MENJADI PARTNER UNTUK SI ANAK TUNGGAL

Tanggal : 12-Jul-2018 | Dilihat : 70 kali

Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soerojo Magelang

Anak tunggal seringkali memiliki posisi istimewa,  baik dari orangtua maupun lingkungan sekelilingnya.  Agar karakter anak berkembang positif, orangtua perlu menjadi teman partner dalam bertukar ide dan mengenalkan konsep memberi – menerima dalam pergaulannya.

Menjadi anak tunggal memang memiliki sisi positif  dan dan negatif. Sebagai satu- satunya buah hati, anak tunggal mendapatkan perhatian penuh dari orang tua. Kondisi ini membuat anak tunggal merasa aman, penuh kasih sayang, dan  percaya diri sehingga memudahkannya untuk mengembangkan sikap mandiri. Perhatian orangtua yang terfokus memberi kesempatan pada anak tunggal untuk menemukan dan  mengembangkan potensinya secara optimal. Biasanya, anak tunggal juga  lebih  mudah terpenuhi kebutuhan materinya karena kondisi  finansial orangtua akan dialokasikan untuk kebutuhan anak tersebut.

Disisi lain,  anak tunggal harus lebih  berusaha keras agar tidak dianggap  sama  dengan  stereotip anak  tunggal  yang   manja,  egois, atau sulit  beradaptasi dengan lingkungan. Misalnya saat ia ‘sedikit’ manja, ia sudah dianggap benar- benar  anak  manja,  padahal   jika anak lain  yang  bukan anak tunggal melakukannya, belum  tentu  akan diberi label seperti itu.

Secara psikologis, ia  butuh bantuan  stimulus  dari   lingkungan di luar  keluarga inti dalam hal bersosialisasi, terutama  dengan teman sebaya karena di rumah tidak ada saudara kandung.

Karena tidak  ada saudara kandung, anak tunggal sering kehilangan momen yang  berharga, karena mereka tidak mengalami persaingan antar saudara (sibling rivalry) yang  bisa terjadi karena kepribadian anak yang beragam. Apalagi jika mereka merasa orangtua memperlakukan mereka secara berbeda. Meski rentan pertengkaran, sibling rivalry merupakan sarana belajar menyesuaikan diri dan menyelesaikan masalah lho. Perbedaan pandangan dan pertentangan diantara mereka bisa jadi pelajaran untuk setelah mereka berusia lebih  besar dan  dewasa.

Sibling  rivalry akan bermakna positif, bila pada perselisihan dan  pertentangan tersebut bisa diselesaikan dengan baik. Anak belajar melakukan transaksi dan mencari solusi  yang  bisa diterima semua pihak (win win solution). Selain  itu, mereka juga belajar menyesuaikan diri dan memahami keinginan orang lain. Juga  memahami konsep memberi & menerima dengan anak-anak lainnya.

Namun jika si anak masih bersifat egosentris dan  belum siap berbagi dengan orang lain, Sibling  rivalry mungkin tidak  bisa teratasi dengan baik. Di sinilah perlu kepekaan orangtua agar bisa membimbing anak untuk belajar berbagi. Anak juga memiliki kesempatan menjalin hubungan yang  menyenangkan bersama kakak maupun adiknya. Pengalaman tersebut menjadi modal untuk membentuk rasa percaya diri dan keterampilan berhubungan sosial dengan teman sebaya. Itu  sangat membantu anak saat harus menyesuaikan diri dengan teman sebaya yang  baru.

Pada anak tunggal, adakalanya menjadi anak yang  kurang bisa beradaptasi pada kompleksitas situasi dan ketidaknyamanan. Sejak anak tunggal tersebut dilahirkan, orang-orang yang  dihadapinya, yang  berada di sekelilingnya adalah orang-orang dewasa. Karena orang- orang di sekelilingnya adalah orang-orang dewasa dan anak kecil satu-satunya adalah dia sendiri,  hal ini berarti satu-satunya pribadi yang paling lemah dalam lingkungan tersebut adalah anak tunggal itu. Dengan kedudukan ini berarti anak tunggal itu menduduki kedudukan yang  istimewa. Orang-orang dewasa yang  berada di sekelilingnya selalu memperlakukannya secara istimewa pula. Apalagi jika ditambah dengan sikap  orangtua yang  overprotektif.

Bila anak tunggal mengalami perlakuan tidak menyenangkan atau berada pada situasi yang kurang nyaman, mereka akan mudah merasa tertekan. Hal ini akan dimunculkan pada sikap yang apatis dan menghindar atau menunjukkan ekspresi kecewa dan sedih. Anak tunggal juga cenderung memiliki ketergantungan yang besar kepada orangtua. itu membuat anak kurang memiliki toleransi saat bergaul dengan teman sebaya. Namun mereka akan lebih mudah beradaptasi saat bergaul dengan orang yang lebih dewasa.

Sparing Partner

Anak tunggal mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk mengaktualisasikan pemikirannya, karena tanpa harus menyesuaikan diri dengan pemikiran sauadaranya yang  lain. Inilah  yang  perlu diantisipasi orangtua. Artinya, orangtua perlu menjadikan dirinya teman / sparing partner dalam bertukar ide dan  mengasah pengalaman menghadapi pemikiran yang  beragam.

Adanya  diskusi  diantara anak dan  orangtua perlu dijadikan budaya dalam keluarga. Anak tidak hanya mengikuti arahan orangtua, tetapi juga  perlu belajar mendengar dan  didengarkan. Orangtua yang  memiliki anak tunggal sebaiknya menahan diri untuk tidak  memberikan proteksi yang  berlebihan.

Jangan karena anak tunggal, orangtua hanya berusaha melindungi sedemikian rupa, sehingga lupa mengajarkan anak untuk menghadapi kompleksitas hidup.  Padahal semenjak usia 2 tahun, anak sudah bisa diajari menghadapinya dan  mengasah kemandirian (independentability). Mereka bukan hanya butuh kedekatan dan keterikatan emosi (dependentability) saja. Hal ini perlu diperhatikan, mengingat orangtua adakalanya cenderung bersikap melayani anak dan kurang mendidik anak untuk bisa melayani diri sendiri. Bila anak cenderung dilayani, akan sulit membuatnya bertahan dalam ketidaknyamanan.

Karena itu, semenjak awal anak tunggal perlu diperkenalkan dengan beragam orang, situasi, dan  karakteristik kepribadian yang akan dihadapinya. Ajaklah  bergaul dengan keluarga lain yang  memiliki anak sebaya dengan dirinya. Hal itu akan membuatnya mengasah kemampuan bersosialisasi. Bila anak tinggal dalam lingkungan yang tidak  memungkinkan bergaul dengan teman sebaya,coba sarankan untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah atau komunitas lainnya. Kegiatan tersebut akan memberikan kesempatan bergaul dengan teman sebayanya.

Anak tunggal memiliki kecenderungan self-possessed. Risikonya,  dia bersikap egosentris atau berorientasi kepada diri sendiri. Karena itu, mereka perlu diajari untuk berbagi dengan orang lain, serta menunjukkan empati kepada orang lain. Jika dilakukan secara konsisten, pengalaman tersebut akan membuat mereka menjadi lebih  fleksibel dan lentur menghadapi beragam orang.

Mengasuh anak tunggal merupakan suatu seni yang  perlu dipelajari orangtua. Pada saat mengasuh anak tunggal, orangtua perlu memposisikan dirinya sebagai partner dan  media bagi  anak untuk belajar mengenai orang lain. Orangtua tidak hanya berperan sebagai pelindung dan berfungsi memberikan kenyamanan, tetapi juga sebagai teman untuk belajar mengenal kompleksitas kehidupan.   (*Disarikan dari berbagai sumber)