PELAKSANAAN QUICK WINS PELAYANAN DARAH

Tanggal : 09-Mar-2017 | Dilihat : 18778 kali

Yogyakarta - Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan mengacu pada visi misi Presiden. Presiden mempunyai visi "Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong-royong". Upaya untuk mewujudkan visi ini dilakukan melalui 7 misi pembangunan, dimana pada misi ke-4 adalah mewujudkan kualitas hidup manusia lndonesia yang tinggi, maju dan sejahtera.

Dalam agenda pembangunan nasional 2015-2019 dibangun pula kemandirian di bidang ekonomi, berdaulat di bidang politik dan berkepribadian dalam budaya yang dikenal dengan TRISAKTI. Untuk mewujudkan TRISAKTI tersebut maka ditetapkan 9 agenda prioritas (NAWACITA), dimana pada agenda ke-5 dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia yang akan dicapai melalui tiga program, yaitu program Indonesia Pintar, program Indonesia Sehat dan program Indonesia Kerja dan Indonesia Sejahtera. Dalam program Indonesia Sehat terdapat tiga komponen yaitu mewujudkan paradigma sehat, penguatan pelayanan kesehatan dan Jaminan Kesehatan Nasional.

Program NAWACITA di bidang kesehatan salah satunya adalah memperjuangkan penurunan angka kematian ibu (AKI). Angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, angka kematian ibu sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Kematian ibu di Indonesia tetap didominasi oleh tiga penyebab utama kematian yaitu perdarahan, hipertensi dalam kehamilan (HDK) dan infeksi. 

Sebagai salah satu upaya untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan adalah melalui pemenuhan kebutuhan darah bagi ibu melahirkan dengan komplikasi perdarahan. Hal ini membutuhkan pelayanan darah yang aman dan berkualitas, serta perlu didukung dengan ketersediaan darah sesuai kebutuhan. Untuk mencapai NAWACITA tersebut, ditetapkan Quick Wins bidang kesehatan terkait dengan pelayanan darah.

Kebijakan Quick Winsprogram pelayanan darah tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015 – 2019 dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 52 Tahun 2015 tentang Rencana Strategi Kementerian Kesehatan Tahun 2015 – 2019. Dalam Perpres tersebut dinyatakan bahwa reformasi di bidang kesehatan terutama difokuskan pada peningkatan pelayanan kesehatan dasar. Peningkatan pelayanan kesehatan dasar salah satunya diwujudkan melalui pelayanan darah. Untuk meningkatkan akses pelayanan darah yang berkualitas, dilakukan program kerja sama antara Puskesmas, Unit Transfusi Darah (UTD), dan Rumah Sakit. Target jumlah Puskesmas yang telah bekerjasama melalui Dinas Kesehatan dengan UTD dan  Rumah Sakit sampai tahun 2019 berjumlah 5600 Puskesmas, demikian sambutan Direktur Pelayanan Kesehatan Primer, dr. Gita Maya Koemara Sakti, MHA dalam acara pertemuan Koordinasi dan Evaluasi pelaksanaan Quick wins pelayanan darah yang diselenggarakan di Yogyakarta pada tanggal 8 – 10 Maret 2017 dan dihadiri oleh 29 Dinas Kesehatan Propinsi se Indonesia.

Untuk melaksanakan Perpres tersebut, telah disahkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 92 Tahun 2015 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Program Kerja Sama antara Puskesmas, UTD dan RS dalam Pelayanan Darah untuk Menurunkan Angka Kematian Ibu. Tujuan dari program tersebut adalah untuk menjamin tersedianya darah yang cukup bagi ibu melahirkan dan juga meningkatkan peran serta masyarakat untuk menjadi pendonor darah sukarela.Dengan adanya program ini diharapkan kekurangan jumlah kantong darah dan jenis golongan darah langka dapat dipenuhi. 

Saat ini sebanyak 1668 Puskesmas melalui 79 Dinas Kesehatan kabupaten/kota telah menandatangani Nota Kesepahaman dengan UTD dan RumahSakit. Diharapkan target pada tahun 2017 ini minimal sebanyak 3.000 Puskesmas sebagaimana amanah dalam Perpres No. 2 Tahun 2015 tentang RPJMN dan Quick Wins Pemerintahan Jokowi Jusuf Kalla dapat tercapai. 

Dalam rangka menjamin terlaksananya program kerja sama tersebut, Kementerian Kesehatan telah melaksanakan Training of Trainers(ToT) pengelolaan program kerjasama yang telah menghasilkan 159 pelatih di 30 provinsi. Untuk selanjutnya, dinas kesehatan provinsi dapat melaksanakan pelatihan untuk pelaksana program melalui dana Dekonsentrasi.

Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga. Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga dilaksanakan secara bertahap dengan target pada akhir tahun 2019, seluruh Puskesmas di Indonesia telah dapat melaksanakannya.Untuk tahun 2017, target 2926 Puskesmas telah terintegrasi dengan Pendekatan Keluarga. 

Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga dibagi dalam tiga kelompok indikator, yaitu (1) Program gizi, kesehatan ibu dan anak; (2) Pengendalian penyakit menular dan tidak menular; (3) Perilaku dan kesehatan lingkungan.

Penyelenggaraan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga salah satunya bertujuan untuk mendukung pencapaian standar pelayanan minimal kabupaten/kota, melalui peningkatan akses dan skrining kesehatan dapat diintegrasikan dengan Quick Wins pelayanan darah. 

Pelaksanaan Program Indonesia Sehat dalam pendekatan keluarga maka tenaga kesehatan akan melakukan kunjungan rumah untuk melakukan skrining pada ibu hamil terutama ibu hamil dengan risiko tinggi. Tenaga kesehatan akan melakukan komunikasi, informasi dan edukasi terhadap ibu hamil agar melahirkan di fasilitas pelayanan kesehatan dan mengedukasi keluarga untuk menyiapkan calon donor darah. Hal tersebut juga sinergi dengan Program PHBS yang telah dilakukan di Puskesmas dimana salah satu indikatornya adalah persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, serta aktif melakukan Antenatal Care (ANC).

Dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik, Pemerintah telah mencanangkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). GERMAS adalah suatu tindakan yang sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan, dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. GERMAS dilaksanakan oleh seluruh komponen bangsa terkait baik lintas kementerian ataupun lembaga melalui (1) Peningkatan aktivitas fisik; (2) Peningkatan perilaku hidup sehat; (3) Penyediaan pangan sehat dan percepatan perbaikan gizi;  (4) Peningkatan pencegahan dan deteksi dini penyakit; (5) Peningkatan kualitas lingkungan; dan (6) Peningkatan edukasi hidup sehat.

**Berita ini disiarkan oleh Bagian Hukormas, Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayaann Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon : 021-5277734 atau alamat e-mail :humas.yankes@gmail.com ***

Pelayanan Kesehatan Primer