GIZI PADA LANJUT USIA

Tanggal : 21-Jan-2019 | Dilihat : 9452 kali
Semua manusia pasti mengalami proses menua. Menurut Constantinides, menua atau menjadi tua adalah proses menghilangkan secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri / mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Lanjut usia (lansia) merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Proses menua dapat dilihat secara fisik dengan adanya perubahan yang terjadi pada tubuh serta penurunan fungsi pada berbagai organ tubuh. Perubahan biologis ini dapat mempengaruhi status gizi pada lansia. Masalah gizi yang dialami oleh lansia antara lain :

1. Gizi lebih

Gizi lebih (overweight) pada lansia umumnya disebabkan oleh kurangnya aktivitas fisik dan kebiasaan makan yang salah pada waktu muda. Gizi lebih merupakan salah satu pencetus berbagai penyakit degenerative seperti penyakit jantung, diabetes mellitus dan hipertensi.

2. Gizi Kurang

Gizi kurang seringkali disebabkan oleh masalah-masalah sosial  ekonomi serta gangguan penyakit yang diderita. Apabila asupan zat gizi terutama energi dan protein kurang dari kebutuhan makan dapat menyebabkan berat badan kurang dari normal, terjadinya kerusakan sel-sel tubuh dan penurunan daya tahan tubuh sehingga rentan terkena infeksi.

3. Kekurangan Vitamin dan Mineral

Jika konsumsi makanan sumber vitamin dan mineral khususnya buah dan sayuran kurang maka akibatnya nafsu makan berkurang, penglihatan menurun, kulit kering, lesu dan tidak bersemangat. Pemenuhan kebutuhan gizi yang baik dapat mencegah timbulnya masalah-masalah gizi serta membantu dalam proses adaptasi atau penyesuaian diri dengan perubahan-perubahan yang dialami lansia.

Kebutuhan Zat Gizi Lansia

1. Energi

Kebutuhan energi akan menurun sejalan dengan pertambahan usia karena berkurangnya metabolism tubuh dan aktivitas fisik. Kecepatan metabolisme basal pada orang berusia lanjut menurun sekitar 15-20%. Bila asupan energy berlebih, maka sebagian energi akan disimpan dalam bentuk lemak sehingga menimbulkan obesitas. Sebaliknya, jika terlalu sedikit maka cadangan energi tubuh akan digunakan sehingga tubuh menjadi kurus.

2. Protein

Secara umum kebutuhan protein bagi lansia berkisar antara 0,8 gram hingga 1 gram per kg berat badan per hari. Bahan makanan sumber protein yang dianjurkan adalah pangan hewani rendah lemak dan kacang-kacangan.

3. Lemak

Asupan lemak dianjurkan sekitar 20-25% dari total energi. Konsumsi lemak yang terlalu tinggidapat meningkatkan resiko penyumbatan pembuluh darah (atherosclerosis). Jenis lemak yang sebaiknya dikonsumsi adalah jenis asam lemak tidak jenuh. Minyak nabati merupakan salah satu sumber asam lemak tidak jenuh.

4. Karbohidrat dan Serat

Kebutuhan karbohidrat pada lansia adalah 55-65 % dari total energi dengan minimal asupan serat 25-30 gram per hari. Lansia dianjurkan mengurangi konsumsi gula-gula sederhana dan menggantinya dengan karbohidrat kompleks yang berasal dari buah, sayuran, biji-bijian utuh dan kacang-kacangan.

5. Vitamin dan Mineral

Umumnya lansia mengalami kekurangan vitamin dan mineral terutama disebabkan kurangnya konsumsi makanan khususnya buah-buahan dan sayuran. Kekurangan mineral yang paling banyak dijumpai pada lansia adalah kalsium yang menyebabkan kerapuhan tulang serta kekurangan zat besi yang menyebabkan anemia. Sayuran dan buah-buahan hendaknya dikonsumsi secara teratur guna memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral.

6. Air

Air dalam bentuk minuman dan makanan sangat diperlukan untuk mengganti cairan yang hilang, membantu penernaan makanan dan membantu kerja ginjal. Lansia dianjurkan mengkonsumsi air minum 6-8 gelas perhari.

Perencanaan Makanan Untuk Lansia

1. Makanan harus mengandung zat gizi yang cukup dari makanan yang beraneka ragam.

2. Perhatikan porsi makan, usahakan porsi kecil dan sering, kurang lebih 3 kali makan utama dan 2-3 kali makanan selingan dengan contoh menu berikut :

Pagi : Bubur ayam; Jam 10.00 : roti; Siang : Nasi, pindang telur, perkedel tahu, sup sayuran, papaya; Jam 16.00 : Nagasari; Malam : Nasi, pepes ikan, tempe goreng, sayur bening bayam, pisang.

3. Banyak minum 6-8 gelas per hari dan kurangi garam, dengan banyak minum dapat memperlancar pengeluaran sisa makanan, dan menghindari makanan yang terlalu asin agar tidak memperberat kerja ginjal serta mencegah kemungkinan terjadinya hipertensi.

4. Batasi makanan yang manis-manis atau gula, minyak, gorengan, dan makanan yang berlemak seperti santan dan mentega.

5. Bila kesulitan mengunyah karena gigi rusak atau ompong, makanan harus lunak / lembek atau dicincang.

6. Konsumsi buah dan sayuran dianjurkan minimal 5 porsi (± 500   gram) per hari, hindari konsumsi suplemen serat.

7. Konsumsi makanan sumber kalsium seperti susu dan produk olahannya, ikan, serta kacang-kacangan untuk mencegah pengeroposan tulang.

8. Batas konsumsi kafein seperti minuman bersoda, kopi, cokelat atau teh.

Seputar Pelayanan Kesehatan