TIM PENILAI NASIONAL ASMAN TOGA DAN AKUPRESURE KUNJUNGI KAMPUNG LAWAS MASPATI SURABAYA

Tanggal : 28-Aug-2018 | Dilihat : 761 kali

Surabaya (24/8) – Tim Penilai tingkat Nasional kompetisi Pemanfaatan Asuhan Mandiri (Asman) Toga dan Akupressure yang diwakili dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian dan Unsur Profesi mengunjungi Kampung Lawas Maspati, Surabaya Jawa Timur dalam rangka verifikasi lapangan terhadap berkas yang dikirim ke Pusat. Surabaya yang diwakili oleh Kampung Lawas Maspati merupakan salah satu dari 4 kota yang lolos nominasi penilaian tingkat nasional untuk kategori Asman wilayah kota, bersama dengan kota tangerang, Kota Pangkal Pinang dan Karimun Kepri.

Asuhan Mandiri merupakan Salah satu strategi pembangunan kesehatan  yang dilakukan Kementerian Kesehatan dalam rangka meningkatkan upaya promotif – preventif dengan mendorong masyarakat agar mampu memelihara kesehatan diri sendiri, keluarga dan lingkungannya secara mandiri.

Pembinaan asuhan mandiri dengan pemanfaatan TOGA dan akupresur dilakukan bersama antara lintas program Kementerian Kesehatan dan lintas sektor Kementerian Terkait. Pembinaan dilakukan secara berjenjang dari tingkat pusat sampai ke tingkat desa/kelurahan bersama dengan mitra sesuai peran, tugas dan fungsi masing-masing.

“Dalam Penilaian asman toga yang diutamakan bukan banyaknya tanaman tetapi pemanfaatannya di masyarakat, karena sekarang ini biaya obat tinggi jadi bagaimana caranya mencegah supaya tidak sakit” ujar Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional Kementerian Kesehatan, Dr. dr. Ina Rosalina Dadan Sp.A(K), M.Kes, M.H.Kes dalam kunjungannya ke Kampung Lawas Maspati.

Dr Ina menambahkan bahwa warga masyarakat tidak akan rugi jika di rumahnya memiliki berbagai jenis Toga. Sebab, tanaman tersebut akan bisa menambah pemasukan ekonomi keluarga jika pandai meraciknya menjadi minuman kesehatan tradisional.

Adapun poin-poin penilaian dalam lomba Asuhan Mandiri antara lain, dukungan gubernur dan wali kota terkait pengembangan Asman, penilaian terhadap dinas kesehatan terkait pengobatan-pengobatan tradisional, kepala puskesmas, lurah, camat, PKK, kader serta keluarga binaan dalam memanfaatkan toga dan akupresur.

Dalam kesempatan yang sama Walikota Surabaya Tri Risma Harini yang biasa disapa bu Risma menyampaikan bahwa pemanfaatan toga dan akupresur dampaknya sudah dirasakan oleh warga Surabaya. “Bukan penghargaan yang kita inginkan tetapi warga surabaya bisa lebih sejahtera dengan toga” tegas bu Risma.

Risma menyampaikan kekayaan alam di Indonesia sangat luar biasa utamanya tanaman tradisional yang mampu diolah menjadi obat-obatan berkhasiat. Oleh karena itu, dirinya menginginkan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah harus dikembangkan dan digerakkan untuk kesejahteraan warga.

Diharapkan pemanfaatan dan pengembangan toga dan akupressure ini tidak berhenti setelah penilaian, namun dapat dikembangkan lebih lanjut untuk dapat dirasakan manfaatnya untuk kesehatan, lingkungan  dan ekonomi bagi warga Surabaya dan sekitarnya. (ikj/iwj)

**Berita ini disiarkan oleh Bagian Hukormas, Sekretariat Direktorat Jenderal pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon : 021-5277734 atau alamat e-mail : humas.yankes@gmail.com