STOP BULLYING! KENALI DAN ANTISIPASI

Tanggal : 10-Dec-2018 | Dilihat : 240 kali
Beberapa tahun terakhir, fenomena perundungan atau lebih dikenal dengan bullying  semakin mendapat perhatian banyak pihak, baik peneliti, pendidik, organisasi perlindungan, dan tokoh masyarakat.

Bullying dapat didefinisikan sebagai perilaku agresif  dan negatif, dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang secara berulang kali, yang menyalahgunakan ketidakseimbangan kekuatan dengan tujuan untuk menyakiti targetnya (korban), baik secara fisik,verbal maupun psikologis.

Ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan target korban bisa bersifat

nyata maupun bersifat perasaan. Adapun contoh yang bersifat nyata misalnya berupa ukuran badan, kekuatan fisik, jenis kelamin, dan status sosial, sedangkan yang bersifat perasaan, misalnya kepandaian bicara atau bersilat lidah dan perasaan lebih superior. Unsur ketidakseimbangan kekuatan menjadi pembeda utama antara  tindakan bullying dengan bentuk konflik yang lain.

Di dalam konflik yang terjadi antara dua orang dengan kekuatan sama, masing-masing

pihak memiliki kemampuan menawarkan solusi dan berkompromi untuk menyelesaikan

masalah, sedangkan dalam kasus bullying, ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan

korbannya menghalangi keduanya untuk menyelesaikan konflik mereka sendiri, sehingga

perlu kehadiran pihak ketiga.

Bullying dapat terjadi pada semua tingkat usia,tetapi puncaknya pada masa kanak-kanak akhir sampai pertengahan remaja, yaitu pada usia 9-15 tahun, dan mulai menurun setelah periode puncak ini.

Pelaku pada umumnya memiliki ciri khas, yaitu agresivitas yang tinggi dan

kurang memiliki empati. Cenderung menampilkan perilaku negatif dan antisosial

(misalnya, membolos, nakal, penyalahgunaan zat) selama masa remaja dan berisiko untuk

mengalami gangguan kejiwaan. Bagi korban bullying, sekolah dapat menjadi tempat yang tidak menyenangkan dan berbahaya.

Sebagian besar pelajar pernah mengalami suatu bentuk perlakuan tidak menyenangkan dari siswa lain yang lebih tua atau lebih kuat. Kebanyakan perilaku bullying terjadi secara tersembunyi (covert) dan sering tidak dilaporkan, sehingga tidak tertangani dengan baik.

Ketakutan yang mereka alami dapat menimbulkan depresi, Low Self esteem

(LSE), dan sering absen. Biasanya korban akan mengalami perubahan perilaku,

seperti: sering menyendiri, menarik diri dari pergaulan dengan teman sebayanya (peer

group), dihantui perasaan takut jika berhadapan dengan guru, semangat dan motivasi belajar menurun, serta penurunan daya kreativitas. Semua ini tentu saja akan berpengaruh pada menurunnya prestasi belajar siswa.

Korban bullying merasakan berbagai emosi negatif (marah, dendam, kesal, tertekan, takut, malu, sedih, tidak nyaman, terancam), namun merekatidak berdaya menghadapinya. Dalam jangka panjang emosi-emosi ini dapat berujung pada munculnya perasaan bahwa dirinya tidak berharga.

Pada kasus terjadinya tindakan bullying pada terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan

a) Pelaku (Bullies)

Pelaku bullying adalah individu yang secara fisik dan / atau emosional melukai teman

sebayanya secara berulang-ulang. Remaja yang diidentifikasi sebagai pelaku sering memperlihatkan fungsi psikososial yang lebih buruk daripada korban dan

individu yang tidak terlibat dalam perilaku bullying. Pelaku cenderung agresif, bermusuhan, mendominasi teman sebaya, dan menunjukkan sedikit kecemasan dan kegelisahan. Karakteristik kunci pelaku bullying murni adalah miskinnya empati. Empati dipertimbangkan menjadi ciri penting dalam menghambat perilaku agresif.

Jika seseorang memiliki empati, ketika orang itu melihat penderitaan seseorang karena perilaku yang dia timbulkan terhadap orang lain, orang yang memiliki empati akan merasakan sakit yang dirasakan orang lain dan akan menghentikan perilaku.

Motivasi seseorang untuk melakukan bullying dapat disebabkan atas dasar kebencian, perasaan iri, dendam, menyembunyikan rasa  malu dan kegelisahan,atau untuk meningkatkan rasa percaya diri dengan menganggap orang lain tidak ada artinya. Perilaku bullying sering berhubungan dengan fungsi keluarga yang buruk, kekerasan interparental, dan penganiayaan oleh orang tua .

b) Korban (Victim)

Korban bullying yaitu individu yang sering menjadi target dari perilaku agresif,

tindakan yang menyakitkan, dan memperlihatkan pertahanan yang lemah serta tidak mampu melawan penyerangnya. Penelitian terbaru mengindikasikan bahwa anak anak dengan kebutuhan perawatan kesehatan khusus lebih cenderung menjadi kempok beresiko menjadi korban.

Seorang individu dapat dinyatakan menjadi korban bullying ketika individu lain, atau

kelompok individu lainnya:

1. Mengatakan hal yang menyakitkan, mengolok-olok, atau memanggilnya dengan julukan yang menyakitkan

2. Secara total mengabaikan atau menyingkirkannya dari kelompok teman mereka atau meninggalkannya

3. Memukul, menendang, mendorong, atau menguncinya di dalam ruangan

4. Mengatakan kebohongan atau menyebarkan desas-desus palsu tentang dia ataumengirim catatan yang menyakitkan dan mencoba membuat pelajar lainnya tidak menyukai dia

Korban cenderung lebih menunjukkan gejala depresi, cemas dan merasa

tidak aman dibandingkan dengan murid lainnya, memperlihatkan LSE, dan biasanya

bersikap hati-hati, sensitif, serta pendiam. Pada jangka panjang, korban dapat menderita karena masalah emosional dan perilaku yang mempengaruhi konsentrasi dan prestasi belajar.

c) Pelaku-korban (bullies-victim)

Pelaku-korban, yaitu pihak yang terlibat dalam perilaku agresif, tetapi juga menjadi

korban perilaku agresif. Bully-victim menunjukkan tingkat agresivitas verbal

dan fisik yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak lain. Bully-victim juga dilaporkan mengalami peningkatan gejala depresi, merasa sepi, dan cenderung merasa sedih dan moody daripada individu sebayanya. Kelompok ini juga ditandai dengan reaktivitas, regulasi emosi yang buruk, kesulitan dalam akademis dan penolakan dari teman sebaya serta kesulitan belajar

d) Bentuk Bullying

1. Bullying secara fisik (menggigit, mendorong memukul, menendang, meninju,menggores, menampar, meludahi, menjegal, menarik rambut, mencuri atau merusak barang orang lain atau bentuk serangan fisik lainnya).

2. Bullying secara verbal (mengejek, mencela, berkata kasar, menggoda atau membuat komentar yang kejam, menyebarkan rumor palsu dan berbahaya, memberi julukan atau label negatif,merendahkan,ataumengancam).

3. Bullying secara mental / psikologis (digosipkan, ditinggal, dicuekin, diperas, diikuti dikuntit, diintimidasi,dipalak)

4. Bullying secarasosial (menghasut dan mengucilkan).

5. Komentar atau godaan bernada rasis (Racialbullying).

6. Sexual bullying (pelecehan sexual)

7. Cyber bullying (melalui HP, social media).

e) Strategi Pencegahan Bullying

Upaya lain yang dapat dilakukan untuk mencegah agar tidak menjadi sasaran tindakan bullying adalah:

1. Menumbuhkan self esteem yang baik pada anak dan remaja. Anak dengan self esteem yang baik akan bersikap dan berpikir positif, menghargai dirinya sendiri, menghargai orang lain, percaya diri, optimis, dan berani mengatakan haknya (assertive).

2. Mempunyai banyak teman dan bergabung dengan kelompok dengan kegiatan positif.

3. Mengembangkan keterampilan sosial untuk menghadapi bullying, baik sebagai sasaran atau sebagai saksi (by stander), dan bagaimana mencari bantuan jika mendapat perlakuan bullying

f) Nasehati anak:

1. Lari bila diserang,minta bantuan segera

2.Tetap berada di antara teman-teman, jangan menjadi orang terakhir yang meninggalkan ruangan

3. Hindari tempat-tempat sepi yang biasa menjadi area pembulian

4. Selalu berada dalam jangkauan pengamatan guru atau orang dewasa

5. Acak waktu tiba  dan pulang sekolah

6. Ubah  rute ke sekolah

7. Jangan membawa atau pamer barang berharga dan uang

8. Jangan memprovokasi

9. Tatap mata pelaku, berdiri tegak dan percaya diri, tetap tenang

10. Buat catatan: hari, tanggal, waktu, siapa yang terlibat dan apa yg terjadi

11. Bila diserang: teriak minta tolong, lari, teriakkan “Tidak” dan lari bisa mencegah

serangan

12. Bila terpojok dan diserang, lindungi bagian tubuh yang lemah misalnya kepala

g) Diskusi dengan anak

Bila tindakan pembulian telah terjadi maka, ajaklah anak berdiskusi untuk bersama menentukan solusi terbaik

1. Bahas ketakutan anak,terutama bila takut melapor pada guru

2. It’snot about you:jangan percaya apa yg diejekkan

3. Yakinkan bahwa sebagai orangtua akan pertama mempertimbangkan keamanan apapun langkah yang ditempuh

4. Antar-jemput sekolah

5. Bila anak masih ketakutan dan fungsi kehidupan terganggu, mogok sekolah, tidak bisa tidur, sulit konsentrasi, prestasi turun, mimpi buruk, jadi cengeng atau pemarah maka ajak konsultasi ke psikiatri  atau psikologi.