STUNTING DAN DAMPAKNYA PADA PERTUMBUHAN ANAK

Tanggal : 12-Jul-2018 | Dilihat : 135 kali

Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soerojo Magelang

Banyak orang masih awam dengan istilah stunting. Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun.

Menurut WHO, di seluruh dunia, diperkirakan ada  178 juta anak  dibawah usia lima tahun pertumbuhannya terhambat karena stunting, dan Indonesia berada di urutan ke-lima jumlah anak dengan kondisi stunting.

Riskesdas  2013 menyatakan, sebanyak 37 persen anak  Indonesia mengalami stunting,  dengan sebaran yang tidak sama  antar propinsi.

Menurut UNICEF, stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 – 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO.

Selain pertumbuhan terhambat, stunting juga dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif, penurunan fungsi kekebalan tubuh, dan gangguan sistem pembakaran, serta perkembangan otak yang tidak maksimal, yang menyebabkan kemampuan mental dan belajar yang kurang, serta prestasi sekolah yang buruk. Kita mengenalnya sebagai fenomena Barker, yaitu dampak lanjutan dari stunting yang berefek pada kesehatan dan produktivitas anak.

Efek jangka panjangnya yaitu pada masa  dewasa, timbul  risiko penyakit degeneratif, seperti diabetes mellitus,  jantung koroner, hipertensi, dan obesitas.

Penyebab Stunting

Situs Adoption  Nutrition  menyebutkan, stunting berkembang dalam jangka panjang karena kombinasi dari beberapa atau semua faktor-faktor antara lain; kurang gizi kronis dalam waktu  lama, retardasi pertumbuhan intrauterine, tidak cukup protein dalam proporsi total asupan kalori, perubahan hormon yang dipicu oleh stres, sering menderita infeksi di awal kehidupan seorang anak.

Perkembangan stunting adalah proses yang lambat, kumulatif dan tidak berarti bahwa asupan makanan saat  ini tidak memadai. Kegagalan pertumbuhan mungkin  telah terjadi di masa  lalu seseorang.

Kita bisa mengenali gejala stunting dengan memperhatikan kondisi fisiknya; anak  berbadan lebih pendek untuk anak  seusianya, proporsi tubuh cenderung normal tetapi anak  tampak lebih muda/ kecil untuk usianya, berat badan rendah untuk anak seusianya, dan pertumbuhan tulang tertunda.

Dari penelitian, stunting pada anak  di bawah tiga tahun atau pada 1.000 hari pertama sulit untuk diperbaiki. Namun, ada  harapan bisa diperbaiki ketika masa  pubertas, tergantung bagaimana orangtua memaksimalkan asupan nutrisinya.

Bisa dicegah kok!

Stunting merupakan masalah kesehatan yang bisa dicegah sejak dini, mulai dari dalam kandungan hingga  masa periode emas  pertumbuhan anak. Stunting  bisa dicegah antara lain dengan :

  • Pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil. Ibu hamil harus mendapatkan makanan yang cukup gizi, suplementasi zat gizi (tablet zat besi atau Fe), dan terpantau kesehatannya. Namun, kepatuhan ibu hamil untuk meminum tablet tambah darah hanya  33%. Padahal mereka harus minimal  konsumsi 90 tablet selama kehamilan.
  • ASI eksklusif sampai umur 6 bulan dan setelah umur 6 bulan  diberi makanan pendamping ASI (MPASI) yang cukup jumlah dan kualitasnya.
  • Meningkatkan akses terhadap air bersih  dan fasilitas  sanitasi,  serta menjaga kebersihan lingkungan.
  • Sangat dianjurkan ketika  bayi berusia tiga tahun atau sudah dapat anak  makan dianjurkan mengkonsumsi 13 gram protein yang mengandung asam  amino  esensial setiap hari, yang didapat dari sumber hewani, yaitu daging sapi, ayam, ikan, telur, dan susu.
  • Rajin mengukur tinggi badan dan berat badan anak  setiap kali memeriksa kesehatan di Posyandu atau fasilitas  kesehatan lainnya  untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak  serta mendeteksi dini terjadinya gangguan pertumbuhan. ***

 Disarikan dari berbagai sumber