GANGGUAN CEMAS PERPISAHAN PADA ANAK

Tanggal : 15-May-2018 | Dilihat : 39 kali

dr. Ni Kadek Duti Ardi S.P.L, Sp.KJ

RSJ Soerojo Magelang

Cemas perpisahan (separation anxiety) adalah fenomena  yang umum terjadi dan merupakan bagian dari perkembangan anak yang normal. Bayi  usia kurang dari 1 tahun menunjukkan cemas perpisahan jika dipisahkan dengan ibunya atau dalam bentuk cemas terhadap orang asing (stranger anxiety). Beberapa cemas perpisahan juga normal pada anak- anak yang masuk sekolah untuk pertama kalinya. Seorang anak merupakan kepribadian yang imatur dan tergantung pada tokoh ibu, sehingga sangat rentan terhadap kecemasan yang berhubungan dengan perpisahan. Gangguan cemas perpisahan ditemukan jika secara perkembangannya tidak sesuai dan kecemasan yang berlebihan timbul dalam hal perpisahan dari tokoh perlekatan yang utama. 

Kelekatan  merupakan suatu konsep penting dalam psikiatri karena hal tersebut mencakup pola hubungan sosial dan interaksi dengan orang lain. Definisi kelekatan sering dipakai secara luas sebagai sinonim dari ikatan emosional. Konsep kelekatan yang diperkenalkan oleh John Bolwby mempunyai lebih banyak arti khusus yang lebih mengacu  pada dimensi hubungan anak dan pengasuh utama yang meliputi perlindungan / proteksi dan regulasi rasa aman. 

Pemisahan bayi dengan pengasuh utama  menyebabkan cemas perpisahan. Pemisahan ini memicu beberapa jenis respon pada bayi yang dirancang untuk membawa pengasuh kembali ke bayi. Perilaku bayi  ini  merupakan suatu  bawaan, bersifat naluriah dan membantu bayi untuk bertahan hidup. Mereka melakukan perilaku-perilaku spesifik untuk membentuk dan mengontrol perilaku para pengasuhnya, seperti: 

  • Menangis : merupakan reaksi yang berhubungan dengan rasa sakit dan membutuhkan bantuan (misalnya, segera setelah melahirkan saat bayi tidak bisa bergerak atau melakukan sesuatu, sehingga berteriak)
  • Memeluk : bayi akan melekatkan tubuhnya kepada ibunya, hal ini dapat meningkatkan kelekatan.
  • Mengisap : merupakan hal yang dapat membuat bayi merasa nyaman, karena dapat mengurangi kecemasan dan tingkat stres pada bayi
  • Mencari : dari beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa jika seorang bayi melihat ibu mereka dan ibu tidak merespon, tingkat penderitaan dan kecemasan  bayi akan meningkat (sehingga mencari dianggap sebagai undangan untuk memancing reaksi dari ibu)
  • Tersenyum : sebuah social releasers yang bersifat bawaan untuk respon sosial.

Bentuk attachment behaviour pada ibu berupa sikap ingin mempertahankan kontak dengan anak dan memperlihatkan rasa tanggap terhadap kebutuhan anak. Interaksi yang intens antara ibu dan anak biasanya dimulai saat proses pemberian ASI. Melalui proses pemberian ASI diharapkan terjadi perkembangan kelekatan dan tingkah laku lekat karena dalam proses ini terjadi kontak fisik yang disertai upaya untuk membangun hubungan psikologis antara ibu dan anak. Unsur penting dalam pembentukan attachment adalah peluang untuk mengembangkan hubungan timbal balik antara pengasuh dan anak. Interaksi anak dan pengasuh membutuhkan waktu dan pengulangan, dalam hal ini fungsi orang tua adalah memulai interaksi, bukan sekedar memberi respon terhadap kebutuhan anak. 

Pada perkembangannya anak akan mengalami beberapa tahap cemas perpisahan bila dipisahkan dari tokoh kelekatannya. Kecemasan yang timbul bersifat normal  apabila sesuai dengan perkembangan anak,  yaitu:

  • Bayi – usia 6 bulan,Bayi pada tahap ini menunjukkan rasa marah bila berpisah dengan orang tuanya.  Pada usia ini mereka telah belajar untuk mengenali suara, bau dan cara merawat orang tua. Mereka akan memberikan isyarat (seperti menangis) agar mendapat bantuan dari seseorang dan memenerima kenyamanan kembali.
  • Usia 6 – 12 bulan,Pada tahap ini bayi mungkin akan lupa untuk sementara waktu bahwa orang tua mereka tidak ada disekitarnya (bisa bertahan sepanjang hari), apalagi bila disekitar mereka ada  anak-anak yang  lebih besar untuk menghibur. Ketika orang tuanya  kembali mereka akan teringat  dan mengalami  perasaan sedih.
  • Usia 12 bulan - 2 tahun,Ini adalah tahap yang paling sulit ketika anak mengalami perpisahan dengan orang tuanya. Mereka mulai menyadari bahwa orang tua tidak selalu berada disekitar mereka. Mereka takut orang tua akan pergi meninggalkannya, apalagi ketika orang tua tidak terlihat dalam pandangan mereka. Mereka cenderung mengikuti orang tua kemanapun pergi dan mungkin menjadi marah, cemas atau agresif ketika orang tua tak terlihat.
  • Usia 3 - 5 tahun,Pada tahap ini anak-anak cenderung mengalami tingkat cemas perpisahan yang lebih rendah. Mereka mulai mampu mengungkapkan tentang perasaan mereka (terutama jika mereka merasa aman secara emosional untuk melakukannya) dan memiliki pengalaman perpisahan yang positif sebelumnya. Anak-anak pada tahap ini  mungkin mengalami kemunduran perkembangan. Mereka akan tantrum, mengisap jempol, atau berbicara seperti bayi. 

Hubungan antara orang tua dan anak  yang kurang harmonis dapat menimbulkan gangguan kelekatan, (APA 2000): 

  1. Masalah emosional orang tua.Masalah emosional orang tua dapat mempengaruhi pola asuh secara fisik dan emosional, yang mungkin berasal dari riwayat hubungan yang penuh konflik, gangguan mental, keretakan keluarga, masalah ekonomi, atau kombinasi dari berbagai faktor tersebut.
  2. Kerentanan bawaan dari anak,Kerentanan bawaan dari anak, seperti pada gangguan spektrum autistik  mempunyai kesulitan dalam pengaturan fisiologik, sensorik, atensi, motorik,  afektif dan juga dalam mempertahankan emosi yang positif  dapat mempengaruhi pola asuh orang tua. 
  3. Ketidakcocokan antara kebutuhan dan karakteristik anak dengan pola asuh orang tua (poorness of fit). Orang tua sama sekali tidak memahami apa  yang dibutuhkan oleh anak  dan tidak memberikan respon terhadap tanda yang diberikan oleh anak. Misalnya, seorang bayi yang sangat lemah dan hampir tidak memberikan reaksi (signal), kemungkinan orang tua mengalami depresi dan inatensi.

Mary Ainsworth mengidentifikasikan tiga level pola kelekatan, yaitu: 

  1. Kelekatan yang aman (secure attachment)
  2. Kelekatan yang disertai kecemasan (anxious attachment).
  3. Kelekatan yang disertai penolakan (avoidant attachment).

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder edisi keempat (DSM-IV), gangguan cemas perpisahan memerlukan adanya sekurangnya-sekurangnya tiga gejala yang berhubungan dengan kekhawatiran yang berlebihan tentang perpisahan dari tokoh perlekatan utama, berlangsung  sekurangnya empat minggu dan onset sebelum usia 18 tahun.  Ketakutan mungkin dalam bentuk penolakan sekolah,  ketakutan dan ketegangan akan perpisahan,  keluhan berulang gejala fisik tertentu seperti nyeri kepala dan nyeri perut jika akan menghadapi perpisahan dan mimpi buruk tentang masalah perpisahan. 

Perjalanan penyakit dan prognosis gangguan cemas perpisahan sangat bervariasi dan berhubungan dengan :  onset usia, lamanya gejala dan perkembangan gangguan kecemasan serta komorbid dengan depresi. Anak-anak yang mengalami gangguan tetapi mampu mempertahankan kehadirannya disekolah biasanya memiliki prognosis yang lebih baik dibandingkan  dengan  yang menolak hadir di sekolah untuk periode waktu yang panjang. 

Tatalaksana gangguan cemas perpisahan dianjurkan dengan pendekatan multifaktorial yang meliputi psikoterapi individual, pendidikan keluarga dan farmakoterapi.