IDENTIFIKASI POTENSI RESIKO DIPERLUKAN UNTUK PENYUSUNAN STRATEGI PENANGANAN PELAYANAN KESEHATAN PADA MUDIK LEBARAN TAHUN 2018

Tanggal : 24-Apr-2018 | Dilihat : 840 kali

Jakarta (20/04) - Tren mudik lebaran tahun 2018 ini diramalkan akan mengalami pergeseran dikarenakan adanya perubahan durasi waktu libur lebaran serta perubahan pola mudik akibat banyaknya infrastruktur berupa jalan tol baru yang banyak diresmikan tahun ini. Adanya jalan tol yang dapat dilintasi oleh para pengguna jalan yang bahkan dapat melintas dari satu propinsi ke propinsi lainnya dalam jarak jangkauan yang sangat panjang, seperti Merak-Surabaya yang tentunya akan menarik animo masyarakat sekitar Jakarta untuk mudik ke wilayah Jawa Timur dengan memanfaatkan jalur darat tersebut. Demikian dipaparkan oleh Dirjen Pelayanan Kesehatan, dr. Bambang Wibowo, Sp.OG(K), MARS dalam Pertemuan Koordinasi Kesiapsiagaan Jajaran Kesehatandi Tingkat Pusat dalam Menghadapi Arus Mudik/Balik Hari Raya Idul Fitri 1439H/ 2018M.

Potensi-potensi baru yang muncul ini, harus dapat diidentifikasi dengan baik dan dapat dicarikan antisipasi dan solusi untuk mengatasi adanya potensi resiko tersebut. Meskipun mudik lebaran merupakan suatu agenda rutin yang terus berulang setiap tahunnya, namun tidak semestinya persiapan penanganan mudik dianggap rutinitas teratur yang dapat menggunakan strategi tahun lalu. Apabila hal ini dianggap remeh, maka tak ayal kasus mudik yang terjadi di Brexit pada tahun 2016 lalu yang menewaskan beberapa orang karena terjebak dalam kemacetan tol dapat terjadi lagi.

Dalam menghadapi persiapan pelayanan kesehatan pada saat mudik lebaran ini, tidak melulu harus terkonsentrasi pada upaya kuratif saja, namun lebih dari itu alangkah baiknya apabila upaya promotif dan preventif  justru dimaksimalkan untuk menghindari adanya korban yang memerlukan upaya lanjutan. Upaya promotif preventif berupa kampanye keselamatan, pemeriksaan kesehatan bagi pengemudi angkutan umum, penyiapan pos kesehatan dan tempat istirahat bagi pemudik, dirasa menjadi hal utama yang perlu dilakukan. 

Disamping hal tersebut, belajar dari penanganan kesiapan pelayanan kesehatan pada arus mudik tahun 2017, perlu dilakukan evaluasi. Hal-hal apa yang sekiranya dianggap masih kurang atau belum dipenuhi sekiranya dapat dipenuhi untuk tahun ini. Pada tahun-tahun sebelumnya, permasalahan tentang kurangnya ambulance, banyaknya pos kesehatan yang kosong, kurangnya integrasi antar sektor, menyebabkan penanganan tidak dapat maksimal. Ketika terjadi suatu kecelakaan misalnya, masyarakat masih mengalami kesulitan atau kekurangan info kemana harus melapor, dan ambulance yang diperlukan untuk memberikan pertolonganpun terkadang tidak ada. Hal-hal inilah yang kemudian perlu dikomunikasikan di tingkat lintas sektor, antara Kemenkes, Dinkes, Dishub, Pemda, Jasa Marga, POLRI, dan jajaran lainnya untuk penyusunan strategi bersama. **DNI/IKJ

**Berita ini disiarkan oleh Bagian Hukormas, Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan  Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon : 021-5277734 atau alamat e-mail : humas.yankes@gmail.com