MENGENAL PENYAKIT GINJAL DIABETES

Tanggal : 24-Jul-2019 | Dilihat : 262 kali

Penulis : dr. Riry Febrina Ersha, SpPD

RS Stroke Nasional Bukittinggi

Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan masalah kesehatan masyarakat global dan menjadi perhatian di dunia, karena prevalensinya meningkat dengan cepat, prognosis yang buruk dan biaya yang tinggi. Menurut hasil Global Burden of Disease tahun 2010, PGK merupakan penyebab kematian peringkat ke-27 di dunia tahun 1990 dan menjadi urutan ke-18 pada tahun 2010. Sedangkan di Indonesia, perawatan penyakit ginjal merupakan ranking kedua pembiayaan terbesar dari BPJS kesehatan setelah penyakit jantung. Data tahun 1995-1999 di Amerika Serikat menyatakan insiden PGK diperkirakan 100 kasus perjuta penduduk pertahun, dan angka ini meningkat sekitar 8% setiap tahunnya. Di Negara-negara berkembang lainnya, insiden ini diperkirakan sekitar 40-60 kasus perjuta penduduk per tahun. 

Penyakit ginjal kronis merupakan penurunan fungsi ginjal yang bersifat kronis, menetap dan progresif yang ditandai dengan adanya penururnan laju filtrasi glomerulus (LFG) kurang dari 60 ml/menit per 1,73 m2 atau adanya kelainan struktural/fungsional dengan atau tanpa penurunan LFG, setidaknya telah berlangsung selama 3 bulan. Tahap akhir dari PGK disebut End Stage Renal Disease (ESRD) atau gagal ginjal tahap akhir, dimana ginjal kehilangan fungsinya secara irreversibel untuk mempertahankan metabolisme dan homeostasis tubuh. Pada ESRD hanya dapat ditanggulangi dengan cuci darah (hemodialisis) atau cangkok/transplantasi ginjal. Beberapa penyebab penyakit ginjal kronis adalah diabetes mellitus, hipertensi, batu dan infeksi saluran kemih, tumor dan kista pada saluran kemih, penyakit lupus dll. Menurut data Indonesia Renal Registry (IRR) 2016, penyebab terbanyak PGK adalah hipertensi dan diabetes mellitus (DM) dan sekitar 40% dari pasien DM terdapat komplikasi ke ginjal.

Penyakit ginjal kronis pada pasien diabetes disebut juga dengan penyakit ginjal diabetes (PGD) atau nefropati diabetes. Tingginya gula darah membuat ginjal bekerja ekstra keras untuk membuang kelebihan kadar gula dalam darah menjadi urine. Jika kondisi ini terjadi dalam waktu lama, maka ginjal pun akan mengalami kerusakan, dan perlahan-lahan kehilangan fungsinya untuk menyaring racun. Akibatnya, racun, zat sisa dan elektrolit yang ada di dalam tubuh tidak terbuang dan menumpuk. Semakin jelek fungsi ginjal, semakin banyak racun yang tidak tersaring. Hal ini membuat tekanan darah naik, dan fungsi ginjal turun, yang bisa berujung pada ginjal tak bisa berfungsi sama sekali, atau dalam bahasa medis disebut sebagai gagal ginjal.

Penyakit ginjal diabetes bisa dicegah dan ditanggulangi dan kemungkinan untuk mendapatkan terapi yang efektif akan lebih besar jika diketahui lebih awal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada penderita diabetes, onset nefropati diabetes dapat dicegah dan progresivitas gagal ginjal dapat diperlambat. Sekitar 25-40% pasien DM akan mengalami nefropati diabetes/PGD yang berkembang melalui lima tahapan/stadium. Stadium dari PGD terdiri dari 5 stadium yaitu stadium1 sampai stadium 5. PGD pada stadium awal tidak menunjukkan tanda dan gejala, namun dapat berjalan progresif menjadi gagal ginjal tahap akhir. Pada tahap I tekanan darah biasanya normal. Tahap ini masih reversibel dan berlangsung 0-5 tahun sejak awal diagnosis DM ditegakkan. Dengan pengendalian gula darah yang ketat biasanya kelainan fungsi maupun struktur ginjal akan normal kembali. Tahap II terjadi setelah 5-10 tahun diagnosis DM ditegakkan. Progresifitas biasanya terkait dengan memburuknya kendali gula darah. Dan tahap ini dapat berlangsung lama. Tahap III terjadi 10-15 tahun setelah diagnosis DM ditegakkan. Pada keadaan ini tekanan darah sudah mulai meningkat. Progresifitas masih mungkin dicegah dengan kendali gula darah dan tekanan darah yang ketat. Pada tahap IV terjadi kebocoran protein yang nyata pada ginjal, tekanan darah sering meningkat. Ini teradi setelah 15-20 tahun diagnosis DM ditegakkan. Progresivitas ke arah gagal ginjal tahap akhir hanya dapat diperlambat dengan pengendalian gula darah, tekanan darah dan lemak darah. Tahap V ditandai dengan gejala mual, muntah, lemah dan letih, penurunan nafsu makan, sembab pada seluruh tubuh, sesak nafas, anemia, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, gangguan keseimbangan asam basa. Pada tahap akhir dari gagal ginjal kronis diperlukan tindakan khusus yaitu terapi pengganti ginjal seperti cuci darah (hemodialisis) maupun cangkok/transplantasi ginjal. Oleh karena itu pasien diabetes sebaiknya melakukan pemeriksaan seperti tekanan darah, protein (albumin) dalam urin dan pemeriksaan darah secara berkala, minimal satu tahun sekali. Namun yang sering terjadi, ketika diagnosis DM ditegakkan, sudah banyak pasien yang mengalami komplikasi kerusakan ginjal, karena sebenarnya DM sudah berlangsung bertahun-tahun sebelumnya.

Tanda atau gejala dari setiap tahap terutama adalah peningkatan gula darah, hipertensi dan peningkatan kadar lemak darah. Keseluruhan gejala tersebut merupakan faktor resiko untuk progresifitas ke tahap berikutnya sampai ke tahap akhir. Faktor yang memperburuk lainnya adalah konsumsi rokok. Terapi dasar adalah mengendalikan kadar gula darah yang ketat, tekanan darah dan lemak darah. Selain itu diperlukan upaya mengubah gaya hidup seperti pengaturan diet, berat badan bila berlebih, latihan fisik, menghentikan kebiasaan merokok dll.

Pengendalian kadar gula darah jangka panjang secara intensif (5-7 tahun) akan mencegah progresivitas dan mencegah timbulnya komplikasi pada jantung dan pembuluh darah. Pengendalian tekanan darah juga telah menunjukkan efek perlindungan yang besar, baik terhadap ginjal maupun terhadap jantung dan pembuluh darah. Yang dimaksud dengan pengendalian secara intensif adalah pencapaian kadar HbA1C <7%, kadar gula darah puasa 90-130 mg/dl, kadar gula darah 2 jam setelah makan <180 mg/dl. Target tekanan darah yang harus dicapai pada penderita DM adalah < 130/90 mmHg. Obat-obat antihipertensi yang mempunyai efek perlindungan terhadap ginjal adalah golongan ACEI dan ARB, dan ini dianjurkan pada penderita DM dengan hipertensi.

Dalam upaya mengurangi progresivitas kerusakan ginjal maka pemberian diet rendah protein sangat penting. Dalam suatu penelitian klinis selama 4 tahun pada pasien DM yang diberi diet mengandung protein 0,9 gram/kgBB/hari selama 4 tahun menurunkan risiko terjadinya penyakit ginjal tahap akhir sebanyak 76%. Pemberian protein yang dianjurkan pada pasien DM dengan komplikasi ginjal adalah 0,6-0,8 gram/kgBB/hari. Pasien DM sendiri juga cenderung akan mengalami peningkatan kadar lemak darah (dislipidemia). Keadaan ini perlu diatasi dengan diet dan obat. Bila diperlukan dislipidemia diatasi dengan pemberian obat-obat untuk menurunkan kadar lemak darah dengan target LDL kolesterol <100 mg/dl dan <70 mg/dl jika sudah ada kelainan jantung dan pembuluh darah.

Dengan pengendalian seluruh faktor risiko diatas maka juga akan terjadi penurunan komplikasi pada jantung dan pembuluh darah termasuk kejadian stroke fatal dan non fatal. Demikian pula dengan komplikasi pada mata dan ginjal juga akan menurun.

Referensi :

1. Lubis HR. Penyakit Ginjal Diabetik. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Ed 6. Jakarta: FKUI; 2014; 2102-5.

2. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Situasi Penyakit Ginjal Kronis. Jakarta; 2017.

3. Fitria N, Syukri M, Saragih J. Hubungan Diabetes Mellitus dan Non-Diabetes Mellitus Dengan Survival Rate Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di RSUDZA Banda Aceh Periode 2011-2015. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Medisia. 2017; 2(1): 12-16.

4. Suwitra K. Penyakit Ginjal Kronik. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Ed 6. Jakarta: FKUI; 2014; 2159-65.

5. Simatupang TA, Wijaya S. Nefropati pada pasien diabetes mellitus. Damianus Journal of Medicine. 2010; 9(1): 30-7.

Artikel