukasi yang tepat dan rutin mengontrol kadar gula darah ke layanan kesehatan. Studi lain menjelaskan penderita diabetes tipe 1 aman untuk menjalankan puasa selama beberapa hari. Bagi penderita diabetes dengan terapi insulin dapat menjalankan puasa namun tetap rutin untuk mengontrol kadar gula darah terlebih dahulu sebelum Ramadhan dan memantaunya selama Ramadhan. Dari beberapa hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa pasien diabetes mellitus tipe 1 dan 2 dapat menjalankan ibadah puasa Ramadhan namun harus tetap rajin mengontrol gula darah, konsumsi obat antidiabetes dan rutin cek kesehatan. Jika terjadi hipoglikemia berat, maka disarankan untuk tidak berpuasa terlebih dahulu.

 

Puasa Ramadhan bagi penderita penyakit ginjal

Gagal ginjal adalah kerusakan pada ginjal yang ditandai dengan menurunnya fungsi ginjal. Faktor resiko yang menyebabkan gagal ginjal di antaranya riwayat keluarga, jenis kelamin, ras (afrika amerika), umur (lansia), BBLR, obesitas, status social ekonomi, kebiasaan merokok, alkohol dan penyalahgunaan obat, diabetes melitus, hipertensi. Hubungannya dengan puasa Ramadhan, terdapat beberapa penelitian yang menerangkan bahwa penderita batu ginjal diperbolehkan puasa akan tetapi dengan terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter untuk pemeriksaan kondisi fisik. Penderita gagal ginjal aman untuk melaksanakan puasa Ramadhan karena beberapa alasan : pertama, puasa Ramadhan dapat menurunkan tekanan darah sehingga akan meningkatkan kinerja atau fungsi ginjal. Kedua, puasa Ramadhan dapat menurunkan berat badan dan akan berdampak pada perbaikan fungsi jantung dan ginjal. Penderita gagal ginjal tetap boleh menjalankan ibadah puasa akan tetapi tetap dengan pemantauan oleh tim kesehatan terhadap asupan cairan dan obat-obatan. Pasien dengan dialysis peritoneal juga diperbolehkan untuk menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan karena puasa tidak berpengaruh signifikan terhadap fungsi ginjal. Pasien dengan terapi hemodialisa juga aman menjalankan puasa Ramadhan karena terjadi penurunan berat badan, perbaikan serum albumin dan tingkat asam fosfat. Sebuah literature menjelaskan bahwa puasa Ramadhan tidak mengakibatkan injury pada penderita dengan gagal ginjal. Bahkan saat menjalankan puasa Ramadhan pasien justru lebih aktif dalam aktifitas keagamaan. Sebaliknya pada penelitian yang lain dijelaskan bahwa puasa Ramadhan dapat menimbulkan keluhan terutama bagi yang memiliki penyakit ginjal. Hal ini disebabkan karena pengaruh kekurangan cairan saat menjalankan puasa. Dapat disimpulkan bahwa bagi penderita penyakit ginjal disarankan sebelum menjalankan puasa Ramadhan untuk konsultasi dengan tenaga kesehatan sehingga dapat meminimalkan resiko atau keluhan selama puasa.

Puasa Ramadhan bagi penderita gangguan kolesterol dan obesitas

Kolesterol adalah salah satu jenis lemak yang dapat ditemukan di semua sel tubuh manusia yang berfungsi untuk pembentukan hormon, vitamin D dan enzim untuk mencerna makanan. Kolesterol dibagi menjadi dua yaitu LDL (low-density lipoprotein) atau yang dikenal dengan lemak jahat dan HDL (high-density lipoprotein) atau yang dikenal dengan lemak baik. Di samping itu ada trigliserida dimana menjadi salah satu penyebab penyakit jantung pada wanita. Nilai normal “lemak total” atau gabungan antara HDL dan LDL yaitu di bawah 200 mg/dl. Berkaitan dengan ibadah puasa, sebuah studi memaparkan bahwa puasa Ramadhan dapat menurunkan kadar LDL dan meningkatkan kadar HDL secara signifikan. Proses penurunan kadar LDL tersebut terjadi pada pertengahan hingga akhir bulan Ramadhan. Hasil penelitian tersebut didukung penelitian lain yang menyebutkan bahwa penderita diabetes melitus yang menjalankan ibadah puasa Ramadhan mengalami penurunan kadar kolesterol meskipun tidak terlalu signifikan. Penelitian lain dengan sampel sebanyak 30 remaja sehat yang menjalankan puasa Ramadhan, menjelaskan bahwa terdapat adanya peningkatan HDL selama bulan puasa karena pembatasan konsumsi makanan. Hubungannya dengan  obesitas, puasa Ramadhan dapat menurunkan berat badan sekitar 2 kg selama puasa, kadar LDL tubuh serta meningkatkan HDL. Kesimpulannya selain menurunkan LDL dan meningkatkan HDL, puasa Ramadhan juga dapat menurunkan tekanan darah dan trigliserid.

 

Referensi

Subrata, S. A., & Dewi, M. V. (2017). Puasa Ramadhan dalam Perspektif Kesehatan: Literatur Review. Khazanah: Jurnal Studi Islam Dan Humaniora, 15(2), 241. https://doi.org/10.18592/khazanah.v15i2.1139