PERILAKU ASERTIF: PERILAKU IDEAL PERAWAT DI INTENSIVE PSYCHIATRIC CARE UNIT (IPCU)

Tanggal : 11-Feb-2020 | Dilihat : 202 kali

Penulis :  - Ns. Rendi Yoga Saputra, S.Kep   RSJRW

Tantangan Menjadi Perawat di Ruang IPCU.

Intensive Psychiatric Care Unit (IPCU) merupakan salah satu unit pelayanan di rumah sakit jiwa yang diperuntukkan bagi pasien yang masih berada dalam kondisi kritis. Pasien tersebut berada pada resiko tinggi menciderai diri dan orang lain, dan membutuhkan asuhan perawatan yang bersifat intensif dibanding unit perawatan lain di rumah sakit jiwa (Beer & Pereira, 2008). Kondisi kritis tersebut tidak hanya dapat dialami pasien yang baru pertama kali rawat inap tetapi juga pasien yang menjalani rawat ulang.  Pasien yang dimasukkan ke dalam IPCU salah satunya adalah pasien kondisi akut dengan diagnosa keperawatan perilaku kekerasan dan riwayat perilaku kekerasan.

Pasien dengan psikotik akut dan pasien dengan penyalahgunaan zat merupakan 2 gangguan jiwa yang paling berisiko melakukan kekerasan di IPCU (Stuart, 2016; Iozzino et al., 2015). Pasien dengan diagnosa keperawatan perilaku kekerasan dan riwayat perilaku kekerasan memiliki gangguan dalam mengendalikan diri atau self-control (Pereira & Clinton, 2012). Gangguan dalam mengendalikan diri tersebut memungkinkan pasien melakukan kekerasan kepada pasien lain dan juga kepada petugas kesehatan, termasuk kepada perawat. Kekerasan yang terjadi meliputi aggresi secara verbal, seksual hingga serangan secara fisik.

Kekerasan yang terjadi pada IPCU merupakan salah satu tantangan yang dihadapi perawat. Membina hubungan terapeutik dengan pasien perilaku kekerasan perawat dituntut untuk mampu berperilaku asertif (Omura et al., 2016; Felton et al., 2018) dan juga mengelola emosinya sendiri sebelum merawat emosi pasiennya (Basogul dan Ozgur, 2016). Hal itu dikarenakan perawat memiliki durasi interaksi dengan pasien yang lebih lama dibandingkan profesi lain dalam pelayanan kesehatan jiwa (Duncan et al., 2016), termasuk dalam merawat pasien penyalahgunaan zat dan pasien dengan skizofrenia.

Penelitian yang dilakukan oleh Spector dan Zhou (2014), menyatakan bahwa sepertiga perawat di dunia terpapar dengan agresi fisik dan bullying dari pasien dengan diagnosa perilaku kekerasan. Sedangkan penelitian Leeuwen (2017) menyatakan bahwa sebanyak 67% petugas dalam pelayanan psikiatri dalam satu bulan mengalami setidaknya 1 kali kekerasan dari pasien yang dirawatnya.  Studi meta-analysis yang dilakukan di Australia menyatakan bahwa antara 75% hingga 100% perawat di unit pelayanan kesehatan jiwa akut pernah mengalami kekerasan fisik maupun verbal dari pasien (Iozzino et al., 2015).). Penelitian Stevenson (2015), perawat pada pelayanan keperawatan jiwa akut memiliki kecenderungan untuk bersikap tidak asertif sekitar 57%. Persepsi perawat dalam posisi antara kewajiban pelayanan dan memikirkan keselamatan dirinya saat berhadapan dengan pasien perilaku kekerasan merupakan sebab ketidakmampuan perawat dalam menampilkan perilaku asertif.

Apa Itu Perilaku Asetrtif?

Perilaku asertif merupakan perilaku yang berada diantara rentang agresif dan perilaku pasif, perilaku tersebut merupakan perilaku yang mendukung terciptanya hubungan terapeutik antara perawat dan pasien. Perawat dituntut mampu menampilkan perilaku asertif dalam pelayanan asuhan keperawatan. Perilaku yang jujur mengungkapkan perasaannya namun tidak menyinggung perasaan pasiennya, perilaku yang mendukung dan tetap menghormati harga diri perawat namun juga tetap menghargai pendapat pasiennya, meskipun pasien dengan gangguan jiwa.

Perilaku asertif adalah perilaku yang berada tepat di titik tengah pada rentang antara perilaku pasif dan agresif, perilaku asertif merupakan sikap yang menunjukkan rasa yakin tentang diri sendiri, mampu berkomunikasi dengan secara hormat kepada orang lain, serta mampu mengkomunikasikan perasaan secara langsung kepada orang lain (Stuart, 2016).

Perilaku asertif adalah perilaku ideal dalam pencegahan dan pengelolaan pasien dengan perilaku mengancam termasuk pasien dengan perilaku kekerasan (Stuart, 2016). Perilaku asertif perawat dalam merawat pasien perilaku kekerasan dipengaruhi oleh faktor internal (keyakinan, kecerdasan emosi, sikap dan persepsi perawat) dan faktor eksternal meliputi situasi dan interaksi intrapersonal dan budaya (Pulsford et, al. 2013).

Individu yang asertif menurut Sumihardja dalam Prabowo (2000) mempunyai ciri pengucapan verbal yang jelas, spesifik dan langsung mampu mengungkapkan pikiran, perasaan dan pendapat kepada orang lain tanpa menyinggung perasaan orang itu, mampu menempatkan diri pada tingkat yang sesuai dan mampu mengontrol diri secara sehat dan wajar. Penulis mengartikan perilaku asertif sebagai individu yang dapat bertindak berdasarkan keinginannya sendiri tanpa terpengaruh dengan emosi orang lain. Selain itu perilaku asertif dapat diwujudkan individu dengan mengkomunikasikan apa yang ia inginkan secara jelas dengan menghormati haknya sendiri dan hak orang lain tanpa menyinggung perasaan orang lain.

Aspek Dalam Perilaku Asertif

Aspek-aspek perilaku asertif menurut Galassi pada Kovac (2016) ada tiga kategori yaitu:

1. Mengungkapkan perasaan positif.

a.    Memberikan pujian dan mengungkapkan penghargaan pada orang lain. Individu mempunyai hak untuk memberikan feedback positif kepada orang lain tentang aspek-aspek yang spesifik seperti perilaku, pakaian, dan lain-lain, memberikan pujian berakibat mendalam dan kuat terhadap hubungan antara dua orang. Ketika seorang di puji kecil kemungkinan mereka merasa tidak dihargai. Hal tersebut secara ilmiah telah terbukti mampu membantu hubungan yang trust antara pemberi layanan dan pengguna layanan keperawatan.

b.    Aspek meminta pertolongan termasuk di dalamnya yaitu meminta kebaikan hati dan meminta seseorang untuk mengubah perilakunya. Seperti dalam kasus saat mulai muncul tanda verbal perilaku kekerasan, maka perawat dapat menyatakan dengan jelas (tanpa nada keras) kepada pasien bahwa perilaku pasien sulit untuk diterima.

c.     Aspek mengungkapkan perasaan suka, cinta, sayang kepada orang yang disenangi. Kebanyakan orang mendengar atau mendapatkan ungkapan tulus merupakan hal yang menyenangkan dan hubungan yang berarti serta selalu memperkuat dan memperdalam hubungan antara manusia. Begitu pula orang dengan gangguan jiwa, mereka dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya mampu merasakan dan mengapresiasi perhatian dan empati dari dalam diri perawat.

d.    Aspek memulai dan terlibat percakapan. Aspek ini diindikasikan oleh frekuensi senyuman dan gerakan tubuh yang mengindikasi reaksi perilaku, respon, kata yang menginformasikan tentang pribadi, atau bertanya langsung.

2. Afirmasi diri

Afirmasi diri terdiri dari tiga poin yaitu:

a.    Mempertahankan hak

Mengekspresikan mempertahankan hak adalah relevan pada macam-macam situasi dimana hak pribadi diabaikan atau dilanggar. Termasuk ketika seorang pasien dengan gangguan jiwa melakukan bullying atau ketika perawat menerima bentuk kekerasan verbal, perawat memiliki hak untuk menyatakan bahwa hal tersebut menyinggung atau dapat menyakiti hati perawat.

b.    Menolak permintaan

Individu berhak menolak permintaan yang tidak rasional dan untuk permintaan yang walaupun rasional, tapi menyalahi aturan rumah sakit.  Dengan berkata “tidak” dapat membantu kita untuk menghindari keterlibatan pada situasi yang akan membuat penyesalan karena terlibat, mencegah terjadinya suatu keadaan dimana individu akan merasa seolah- olah telah mendapatkan keuntungan dari penyalah gunaan atau memanipulasi ke dalam sesuatu yang diperhatikan untuk dilakukan. Aspek dalam poin ini dapat digunakan dalam menghadapi pasien dengan riwayat adiksi NAPZA yang memiliki kecenderungan untuk memanipulasi sesuatu.

c.     Mengungkapkan pendapat

            Setiap individu mempunyai hak untuk mengungkapkan pendapatnya secara asertif.             Mengungkapkan pendapat pribadi termasuk di dalamnya dapat mengemukakan pendapat          yang bertentangan dengan pendapat orang lain, atau berpotensi untuk menimbulkan    perselisihan pendapat dengan orang lain, contohnya adalah mengungkapkan ketidak       sepahaman dengan orang lain namun tetap dengan kaidah sikap tubuh dan intonasi nada yang tenang dan tidak terpancing secara emosional.

3. Mengungkapkan perasaan negatif

Perilaku ini meliputi pengungkapan perasaan negatif tentang orang per-orang. Perilaku-perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah:

a.    Mengungkapkan ketidaksenangan

Ada banyak situasi dimana individu berhak jengkel atau tidak menyukai perilaku orang lain, seseorang melanggar aturan yang telah ditetapkan dalam proses terapi, perawat yang asertif juga mampu mengkomunikasikan ketidaksenangannya kepada pasien.

b.    Mengungkapkan kemarahan

Individu mempunyai tanggung jawab untuk tidak merendahkan, mempermalukan, atau memperlakukan dengan kejam kepada orang lain pada proses ini. Banyak orang telah mempelajari bahwa mereka seharusnya tidak mengekspresikannya. Mengungkapkan kemarahan dengan tidak merugikan perasaan dan harga diri pasien merupakan inti dari perilaku asertif.

Manfaat Berperilaku Asertif Bagi Perawat

Perilaku asertif perawat memiliki implikasi langsung pada kualitas pelayanan keperawatan, semakin asertif seorang perawat akan berbanding lurus dengan kepuasan pasiennya sehingga pelayanan sebuah rumah sakit dapat menjadi lebih baik (Karakas et al., 2015). Fungsi lain dari kemampuan menunjukkan perilaku asertif bagi perawat adalah untuk mencegah terjadinya perilaku kekerasan dalam bentuk kekerasan fisik dan kekerasan verbal. Sehingga keselamatan pasien dan perawat tercapai dengan baik di lingkup pelayanan kesehatan jiwa.

Berperilaku asertif juga menjamin perawat dalam berkomunikasi terapeutik dengan pasiennya. Sehingga hubungan yang saling percaya dapat terjalin dan mendukung proses perawatan pasien. Selain itu, berperilaku asertif juga menurunkan risiko perawat mengalami kebosanan dalam bekerja dan memperkecil kemungkinan terjadinya burnout. Karena dengan memiliki perilaku yang asertif, perawat akan lebih mudah dalam mengelola stress dan menginternalisasi stress tersebut dengan cara yang positif.

Kemampuan seorang perawat dalam berperilaku asertif juga merupakan salah satu cara dalam mendukung hak-hak pasien dengan gangguan jiwa. Hak tersebut tertuang dalam pelayanan jiwa berprinsip hak asasi atau Quality Rights yang digagas organisasi kesehatan dunia (WHO) yang tertera dalam hasil Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CRPD). Quality Rights merupakan salah satu cara menghormati keputusan pasien, menyampaikan saran kepada pasien tanpa memaksa dan mencegah terjadinya kekerasan dalam pelayanan kesehatan jiwa (Funk, 2018). Kemampuan dalam berperilaku asertif yang dibutuhkan dalam pelayanan dengan Quality Rights memerlukan pengelolaan emosi yang baik dari dalam diri perawat dan merupakan langkah awal dalam internal diri perawat sebelum bertindak dan berkomunikasi terapeutik.

Bagaimana Perilaku Asertif Perawat di IPCU?

Studi dilakukan oleh penulis pada 3 ruang intensif jiwa pada 3 Rumah Sakit Jiwa di Indonesia yang dilaksanakan pada bulan November 2018 hingga Januari 2019. Studi ini melibatkan 112 subjek penelitian. Penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 43% perawat mampu bersifat asertif sedangkan 57% perawat kurang mampu dalam menampilkan perilaku asertif.

Ketidakmampuan perawat dalam berperilaku asertif dapat menghambat terciptanya hubungan terapeutik perawat dan pasien, terancamnya keselamatan perawat dan pasien, ketidakpuasan perawat secara psikologis, serta tidak maksimalnya proses recovery pasien (Videbeck, 2014). Ketidakmampuan perawat menampilkan perilaku asertif dalam merawat pasien perilaku kekerasan dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain: persepsi dan stigma perawat terhadap pasien gangguan jiwa, adanya rasa ingin menunjukkan “kekuasaan” sebagai perawat, serta tidak mampunya perawat mengelola emosinya, (Stevenson, 2015).

Perilaku asertif memiliki peran dalam memberikan asuhan keperawatan jiwa pada pasien dengan perilaku kekerasan. Keterampilan berperilaku asertif akan mendorong perawat untuk tetap menghormati keputusan pasien yang dirawatnya, serta berpengaruh pada teknik komunikasi yang dipakai. Teknik komunikasi yang tidak memaksakan kehendak perawat, menghargai pendapat pasien serta tetap menghormati hak-hak pasien jiwa merupakan prinsip pelayanan jiwa yang menganut Quality Rights.

Penulis berpendapat bahwa perawat di IPCU harus memiliki perilaku yang asertif dalam merawat pasien perilaku kekerasan. Hal tersebut dikarenakan perilaku asertif memiliki dampak tidak hanya pada diri perawat sendiri tetapi juga pada pasien yang dirawatnya. Perawat yang berperilaku asertif dapat terhindar dari stress akibat menghadapi perilaku kekerasan pasien. Pasien yang dirawat dengan perilaku asertif pun akan merasa lebih dihargai oleh perawat sehingga pasien dapat lebih kooperatif dalam perawatan. Mengingat bahwa IPCU merupakan tempat pelayanan jiwa yang beriko terjadinya kekerasan baik dilakukan oleh perawat pada pasien ataupun pasien kepada perawat. Rumah sakit jiwa sebagai penyedia layanan kesehatan jiwa sudah tentu wajib mengupayakan peningkatan kemampuan perawat dalam berperilaku asertif.

Sekretariat