OLEH : NIKHO MELGA SHALIM, DR / DR. EMMY DWI SUGIARTI, SPM, MKES PMN RS MATA CICENDO

Tanggal : 30-Oct-2018 | Dilihat : 156 kali
Katarak pada Pasien Epilepsi dengan Terapi Karbamazepin dan Lamotrigin

Oleh :  Nikho Melga Shalim, dr / dr. Emmy Dwi Sugiarti, SpM, Mkes

PMN RS Mata Cicendo

Katarak adalah kekeruhan lensa kristalina mata yang dapat menyebabkan

terganggunya proses hantaran cahaya menuju retina. Keluhan pada pasien dapat

bervariasi dari yang ringan, seperti lebih merasakan silau saat melihat cahaya,

sampai yang berat berupa kebutaan. Kebutaan pada katarak merupakan kebutaan

yang bersifat dapat dihindari. Mekanisme terjadinya katarak dapat berhubungan

dengan usia, trauma, penyakit sistemik, serta penggunaan obat-obatan jangka

panjang.

Epilepsi merupakan suatu gangguan neurologis yang berupa adanya kejang

berulang akibat pelepasan impuls listrik abnormal pada otak. Penggunaan obat obatan antiepilepsi jangka panjang bertujuan untuk mencegah terjadinya kejang

berulang pada pasien. Obat-obatan antiepilepsi seperti fenitoin, valproat, serta

karbamazepin dilaporkan berperan dalam mengakibatkan terjadinya katarak.

Katarak didefinisikan sebagai kekeruhan pada lensa mata. Lensa merupakan

media refraktif yang bersifat transparan. Terganggunya transparansi lensa pada

katarak akan mengganggu proses penghantaran cahaya dan pembentukan

bayangan pada retina. Hal ini mengakibatkan terjadinya gangguan penglihatan

sampai kebutaan. Keluhan pada pasien dapat bervariasi dari yang ringan, seperti

lebih merasakan silau saat melihat cahaya, gangguan penglihatan, sampai

kebutaan. Keluhan memburuk secara perlahan.

Katarak merupakan penyakit multifaktor. Mekanisme terjadinya katarak dapat

berhubungan dengan usia, trauma, penyakit sistemik, serta penggunaan obatobatan

jangka panjang. Terdapat beragam jenis obat yang diketahui dapat memicu

terjadinya katarak. Obat yang paling sering mengakibatkan terjadinya katarak

adalah kortikosteroid, dengan persentase sebesar 4.7% dari total semua kasus

katarak. Obat-obat lainnya yang memicu katarak diantaranya adalah amiodaron,

antikolinesterase, statin, beta adrenergik antagonis, psikotropika dan obat-obatan

antiepilepsi. Walaupun belum ada penelitian kohort dalam skala besar yang

membuktikan antiepilepsi dapat menimbulkan katarak, beberapa laporan kasus

telah melaporkan akan terjadinya hal tersebut.

Hanhart et al melaporkan bahwa Karbamazepin memiliki keterkaitan dengan

perkembangan katarak. Mekanisme terjadinya katarak akibat penggunaan

Karbamazepin belum jelas. Beberapa mekanisme diduga dapat berupa efek

langsung obat pada kanal natrium lensa, jalur pengaturan akuous, dan opasitas

pungtata korteks lensa. Karbamazepin memiliki mekanisme kerja sebagai

penghambat kanal natrium. Terganggunya kanal natrium mengakibatkan pompa

Na+/K+ ATPase terganggu. Terdapat kadar natrium yang rendah (10 mmol/L) dan

kadar potasium yang tinggi (120 mmol/L) pada kondisi normal lensa. Keadaan ini

berkebalikan pada humor akuos. Ion natrium akan bergerak masuk ke dalam lensa

bersama dengan ion klorida sementara ion potasium akan keluar dari lensa

mengikuti gradien konsentrasi. Pompa Na+/K+ ATPase membantu terciptanya

keseimbangan antara kedua kation tersebut. Pompa Na+/K+ ATPase akan

mengeluarkan natrium dari dalam lensa dan memasukan potasium ke dalam lensa

melawan arah gradien konsentrasi. Terjadinya peningkatan kadar natrium pada

lensa dapat terjadi jika pompa tersebut terganggu. Hal ini akan mengakibatkan

terbentuknya gradien osmotik dan air akan tertarik masuk ke dalam lensa.

Terjadinya fluktuasi air dalam lensa mengakibatkan bertambahnya indeks refraktif

lensa dan akan memicu terjadinya katarak kortikal.

Lamotrigin merupakan obat antiepilepsi yang memiliki mekanisme seperti

Karbamazepin, yaitu menghambat kanal natrium. Satu-satunya penelitian yang

mencoba menghubungkan penggunaan LTG dengan katarak dilaporkan oleh Chu

et al pada tahun 2017. Jumlah penelitian dan literatur yang terbatas dalam

membahas efek obat antiepilepsi terhadap perkembangan katarak, membuat Chu

et al menyusun sebuah penelitian berbentuk case-control yang diambil dari Data

National Health Insurance Research di Taiwan. Hasil penelitian ini menyatakan

bahwa tidak ada peningkatan risiko perkembangan katarak pada kelompok

penggunaan LTG. Chu et al juga melaporkan bahwa hasil yang sama mereka

dapatkan pada kelompok pengguna Karbamazepin. Ukuran sampel kelompok

pengguna Karbamazepin dan LTG yang kecil pada penelitian ini merupakan

keterbatasan yang muncul sehingga Chu et al menyatakan bahwa efek

katarakogenik dari LTG dan Karbamazepin belum dapat disingkirkan.

Katarak merupakan penyakit yang tidak mengancam nyawa. Hasil keberhasilan

operasi katarak ditentukan oleh tajam penglihatan koreksi terbaik pasien serta

kualitas hidup yang didapat setelah operasi. Prognosis pada katarak secara umum

dapat ditentukan berdasarkan ada tidaknya kelainan mata lainnya selain katarak dan terdapatnya kelainan sistemik pada pasien.

Katarak dapat terjadi pada pasien epilepsi dengan penggunaan jangka panjang

Karbamazepine dan Lamotrigin sebagai obat antiepilepsi. Meskipun tidak ada

penelitian sebelumnya yang meneliti hubungan antara Lamotrigin dan

perkembangan katarak, dugaan peran Lamotrigin dalam menyebabkan kekeruhan

lensa tidak dapat disingkirkan.