PEMERIKSAAN ANALISA GAS DARAH

Tanggal : 05-Nov-2018 | Dilihat : 33776 kali
Oleh: Mairina, SKM, M.Biomed

dr. Ruhaya Fitrina, SpS*

Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi

Analisa gas darah (AGD) merupakan pemeriksaan laboratorium yang sangat penting untuk mengukur kadar oksigen, karbon dioksida, dan tingkat asam basa (pH) di dalam darah.

Hal ini bertujuan untuk mengetahui status oksigenasi pasien, status keseimbangan asam basa, fungsi paru dan status metabolisme pasien.

Sampel untuk pemeriksaan analisa gas darah adalah darah arteri yang diambil dari arteri brachialis atau arteri radialis atau arteri femoralis (pergelangan tangan, lengan atau pangkal paha).

Analisa gas darah umumnya dilakukan untuk

1. Memeriksa fungsi organ paru yang menjadi tempat sel darah merah mengalirkan oksigen dan karbon dioksida dari dan ke seluruh tubuh.

2. Memeriksa kondisi organ jantung dan ginjal, serta gejala yang disebabkan oleh gangguan distribusi oksigen, karbon dioksida atau keseimbangan pH dalam darah,

3. Pada pasien penurunan kesadaran, gagal nafas, gangguan metabolik berat.

4. Tes ini juga dilakukan pada pasien yang sedang menggunakan alat bantu napas untuk memonitor efektivitasnya.

Sampel darah  dianalisa oleh alat analisa gas darah yang ada di laboratorium. Sampel darah harus dianalisis dalam waktu 10 menit dari waktu pengambilan untuk memastikan hasil tes yang akurat.

Analisa gas darah meliputi pemeriksaan PO2, PCO3, PH, HCO3, dan saturasi O2.

Nilai Normal Analisa Gas Darah

Hasil analisa gas darah dapat membantu dokter mendiagnosa berbagai penyakit atau menentukan seberapa baik perawatan yang telah diterapkan.

 Hasil akan didapat meliputi:

PH darah arteri, menunjukkan jumlah ion hidrogen dalam darah.

pH < 7,0 disebut asam,

pH > 7,0 disebut basa (alkali).

Jika pH darah menunjukkan bahwa darah lebih asam, maka hal ini terjadi akibat kadar karbon dioksida yang lebih tinggi.

Jika Sebaliknya ketika pH darah tinggi yang menunjukkan bahwa darah lebih basa, maka hal ini terjadi akibat kadar bikarbonat yang lebih tinggi.

Bikarbonat adalah bahan kimia yang membantu mencegah pH darah menjadi terlalu asam atau terlalu basa.

Tekanan parsial oksigen adalah ukuran tekanan oksigen terlarut dalam darah. Hal ini menentukan seberapa baik oksigen bisa mengalir dari paru-paru ke dalam darah.

Tekanan parsial karbon dioksida adalah ukuran tekanan karbon dioksida terlarut dalam darah. Hal ini menentukan seberapa baik karbon dioksida dapat mengalir keluar dari tubuh.

Saturasi oksigen adalah ukuran dari jumlah oksigen yang dibawa oleh hemoglobin dalam sel darah merah.

Berdasarkan unsur pengukuran ada dua jenis hasil analisa gas darah, yaitu normal dan abnormal

Hasil normal. Hasil analisa gas darah dikatakan normal jika:

o pH darah arteri: 7,38-7,42.

o Tingkat penyerapan oksigen (SaO2) : 94-100%.

o Tekanan parsial oksigen (PaO2) : 75-100 mmHg.

o Tekanan parsial karbon dioksida (PaCO2) : 38-42 mmHg.

o Bikarbonat (HCO3) : 22-28 mEq/L.

Hasil abnormal dapat menjadi indikator dari kondisi medis tertentu. Berikut ini beberapa kondisi medis yang mungkin terdeteksi melalui analisa gas darah.

pH darah Bikarbonat PaCO2 Kondisi Penyebab Umum

<7,4 Rendah Rendah Asidosis metabolik Gagal ginjal, syok, ketoasidosis diabetik.

>7,4 Tinggi Tinggi Alkalosis metabolik Muntah yang bersifat kronis, hipokalemia.

<7,4 Tinggi Tinggi Asidosis respiratorik Penyakit paru,termasuk pneumonia atau penyakit paru obstruktif kronis (COPD).

>7,4 Rendah Rendah Alkalosis respiratorik Saat nyeri atau cemas.

Indikasi Pemeriksaan Analisa Gas Darah

Pemeriksaan AGD akan memberikan hasil pengukuran yang tepat dari kadar oksigen dan karbon dioksida dalam tubuh. Hal ini dapat membantu dokter menentukan seberapa baik paru-paru dan ginjal bekerja. Biasanya dokter memerlukan tes analisa gas darah apabila menemukan gejala-gejala yang menunjukkan bahwa seorang pasien mengalamai ketidakseimbangan oksigen, karbon dioksida, atau pH darah. Gejala yang dimaksud meliputi: Sesak napas, Sulit bernafas, Kebingungan, Mual.

Perlu diingat bahwa ini merupakan gejala dari suatu penyakit yang menyebabkannya seperti pada asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Di sisi lain, apabila dokter sudah mencurigai adanya penyakit, maka pemeriksaan analisa gas darah juga akan diperlukan, seperti pada kondisi-kondisi di bawah ini:

Penyakit paru-paru, misalnya asma, PPOK, pneumonia, dan lain-lain.

Penyakit ginjal, misalnya gagal ginjal.

Penyakit metabolik, misalnya diabetes melitus atau kencing manis

Cedera kepala atau leher yang mempengaruhi pernapasan

Dengan melakukan pemeriksaan ini, selain untuk menentukan penyakit, dokter juga bisa memantau hasil perawatan yang sebelumnya diterapkan kepada pasien. Untuk tujuan ini, pemeriksaan AGD sering dipesan bersama dengan tes lain, seperti tes glukosa darah untuk memeriksa kadar gula darah dan tes darah kreatinin untuk mengevaluasi fungsi ginjal.

Indikasi umum :

1.    Abnormalitas Pertukaran Gas

       Penyakit paru akut dan kronis

       Gagal nafas akut

       Penyakit jantung

       Pemeriksaan keadaan pulmoner (rest dan exercise)

2.    Gangguan Asam Basa

       Asidosis metabolic

       Alkalosis metabolik

Indikasi dilakukan pemeriksaan Analisa gas Darah (AGD) yaitu :

1.    Pasien dengan penyakit obstruksi paru kronik

Penyakit paru obstruktif kronis yang ditandai dengan adanya hambatan aliran udara pada saluran napas yang bersifat progresif non reversible ataupun reversible parsial. Terdiri dari 2 jenis yaitu bronchitis kronis dan emfisema, tetapi bisa juga gabungan antar keduanya.

2.    Pasien dengan edema pulmo

Pulmonary edema terjadi ketika alveoli dipenuhi dengan kelebihan cairan yang merembes keluar dari pembuluh-pembuluh darah dalam paru sebagai gantinya udara. Ini dapat menyebabkan persoalan-persoalan dengan pertukaran gas (oksigen dan karbon dioksida), berakibat pada kesulitan bernapas dan pengoksigenan darah yang buruk. Adakalanya ini dapat dirujuk sebagai “air dalam paru-paru” ketika menggambarkan kondisi ini pada pasien-pasien.

Pulmonary edema dapat disebabkan oleh banyak faktor-faktor yang berbeda. Ia dapat dihubungkan pada gagal jantung, disebut cardiogenic pulmonary edema, atau dihubungkan pada sebab-sebab lain, dirujuk sebagai non cardigenik pulmonary edema.

3.    Pasien akut respiratori distress sindrom (ARDS)

ARDS terjadi sebagai akibat cedera atau trauma pada membran alveolar kapiler yang mengakibatkan kebocoran cairan ke dalam ruang interstisial alveolar dan perubahan dalam jaring-jaring kapiler, terdapat ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi yang jelas akibat-akibat kerusakan pertukaran gas dan pengalihan ekstansif darah dalam paru-paru. ARDS menyebabkan penurunan dalam pembentukan surfaktan, yang mengarah pada kolaps alveolar. Komplians paru menjadi sangat menurun atau paru-paru menjadi kaku akibatnya adalah penurunan karakteristik dalam kapasitas residual fungsional, hipoksia berat dan hipokapnia.

4.    Infark miokard

Infark miokard adalah perkembangan cepat dari nekrosis otot jantung yang disebabkan pleh ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. Klinis sangat mencemaskan karena sering berupa serangan mendadak umumnya pada pria 35-55 tahun, tanpa gejala pendahuluan.

5.    Pneumonia

Pneumonia merupakan penyakit dari paru-paru dan sistem dimana alveoli (mikroskopik udara mengisi kantong dari paru yang bertanggung jawab untuk  menyerap oksigen dari atmosfer) menjadi radang dan dengan penimbunan cairan. Pneumonia juga dapat terjadi karena bahan kimia atau kerusakan fisik dari paru-paru,atau secara tak langsung dari penyakit lain seperti kanker paru atau penggunaan alkohol.

6.    Pasien syok

Syok merupakan satu sindrom klinik yang terjadi jika sirkulasi darah arteri tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan. Perfusi jaringan yang tidak adekuat tergantung pada 3 faktor utama, yaitu curah jantung, volume darah, dan pembuluh darah. Jika salah satu dari ketiga faktor penentu ini kacau dan faktor lain tidak dapat melakukan kompensasi maka akan terjadi syok. Pada syok juga terjadi hipoperfusi jaringan yang menyebabkan gangguan nutrisi dan metabolisme sel sehingga seringkali menyebabkan kematian pada pasien.

Cara membaca hasil analisa gas darah (AGD):

Jika pH darah rendah (asidosis), maka perhatikan nilai pCO2, jika tinggi berarti respiratorik dan jika rendah berarti metabolik.

Jika pH darah tinggi (alkalosis), maka perhatikan nilai bikarbonat, jika tinggi berarti metabolik dan jika rendah berarti respiratorik.

Angka kisaran normal dan tidak normal umumnya bervariasi tergantung pada laboratorium tempat pasien menjalani analisa gas darah. Hal ini dikarenakan beberapa laboratorium menggunakan pengukuran atau metode yang berbeda dalam menganalisa sampel darah. Konsultasikan hasil tes kepada dokter untuk mendapatkan penjelasan secara detail. Dokter akan menentukan apakah pasien membutuhkan pemeriksaan lanjutan atau terapi pengobatan tertentu.

Prosedur analisa gas darah jarang menimbulkan efek samping. Efek samping yang umumnya dialami pasien adalah rasa nyeri atau iritasi di area suntik ketika proses pengambilan darah.

Efek samping lain yang mungkin dialami pasien setelah menjalani prosedur AGD, antara lain: Perdarahan atau pembengkakan di area suntikan, penggumpalan darah di bawah kulit (hematoma), pusing, pingsan, infeksi pada area kulit yang disuntik.

Penjelasan dari Hasil Tes

1 . Lihat hasil pH

normal pH darah adalah 7. 35 – 7. 45

Apabila pH < 7. 35 maka kita sebut asidotik

Apbila pH > 7. 45 maka kita sebut alkalotik

2. Lihat hasil CO2

Kadar normal CO2 dalam darah arteri adalah 35 – 45 mmHg

Apabila kadar CO2 < 35 mmHg, maka kita sebut alkalotik

Apabila kadar CO2 > 45 mmHg, maka kita sebut asidotik

3. Lihat hasil  HCO3-

Kadar normal HCO3- adalah 22 – 26 mEq/L

Apabila kadar HCO3- < 22 mEq/L, maka kita sebut asidotik

Apabila kadar HCO3- > 26 mEq/L, maka kita sebut alkalotik

4.  Perhatikan nilai CO2 dan HCO3-, mana yang cocok dengan pH

Maksudnya apabila nilai pH menunjukkan asidotik (pH < 7. 35), mana diantara CO2 dan HCO3- yang juga asidotik.

Contohnya seperti ini: apabila pH asidotik dan CO2 juga asidotik (CO2 > 45 mmHg), maka kita sebut pasien mengalami asidosis respiratorik. Sebaliknya, apabila pH asidotik dan HCO3- juga asidotik ( < 22 mEq/ L), maka kita sebut pasien mengalami asidosis metabolik. Ingat bahwa kadar CO2 dalam darah ditentukan oleh fungsi pernafasan atau respiratory dan kadar HCO3- ditentukan oleh fungsi metabolisme tubuh termasuk fungsi ginjal.

5. Perhatikan apakah mekanisme kompensasi sudah terjadi

Tubuh akan selalu melakukan mekanisme kompensasi apabila terdapat gangguan keseimbangan asam basa. Apabila pH asidotik (< 7. 35) dan CO2 juga asidotik (> 45 mmHg) maka kondisi ini kita sebut asidosis respiratorik, yang mana gangguan keseimbangan asam basa nya disebabkan oleh masalah pada fungsi paru. Dalam kondisi seperti ini, tubuh akan melakukan kompensasi untuk menyeimbangkan kadar asam basa dengan menaikkan kadar HCO3- atau menaikkan kadar basa didalam tubuh. Karena itu, apabila kita menerima hasil AGD yang menunjukkan pH asidotik dan CO2 asidotik, kita juga harus melihat apakah HCO3- sudah alkalotik (sudah mulai naik menjadi > 26 mmEq).

6. Lihat hasil PO2 dan SaO2 (Oxygen saturation) dan hitung ratio paO2 / FiO2

Nilai normal PO2 dalam darah arteri adalah 80 – 100 mmHg

Nilai normal SaO2 adalah 95 – 100 %

Apabila nilai PO2 < 80 mmHg, kita sebut hipoxemia atau kondisi kekurangan oxygen didalam tubuh dan pasien seharusnya sudah diberikan oksigen.

menghitung rasio paO2/ FiO2

Perhitungan rasio PaO2 / FiO2 dilakukan untuk mengetahui status oksigenasi pasien. Rasio paO2 / FiO2 yang normal adalah > atau =300. Apabila rasio paO2 / FiO2 < 300 maka pasien mengalami acute lung injury ( ALI) dan apabila rasio PaO2 / FiO2 < 200 maka pasien mengalami acute respiratory distress syndrome (ARDS) dan memerlukan intervensi segera.

Cara menghitung rasio paO2 / FiO2 pasien diatas adalah:

cari nilai FiO2: pasien menggunakan oksigen 3 liter per menit, jadi FiO2 adalah : 30% atau 0, 3 dari hasil AGD didapat paO2 pasien diatas adalah 82 mmHg

Kemudian masukan ke rumus berikut:

PaO2 / FiO2

82 / 0,3 = 273,3

Maka dapat disimpulkan pasien mengalami acute lung injury ( ALI) tetapi belum sampai pada distress pernafasan akut (ARDS).

Referensi

1. Durand DJ., Philips BL., Blood gases technical aspeces and interpretation. Dalam Goldsmith Jp.Karotkin EH, penyunting. Assisted ventilation of the neonate. Edisi ke5. Philadelphia : WB Saunders.1996. hal 257-71.

2. Malley WJ. Clinical blood gases, application and noninvasive alternative. Philadelpia : WB Sounders, 1990. Hal 257-78.

Artikel